Narasi
Agama

Tauhid sebagai Basis Etika Sosial


Tauhid merupakan episentrum ajaran Islam, karena sikap tauhid yang benar akan berimplikasi pada semua sikap keimanan yang lain dalam diri manusia. Nah, di bawah ini merupakan salah satu bentuk penafsiran tauhid yang diintroduksi oleh Ashghar Ali Engineer, seorang intelektual Muslim dari India. Artikel ini ditulis oleh Muhaemin, pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar. Artikel ini diadaptasi dari naskah yang sudah dipublikasikan di Jurnal Aqidah-Ta Vol. IV No. 1 Thn. 2018.


 

 

Doktrin tauhid menempati posisi sentral dalam Islam. Ia menjadi core dan jantung Islam. Doktrin ini terefleksi pada kalimat lā ilāha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kalimat ini tidak hanya melahirkan konsekuensi agama, tetapi juga menyangkut konsekuensi sosio-ekonomi. Nabi Muhammad dalam “mengampanyekan” kalimat lā ilāha illallah tidak hanya menegasikan berhala-berhala yang dianggap sebagai tuhan-tuhan masyarakat Arab pada waktu itu, tetapi juga menolak secara tegas pengakuan adanya kekuatan atau otoritas dibalik berhala-berhala tersebut serta kekuasaan yang dibentuk secara sosial dan ekonomi. Yang disebut terakhir seringkali menjadi elemen penting dalam menciptakan penindasan terutama kelompok masyarakat biasa yang tidak memiliki basis ekonomi yang kuat. Dengan kata lain, doktrin lā ilāha illallah memiliki dua dimensi yang saling terkait satu sama lain. Dimensi pertama terkait dengan aspek keagamaan atau spiritualitas, sementara dimensi kedua merupakan aspek sosio-politik. Nabi tidak hanya membebaskan masyarakat dari aspek ketuhanan yang menyesatkan, tetapi juga membebaskan manusia dari praktek sosial, politik, dan ekonomi yang hegemonik.

Orang yang berkeinginan memperbudak sesamanya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; orang yang berkeinginan menjadi tiran, berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; penguasa yang berkeinginan merendahkan rakyatnya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah. Kita menghargai manusia apa pun keadaannya dan darimana pula asalnya, asal bisa menjadi saudara bagi sesamanya. Demokrasi, sosialisme, atau keadilan sosial dalam makna yang sesungguhnya akan dan semakin berjaya karena mengajarkan persaudaraan, dan ini merupakan salah satu konsekuensi dari kalimat syahadat, tiada Tuhan selain Allah.

 

Tauhid bukan hanya mengandung prinsip-prinsip pokok dalam Islam seperti iman akan risalah dan Hari Peradilan, tetapi tauhid juga melandasi dimensi-dimensi yang lain. Tauhid adalah dasar kehidupan individual dan sosial seorang muslim. Artinya, segala kegiatan dan hubungan manusiawi, politik, ekonomi, sastra atau artistik seharusnya tegak di atas titik pusat tauhid. Tauhid memberikan satu arah tunggal, dan ia menjamin kesatuan semangat di antara para penganutnya. Dengan kata lain, tauhid tidak saja memberikan kepastian, perasaan aman, dan ketenangan batin kepada manusia, ia juga menjadikannya untuk bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dirinya dan masyarakat yang lain dengan memberikan arti dan kepada eksistensinya. Tauhid mencakup semua manifestasi keyakinan agama dalam kehidupan spiritual maupun material manusia.

Tauhid tidak hanya mengenai keesaan Allah swt sebagaimana pemahaman teologi tradisional, tetapi tauhid juga bermakna kesatuan manusia dalam berbagai hal. Tauhid membentengi manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dalam bentuk suku, agama dan ras yang bisa menciptakan manusia terkotak-kotak sehingga manusia kemudian tidak memiliki kesatuan. Dengan kata lain, ada perbedaan stratifikasi sosial yang membuat manusia berada dalam tingkatan-tingkatan kelas. Masyarakat tauhid yang sejati dapat menjamin kesatuan sempurna di antara manusia dan untuk mencapainya perlu membentuk masyarakat tanpa kelas (classless society). Keesaan Allah mengharuskan kesatuan masyarakat (unity of mankind) dengan sempurna, dan masyarakat demikian tidak mentolerir pembedaan dalam bentuk apapun, bahkan pembedaan kelas sekalipun. Tidak akan terjadi solidaritas iman yang sejati kecuali segala bentuk perbedaan suku, agama, kelas dan ras dihilangkan.

Konsep tauhid di atas sangat dekat dengan semangat al-Qur’an untuk mencapai keadilan dan kebajikan (al-‘adlu wa al-ihsān).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

QS. al-Hujurat/49:13 Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ayat di atas menggambarkan bagaimana mewujudkan keadilan dan kebajikan tidak boleh dilandasi oleh diskriminasi dalam berbagai bentuk. Selama dunia masih terbagi menjadi negara-negara berkembang di satu sisi, dan kelas yang menindas-tertindas di sisi yang lain, kesatuan manusia yang sebenarnya tidak akan mungkin tercapai. Oleh karena itu, tauhid merupakan iman kepada Allah yang tidak bisa ditawar-tawar di satu sisi, dan konsekuensinya adalah menciptakan struktur yang bebas eksploitasi di sisi lain. Sehingga tauhid yang bermakna bagi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari dua hal tadi. Dengan kata lain, tauhid yang dimaksudkan dalam teologi pembebasan tidak hanya berakar dari keesaan Tuhan tetapi juga kesatuan masyarakat.

 

Tafsir tauhid ini relevan dengan istilah tauhid sosial yang dimaknai sebagai dimensi praksis dari resiko keimanan kepada Allah Yang Esa, sekaligus sebagai teologi pemberdayaan masyarakat. Satu teologi yang tidak hanya sibuk mengurus soal- soal yang ghaib, tetapi juga memberi atensi terhadap soal-soal kongkret yang terkait dengan realitas sosial.

Doktrin tauhid yang menegaskan keesaan Allah memerlukan dimensi sosial, politik, ekonomi, iptek dan kebudayaan. Tanpa mengaitkannya dengan dimensi-dimensi tersebut, maka aspek pembebasan dari ketertindasan akan sulit ditemukan. Prinsip egaliter adalah salah satu dimensi sosial dalam doktrin tauhid yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk pemasungan dan penindasan terutama kepada kelompok masyarakat yang tidak memiliki power. Dalam konteks teologi pembebasan, tidak hanya aspek sosio-ekonomi yang menjadi tema sentralnya, tetapi juga dibicarakan psiko-sosial. Dalam Islam, dikenal konsep sabar yang seringkali disalahpahami sebagian besar umat Islam. Sabar terkadang diartikan sebagai justifikasi atas ketidakmampuan seseorang untuk melawan penindasan dengan menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan. Sabar menjadi keyakinan teologis bahwa segala penindasan yang menimpanya adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari. Interpretasi tentang sabar inilah yang melanggengkan status quo dan sangat dibenci oleh teologi pembebasan. Karena salah satu misi teologi adalah melawan pemerintahan yang memapankan status quo. Kesabaran itu sendiri dituntut pada saat berjuang untuk melakukan perubahan sosial. Ia menjadi energi positif dalam melakukan perubahan dalam rangka pembebasan bahkan ia bisa menjadi senjata psikologis yang powerful dalam menegakkan tauhid. Kesabaran inilah yang dimiliki oleh para Nabi dalam menegakkan tauhid keesaan Tuhan dan penciptaan kesatuan masyarakat yang adil. Kesabaran ini adalah “kearifan” atau kebijaksanaan yang menjadi pendorong para nabi dalam menegakkan tauhid serta menjadikannya sebagai reformis moral agung dunia. Tauhid menyempurnakan kesadaran etika dalam manusia. Melalui kearifannya, manusia secara rasional bereaksi terhadap lingkungannya dengan menciptakan tanggung jawab yang diperlukan pada dirinya untuk menghasilkan suatu tatanan sosial yang adil. Dalam bahasa yang sedikit keras, tauhid atau akidah Islam tidak hanya menjadi “tumpukan informasi ilmiah keagamaan” atau “terpenjara dalam hati”, tetapi tauhid sejatinya menjadi kekuatan yang bergulat dengan pengalaman historis.

Baca Juga:   Islam dan Demokrasi

 

Selain itu, dalam tauhid, struktur sosial yang menindas harus diubah sehingga menjadi lebih adil yang tentu saja harus dibarengi dengan perjuangan yang terkadang meminta pengorbanan. Misi inilah yang dilakukan oleh para nabi dalam membebaskan umatnya dari berbagai belenggu. Perjuangannya tidak hanya terkait dengan reformasi tauhid yang terkait dengan keesaan Tuhan tetapi juga berkaitan dengan misi pembebasan umat dari ketertindasan. Misalnya, Nabi Musa as digambarkan oleh al-Qur’an sebagai pembebas bangsa Israel yang ditindas Firaun. Bangsa Israel sebagai kelompok yang tertindas dan dilemahkan di muka bumi. Nabi Musa adalah seorang pemimpin yang berjuang untuk membebaskan kaumnya dari kelompok-kelompok mapan yang menindas. Ia membebaskan dari berbagai macam monopoli dan perbudakan. Nabi Musa secara khusus meminta kepada Firaun untuk menghentikan penindasan dan membiarkan bangsa Yahudi bebas dari berbagai macam bentuk eksploitasi. Perlawanan Nabi Musa kepada Firaun tentu meninggalkan berbagai pengorbanan bagi Nabi Musa sendiri serta bangsa Israel yang terkadang mengancam nyawa mereka. Selain Nabi Musa as, Nabi Isa as juga disamping berjuang menegakkan tauhid keesaan Tuhan, bentuk pembebasan yang dilakukan adalah menyelamatkan umatnya dari penindasan dalam bentuk perbudakan yang dilakukan oleh bangsa Romawi. Umatnya kemudian menjadi bangsa yang bebas dan terhormat.

Begitu pula Nabi Muhammad saw yang tidak hanya membebaskan manusia dari keberhalaan menuju tauhid keesaan Tuhan tetapi juga melepaskan manusia dari belenggu sosial, budaya dan ekonomi. Penindasan-penindasan tersebut yang  terjadi pada masyarakat Mekkah bertalian dengan aspek ketauhidan mereka. Nabi telah menciptakan masyarakat yang berperadaban berdasarkan kitab suci dari langit, mengajarkan prinsip-prinsip egaliter, keadilan dan kasih sayang terhadap semua. Artinya, tauhid yang bermakna keesaan Tuhan tidak bisa dilihat secara an sich, tetapi harus dilihat secara komprehensif dengan mengaitkannya dengan dimensi-dimensi lain. Inilah yang dimaksud oleh Ali Syariati sebagai nidhām al-tauhīd (sistem yang berdasarkan kesatuan).

 

Singkatnya, tauhid merupakan titik episentrum ajaran Islam. Tauhid menjadi sentra dari semua persoalan yang ada dalam Islam. Hal ini tampak bagaimana Islam pertama kali menyapa masyarakat Arab dengan misi penegakan tauhid. Ayat yang pertama kali turun sangat jelas membenarkan pernyataan tersebut. Ini juga menjadi misi prioritas Nabi Muhammad dalam rangka memperbaiki tatanan ketauhidan masyarakat Arab pada waktu itu yang masih diliputi oleh tradisi animisme dan politeisme serta menata ulang praktek ekonomi yang dikuasai oleh para kapitalis-kapitalis masyarakat Arab pada waktu itu. Dalam konteks ini, makna Allāhu Akbar tidak hanya melambangkan “supremasi” Tuhan terhadap segala sesuatu, tetapi Allāhu Akbar juga bermakna bahwa seseorang tidak boleh melakukan praktek dominasi dan hegemoni terhadap orang lain karena semua manusia sama di hadapan Allah swt. Dengan kata lain, praktek diskriminasi dalam berbagai hal melanggar makna Allāhu Akbar yang mengisyaratkan Allah sebagai Yang Maha Besar. Makna Allāhu Akbar ini tentu saja sangat revolusioner. Efek yang dilahirkan dari makna tersebut tidak hanya menegaskan kepada kesucian dan kemahabesaran Tuhan, tetapi juga berdampak kepada penguatan aturan dalam kohesi sosial bahwa tidak boleh ada kelas-kelas sosial yang melahirkan diskriminasi.

Dalam tauhid yang hakiki, seseorang harus memiliki landasan iman yang kuat. Hanya saja iman tidak sederhana sebagaimana yang dipahami pada umumnya. Iman tidak hanya sekedar mempercayai Tuhan, tetapi iman menurutnya melandasi perjuangan yang keras dalam upaya menciptakan masyarakat yang berkeadilan. Sesuai dengan namanya, iman berasal dari bahasa Arab yang merupakan derivasi dari kata āmana yang artinya selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Iman yang sebenarnya akan mengimplikasikan semua hal-hal tersebut. Dengan kata lain, orang yang beriman pasti dapat dipercaya. Tanpa dilatarbelakangi dengan iman, kata-kata dan gagasan hanya akan berarti bagi dirinya sendiri. Di sinilah peran iman yang bisa membuat kata dan pola pikir menjadi bermanfaat, bukannya menjadi struktur yang menindas. Orang yang beriman juga berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan memiliki keyakinan terhadap semua nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Disinilah peran tauhid dalam memantapkan keimanan seseorang.

 

Iman, paling tidak, memiliki tiga interpretasi yang berbeda. Pertama, iman itu dipergunakan untuk menegaskan keesaan Tuhan, meyakini adanya hari kiamat dan kenabian Muhammad saw. Kedua, iman juga bisa dijabarkan dalam konteks kehidupan masyarakat Islam, dan ketiga, iman adalah perjuangan yang berlangsung terus-menerus untuk membumikan ketauhidan dalam konteks perbuatan manusia.

Iman tidak hanya berimplikasi kepada hal-hal yang bersifat metafisik, tetapi iman juga berefek kepada konsekuensi-konsekuensi sosial kemasyarakatan. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan menunjukkan kesalehan mereka tetapi mencabut hak-hak anak yatim dan orang miskin bukanlah mukmin sejati. Untuk menjadi mukmin sejati, seseorang harus turut memberikan andil terhadap pembentukan masyarakat yang adil dengan jalan memelihara anak yatim, orang-orang yang tertindas, dan orang- orang yang terpinggirkan. Dalam tradisi teologi Islam pada abad pertengahan, para teolog menekankan pentingnya pemberian sedekah, tetapi dalam masyarakat modern, teologi pembebasan harus menginterpretasikannya dalam model pemberian sarana untuk membentuk suatu struktur sosial yang demokratik, dengan menekankan distribusi yang sama dari semua sumber yang tersedia.

Baca Juga:   Kesalehan Transformatif

Rekonstruksi makna iman yang menjadi landasan tauhid di atas juga berimplikasi kepada redefinisi makna kāfir sebagai antonim dari iman. Kāfir tidak hanya bermakna ketidakpercayaan religius, seperti pemahaman teologi tradisional, tetapi secara tidak langsung juga menyatakan perlawanan dan penentangan terhadap terhadap sistem dan masyarakat yang adil dan egalitarian serta menjadi bagian dari bentuk penindasan dan eksploitasi. Jadi, orang- orang kāfir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan secara aktif menentang usaha-usaha yang jujur untuk membentuk kembali masyarakat, penghapusan penumpukan kekayaan, penindasan, eksploitasi dan segala bentuk ketidakdilan. Meskipun seseorang secara formal beriman kepada Allah, tetapi tetap menjalani kehidupan materialistik dan hedonistik dan membiarkan orang-orang lain di sekitarnya hidup dalam ketertindasan maka orang tersebut masih memiliki unsur-unsur kekafiran.

 

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ –  فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ – وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ – فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ – الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ – الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ – وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

QS al-Mā’un/107: 1-7  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan pada orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

 

Ayat-ayat di atas mengisyaratkan bagaimana agama yang di dalamnya ada keimanan harus memiliki perhatian yang besar terhadap realitas sosial di sekitarnya. Barometer keimanan seseorang diukur sejauh mana kepeduliannya terhadap persoalan sosial kemasyarakatannya. Semakin tinggi tingkat kepedulian seseorang terhadap sesamanya, maka kualitas keimanannya juga semakin tinggi. Hal ini berarti bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kehidupan dan kenikmatan personal, tetapi sangat menekankan pentingnya menjaga kehidupan sosial dengan cara membebaskan mereka dari berbagai bentuk penindasan terutama belenggu ekonomi. Ayat- ayat di atas adalah salah satu contoh bagaimana al-Qur’an sangat mendukung teologi pembebasan, bahkan inspirasi teologi pembebasan itu sendiri berasal dari semangat al- Qur’an. Membantu orang-orang miskin serta menjaga anak-anak yatim adalah  salah satu bentuk pembebasan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang beriman. Orang-orang yang tidak berjuang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan lemah tidak bisa dikategorikan sebagai orang beriman secara utuh, meskipun sudah beriman secara verbal.

 

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

QS al-Ankabūt/29: 2: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

 

Ayat di atas menerangkan bahwa iman seseorang itu harus diuji dengan perjuangan atau jihad. Meskipun jihad secara literal bermakna berjuang, dalam konteks saat ini fokus perjuangan ialah melawan eksploitasi, korupsi, dan penindasan dalam berbagai bentuknya. Dengan kata lain, teologi pembebasan tidak menyukai sikap diam dan apatis terhadap berbagai bentuk penindasan. Semua bentuk penindasan tersebut harus dilawan dengan gerakan jihad atau perjuangan. Jihad berarti melawan penindasan, despotisme dan ketidakadilan demi kepentingan yang tertindas, terlepas dari agama dan strata sosialnya. Namun, perjuangan atas keadilan hanyalah salah satu aspek jihad, karena seperti berbagai konsep Islam lainnya, jihad harus dilakukan pada berbagai level. Jihad bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu lewat hati, lidah dan tangan. Jihad hati atau perjuangan melawan kelemahan dan kejahatan batinnya sendiri sering disebut sebagai jihad terbesar sebagaimana nabi menyebutnya setelah pulang dari Perang Badar. Sementara jihad lidah dan tangan membutuhkan pemahaman dan kesabaran.

 

Potensi untuk berjihad mutlak dimiliki oleh setiap manusia. Hal tersebut terkandung pada makna beriman kepada yang gaib. Keimanan tersebut perlu ditafsirkan dengan semangat pembebasan. Keimanan kepada yang ghaib berarti meyakini bahwa ada suatu potensi yang tak terbatas yang belum diaktualisasikan dan tidak terlihat. Potensi ini tersimpan di alam semesta, yaitu di dalam dan di luar diri manusia. Oleh karena itu, manusia harus yakin bahwa dirinya mampu mengembangkan potensi-potensi dan kreativitas yang terletak dalam dirinya dan tersembunyi dari pandangan umum.

Interpretasi di atas terkait iman kepada yang gaib mengilustrasikan bagaimana teologi pembebasan menghendaki adanya perjuangan atau gerakan dari orang-orang beriman. Teologi-teologi yang berorientasi pada perjuangan (struggle oriented), pesimisme dan keputusasaan dianggap sebagai dosa. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang yang beriman agar berkeyakinan, berjuang melawan ketidakdilan dan agar tidak berputus asa serta bersikap pasrah. Poin ini menjadi entitas penting dalam tauhid. Dalam konteks ini, iman yang mutlak harus mendorong potensi manusia yang diwujudkan melalui berbagai perubahan atau perjuangan dalam kerangka ekonomi dan sosial. Keyakinan bahwa manusia memiliki potensi menjadi pijakan dasar bagi manusia untuk melakukan gerakan perubahan sehingga tidak menciptakan kegersangan iman. Kegersangan inilah yang menjadi biang kerok dari kemusnahan iman yang berimplikasi kepada terciptanya manusia-manusia pesimis dan cepat berputus asa. Memang di dalam Islam terkandung makna kepasrahan, tetapi bukan berarti pada penghambaan pada kepasrahan, bukan pula fatalisme dan keterbelengguan, juga bukan diam dan mengekor saja. Islam memiliki makna kebebasan dan disiplin, pembangunan dan pembebasan, gerakan dan kreativitas. Bahkan tujuan paripurna diturunkannya wahyu dalam Islam adalah pembebasan manusia tertindas untuk membangun dunia ini dalam perspektif yang baru.

 

Kesimpulan

Uraian di atas menggambarkan makna tauhid yang awalnya hanya bersifat ritual-normatif menuju kepada lahirnya gerakan. Tauhid tidak hanya membicarakan tentang Tuhan, serta aspek-aspek yang berhubungan dengan-Nya, tetapi tauhid mampu melahirkan gerakan kemanusiaan. Keberpihakan kepada kelompok tertindas menjadikan makna tauhid sebagai konsep yang imanen dan inheren dalam kehidupan manusia. Tauhid yang kuat menjadi benteng manusia untuk menangkal dan melawan berbagai bentuk penindasan dan eksploitasi. Tauhid yang di dalamnya ada iman juga melahirkan gerakan aktif dari orang-orang beriman yang tidak hanya berhenti pada tataran teoretis atau verbal, tetapi iman telah menggiring orang-orang beriman untuk menjadi aktif dalam berbagai bentuk perubahan terutama membela orang-orang yang tertindas sehingga mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Iman tidak sekedar membenarkan, atau mengetahui sesuatu tetapi yang paling penting adalah konsekuensi dari iman itu adalah amal atau perbuatan. Dari perbuatan inilah, gerakan- gerakan perubahan dan keberpihakan kepada kelompok-kelompok tertindas lahir dan membuat iman menjadi sangat humanis. Inilah yang dimaksud oleh penulis sebagai tauhid humanis yang merupakan inti dari ajaran Islam yang tidak hanya memperbincangkan aspek-aspek keimanan kepada Tuhan tetapi intinya adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan iman kepada Tuhan serta membebaskan manusia dari berbagai belenggu sosial, politik, dan budaya. Gerakan- gerakan tersebut berakhir pada terciptanya keadilan yang bisa dirasakan oleh manusia.

Baca Juga:   Islam dan Isu-Isu Kesehatan

 

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin. Falsafah Kalam di Era Post-modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 1997.

Ahmed, Hilal. “Asghar Ali Engineer 1939-2013”, Economic and Political Weekly, June 2013, Vol XLVIII No 22.

Ali, Zeenat Shaukat. “The Passing Away of a Legend: A Tribute to Dr Asghar Ali Engineer” Interreligious Insight, Vol VII, Juli, 2013.

Amaladoss, Michael. Life in freedom: Liberation Theologies from Asia. diterjemahkan oleh A Widyamartala dan Cinderalas, Teologi Pembebasan Asia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Arkoun, Muhammad. “Reading the Religious Text: A New Approach”, http://www.Islam21/keyissues/modernist.

Banna, Gamal al- Relasi Agama dan Negara. Cet.I; Jakarta: Tim Mataair Publishing, 2006.

Bubalo, Greg Fealy, Anthony. Joining the Caravan?: The Middle East, Islamism and Indonesia, diterjemahkan oleh Akh Muzakki, Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia. Cet.I; Bandung: Mizan, 2007.

Effendi, Johan. “Memikirkan Kembali Asumsi Pemikiran Kita” Kata Pengantar buku Asghar Ali Engineer, Islam and Its Relevance to Our Age, diterjemahkan oleh Hairus Salim HS dan Imam Baehaqy, Islam dan Pembebasan. Yogyakarta: LKiS, 1993.

Engineer, Asghar Ali. The Bohras. Delhi: Vikas Publishing, 1980.

————————–.       “Reconstruction               of           Islamic  Thought” http://andromeda.rutgers.edu/~rtavakol/engineer/recon.htm13. diakses pada tanggal 13 Maret 2015.

————————–. Islam and Liberation Theology : Essays on Liberative Elements in Islam. New Delhi: Sterling Publishers Limited, 1990.

————————–. “A New Approach of Islam Needed” http://andromeda.rutgers.edu /~rtavakol/engineer/recon.htm13 (diakses pada tanggal 07 April 2015).

————————–. “Islam and Human Rights” dalam Azhar Arsyad (et al), Islam and Global Peace. Cet. I; Yogyakarta: Madyan Press, 2002.

————————–.       “Reconstruction of Islamic  Thought” http://andromeda.rutgers.edu/~rtavakol/engineer/recon.htm13 (diakses pada tanggal 06 April 2015.

————————-. “Shariah, Fatwas and Women’s Rights”, Centre for Study of Society and Secularism. Mumbai. h.2

————————-. “The Concept of Compassion in Islam”, GRV, July-October, Vol.2/I-II.

————————-. “Understanding the Quran”, Tribune Business News. Washington. 10 Februari, 2012.

————————-.        “What   I              Believe”               http://andromeda.rutgers.edu/~rtavakol/engineer/recon.htm13. diakses pada tanggal 14 Maret 2015.

————————-. Islam and Its Relevance to Our Age. diterj.  Oleh Hairus Salim  HS dan Imam Baehaqy, Islam dan Pembebasan. Yogyakarta: LKiS, 1993.

————————-. On Developing Theology of Peace in Islam, diterjemahkan oleh Rizqon Hamami. Liberalisasi Teologi Islam: Membangun Teologi Damai dalam Islam. Cet. I; Yogyakarta: Alenia, 2004.

————————-. The Origin and Development of Islam: A Essay on its Socio- Economic Growth. Bombay: Orient Longman Ltd, 1980.

Gutierrez, Gustavo. A Theology of Liberation; History, Politics and Salvation. terj. C. India dan John Eagleeson 1971. Maryknoll: Orbis Books, 1973.

——————–. Dirasah Islamiah, diterjemahkan oleh Miftah Faqih, Islamologi I: Dari Teologi Statis ke Anarkis. Yogyakarta: LKiS, ;Cet. II, 2004.

Latif, Muhaemin. Islamologi Terapan: Membongkar Bangunan Pemikiran Islam ala Mohammed Arkoun. Cet. I: Makassar: Alauddin University Press, 2012.

———————. Muhammad Shahrur dan Dekonstruksi Pembacaan Terhadap al- Qur’an. Cet. I;Makassar: Alauddin University Press, 2011.

Maarif, Syafii. Islam: Kekuatan Doktrin dan Kegamangan Umat. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Malaky, Ekky. Dari Sayyid Qutub, Ali Syariati, The lord of the Rings hingga ke Bollywood. Cet. I: Jakarta; Lentera, 2004.

Muslim, Imam. Shahih Muslim, dalam program Lidwa Hadis, Lidwa Pusaka Software, t.th, hadis no. 2862.

Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Cet. V: Jakarta: UI Press, 2009.

Nuryatno, M Agus. “Examining Asghar Ali Engineer’s Qur’anic Interpretation of Women in Islam”, al-Jamiah Vol.45, No. 2. 2007.

————————-. “Asghar Ali Engineer’s Views on Liberation Theology and Womens Issues in Islam” Theses unpublished, Canada: Mc.Gill Montreal, 2000.

————————-. “Examining Asghar Ali Engineer’s Quranic Interpretation of Woman in Islam”, Jurnal al-Jamiah, Vol 45, No. 2, 2007 M/1428 H.

Quthub, Sayyid. Islam: the Misunderstood Religion. diterj. oleh Fungky Kusnaedy Timur, Islam Agama Pembebas. Yogyakarta: Mitra Pustaka; Cet. I, 2001.

Sachedina, Abdul Azis. “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran” dalam John L. Esposito (ed.), Dinamika Kebangunan Islam: Watak, Proses dan Tantangan, terjemahan Bakri Siregar, Voices of Resurgent Islam. Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1987.

Sardar, Ziauddin. Jihad Intelektual: Merumuskan Parameter-Parameter Sains Islam, terj. AE Priyono. Cet.I; Surabaya: Risalah Gusti, 1998.

Shahrur, Muhammad. al-Kitab wa al-Qur’an; Qiraah Muashirah. Damaskus: al-Ahali al-Thibaah, 1990.

Sho’ub, Hasan. Al-Islam wa Tahaddiyatul ‘Ashri, terj. Muhammad Luqman Hakim,

Islam dan Revolusi Pemikiran. Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1997.

Taib, Mohammad Imran Mohamed. “Religion, Liberation and Reforms: An Introduction to the Key Thoughts of Asghar Ali Engineer” Indian Journal of Secularism . Vol 10. No 3. Oct-Des 2006.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?