Narasi
Agama

Tauhid sebagai Basis Etika Sosial

Doktrin tauhid menempati posisi sentral dalam Islam. Ia menjadi core dan jantung Islam. Doktrin ini terefleksi pada kalimat lā ilāha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kalimat ini tidak hanya melahirkan konsekuensi agama, tetapi juga menyangkut konsekuensi sosio-ekonomi.

Nabi Muhammad dalam mengampanyekan kalimat lā ilāha illallah tidak hanya menegasikan berhala-berhala yang dianggap sebagai tuhan-tuhan masyarakat Arab jahilyah pada waktu itu, tetapi juga menolak secara tegas adanya penindasan terhadap masyarakat yang lemah. Dengan demikian, Nabi tidak hanya membebaskan manusia dari aspek ketuhanan yang menyesatkan, tetapi juga membebaskan manusia dari praktek sosial, politik, dan ekonomi yang menindas.

Doktrin tauhid ini memiliki 2 dimensi sekaligus. Pertama, dimensi vertikal, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah; dan Kedua, dimensi horisontal, semua manusia diciptakan sederajat, tidak boleh ada penindasan di antara mereka. Orang yang berkeinginan memperbudak sesamanya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; orang yang berkeinginan menjadi tiran, berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; penguasa yang berkeinginan merendahkan rakyatnya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah. Kita menghargai manusia apa pun keadaannya dan darimana pula asalnya, asal bisa menjadi saudara bagi sesamanya.

 

Nilai Dasar Tauhid

Tauhid adalah konsep utama dalam aqidah Islam: menyatakan keesaan Allah. Islam mengajarkan bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, tidak ada hal lain yang menjadi sekutu bagi-Nya atau serupa dengan-Nya. Hanya Allah-lah yang berhak disembah (QS. An-Nahl/16: 36; QS. Al-Taubah/9: 31; QS. Al-Zumar/39: 2-3; QS. Al-Bayyinah/98: 5).

Berdasarkan teks suci al-Quran, pengertian tauhid ada tiga hal: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa sifat.

 

A. Tauhid Rububiyah

Dalam hal ini, tauhid merupakan keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta (QS. Al-Zumar/39: 62).

 

B. Tauhid Uluhiyah

Dalam hal ini, tauhid merupakan keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak disembah. Tidak ada hal lain yang berhak disembah selain Allah (QS. Ali Imran/03: 18).

 

C. Tauhid Asma wa Sifat

Dalam hal ini, tauhid merupakan keyakinan bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ al-husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam al-Quran (QS. Al-A’raf/07: 180)

 

Lawan kata dari tauhid ialah syirik: menyekutukan Allah. Artinya, perbuatan atau sikap yang menganggap bahwa ada sesuatu yang menyerupai, atau menyamai, atau menandingi Allah. Perbuatan syirik merupakan sebuah kedzaliman (QS. Luqman/31: 13), dosanya tidak diampuni (QS. An-Nisa/04: 48), menghapuskan pahala (QS. Al-An’am/06: 88), dan balasannya ialah neraka (QS. Al-Maidah/05: 72).

 

Spektrum Horizontal Ketauhidan

Meskipun tauhid merupakan sikap keimanan secara vertikal (beriman kepada Allah), tauhid memiliki spektrum horisontal: memiliki konsekuensi luas dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam. Sikap ketauhidan yang sejati seharusnya berimbas pada sikap sosial.

Baca Juga:   Iman dan Lingkungan Hidup

 

A. Persamaan Derajat Manusia

Ummat manusia telah berkembang menjadi berbangsa-bangsa, bersuku-suku, terdiri atas berbagai macam ras. Hal itu merupakan fitrah kehidupan. Ada bangsa berkulit hitam, berkulit putih, berkulit kuning, berkulit coklat, dan lain-lain. Ada banyak bahasa dan budaya yang berkembang dari bangsa-bangsa dan suku-suku itu.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurat/49: 13)

 

Ayat di atas menegaskan bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama. Hal itu merupakan ketentuan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tidak ada satu ras pun yang lebih mulia daripada yang lain. Tidak boleh ada satu bangsa pun yang mengklaim diri lebih hebat dari bangsa lain. Dalam persamaan derajat itu, yang dihargai oleh Allah ialah derajat ketaqwaan, karena taqwa akan menebarkan kebaikan bagi sesama manusia.

Akan tetapi, dalam sejarah manusia, keragaman suku dan bangsa ini sering dimanipulasi oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengambil keuntungan dan kekuasaan. Mereka mengkonstruksi pikiran dan klaim bahwa kelompok mereka lebih superior daripada yang lain, sehingga menimbulkan perbudakan. Dalam skala yang lebih besar, pikiran superioritas ini akhirnya menimbulkan banyak ideologi yang menindas dan diskriminatif, seperti kolonialisme, feodalisme, fasisme, dan lain-lain.

Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat yang merasa inferior atau rendah diri. Mereka menderita penyakit mental yang akut: merasa tak berdaya, sehingga akhirnya menjadi budak bagi orang lain, atau menjadi penjilat orang-orang yang berkuasa.

Tauhid meluruskan penyelewengan sejarah ummat manusia: seharusnya derajat setiap manusia sama, tidak memandang gender, ras, bangsa, warna kulit, suku, status sosial, dan lain-lain. Tauhid meniscayakan keyakinan adanya kesatuan ummat manusia (unity of mankind).

Jika ada seseorang atau suatu bangsa yang merasa superior daripada yang lain, maka hal itu merupakan sikap anti-tauhid dan merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Oleh karenanya, sikap seperti itu harus dihentikan dan dilawan. Orang yang bertauhid akan melawan semua bentuk penindasan.

Jika ada seseorang atau suatu bangsa yang merasa inferior daripada yang lain, maka hal itu juga merupakan sikap anti-tauhid dan bagian dari kesyirikan. Oleh karena, penyakit mental seperti ini harus disembuhkan. Tauhid merupakan salah satu jalan untuk meluruskan penyakit mental ini.

Tauhid melahirkan prinsip sesetaraan, dimana keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Allah dan semua manusia memiliki derajat yang sama. Pandangan ini pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama makhluk Allah. Tidak ada manusia nomor satu dan manusia nomor dua. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat.

Baca Juga:   Teologi Pangan

Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuhan bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin. Oleh karena mereka bukan tuhan, maka rakyat tidak boleh mempertuhankan rajanya dan pemimpinnya, bawahan tidak boleh mempertuhankan atasannya dan istri tidak boleh mempertuhankan suaminya atau sebaliknya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Allah merupakan pengingkaran terhadap tauhid.

B. Amal Saleh

Tauhid merupakan bagian terpenting dari iman. Di dalam al-Qur’an, kata iman seringkali dirangkai dengan amal saleh.[1] Hal ini merupakan pesan yang jelas dari Allah bahwa iman harus menghasilkan spektrum yang luas bagi kemanusiaan. Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi.

 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi/18: 110)

 

Dalam kehidupan di dunia, ada banyak ketimpangan yang terjadi: ketimpangan sosial, politik, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Akibat dari ketimpangan itu, ada banyak orang yang tercampakkan dan tertinggal. Ketimpangan ini merupakan celah munculnya penindasan.

Sejalan dengan mandat kekhalifahan di muka bumi, orang-orang yang bertauhid harus mengambil peran untuk menjembatani ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tauhid harus ditransformasikan dalam dimensi sosial, sehingga menghasilkan dan menebarkan kebaikan pada banyak orang. Orang-orang yang berilmu harus mengajarkan ilmunya kepada orang lain untuk menjembatani ketimpangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang-orang kaya harus memperbanyak sedekah yang terorganisasi untuk mengurangi kemiskinan. Orang-orang yang berkuasa harus memberdayakan kelompok-kelompok yang lemah dan tak berdaya. Ada banyak sekali ladang amal dalam kehidupan ini sebagai resonansi ketauhidan dalam kehidupan sosial.

Orang yang bertauhid akan melakukan amal saleh ini dengan sungguh-sungguh, tidak serampangan, karena mereka yakin bahwa Allah mengawasi mereka. Itulah ihsan, yaitu perbuatan baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh karena Allah menyaksikan setiap perbuatan mereka. Mereka akan melakukan hal yang terbaik dalam amal saleh sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Ihsan ini merupakan salah satu anak tangga menuju taqwa, sebuah destinasi paling tinggi dalam semua pencapaian ibadah kepada Allah. Taqwa inilah yang membedakan derajat manusia dari manusia lainnya, karena nilai ketaqwaan ini mampu menebarkan resonansi nilai-nilai ketauhidan.

Ummat manusia telah berkembang menjadi berbangsa-bangsa, bersuku-suku, terdiri atas berbagai macam ras. Hal itu merupakan fitrah kehidupan. Ada bangsa berkulit hitam, berkulit putih, berkulit kuning, berkulit coklat, dan lain-lain. Ada banyak bahasa dan budaya yang berkembang dari bangsa-bangsa dan suku-suku itu.

Baca Juga:   Iman, Islam, dan Kerja

C. Keadilan

Keadilan merupakan salah satu resonansi nilai ketauhidan dalam kehidupan sosial. Al-Quran secara jelas menegaskan bahwa keadilan merupakan salah satu anak tangga yang sangat penting menuju taqwa, puncak pencapaian ibadah kepada Allah.

 

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Berlaku adillah, karena (adil itu) lebih dekat kepada takwa (QS. al-Maidah/5: 8)

 

Di dalam al-Quran ditegaskan bahwa perbuatan ihsan yang merupakan puncak terbaik dalam amal saleh setara dengan perbuatan adil.

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. Al-Nahl/16: 90).

 

Pada tataran sosial, kekuatan tauhid pada diri Rasulullah membuatnya berani membela mereka yang direndahkan, teraniaya dan terlemahkan secara struktural dan sistemik (mustadh’afîn), seperti kaum perempuan, budak, anak-anak, dan kelompok rentan lain yang diperlakukan secara zalim oleh para penguasa dan pembesar masyarakat yang menutupi kezalimannya di balik nama Tuhan.

Dengan demikian, tampak bahwa tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, rasa takut, penindasan individu atau kelompok yang lebih kuat, dan sebagainya. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw.


[1] Rangkaian iman dan amal saleh seringkali disebut di dalam al-Quran, misalnya pada surah: al-Baqarah: 62 & 277; ; al-Qashash: 80; ; al-Rum: 45 dan al-Syura: 26; ; al-Nahl: 97 dan al-`Ankabut: 7; ; Ali `Imran: 57 dan al-Nisa’: 173; ; al-Kahf: 30; ; Fushshilat: 8, al-Insyiqaq: 25, dan al-Tin: 6; ; al-Anbiya’: 94; ; Thaha: 112; ; al-Kahf: 88; ; al-Ma’idah: 9; ; al-Isra’: 9 dan Fathir: 7; ; al-Kahf: 2; ; Yunus: 4; ; Thaha: 82, al-Ma’idah: 9, al-Hajj: 50, Saba’: 4, Fathir: 7, dan al-Fath: 29; ; al-Taghabun: 9, al-`Ankabut: 7, dan Muhammad: 2; ; al-Furqan: 70; ; al-Nisa’: 124; ; al-Baqarah: 25, al-Nisa’: 57 & 122, Ibrahim: 23, al-Hajj: 14 & 23, al-Taghabun: 9, Muhammad: 12, al-Thalaq: 11, dan al-Buruj: 11; ; al-Baqarah: 82; ; Maryam: 60-61; ; Yunus: 9, al-Hajj: 56, dan Luqman: 8; ; al-Kahf: 107 dan al-Mu’minun: 1-11; ; al-Sajdah: 19; ; al-`Ankabut: 58; ; Saba’: 37; ; al-Rum: 15 dan al-Syu’ara: 22; ; al-Jatsiyah: 30; ; al-Nisa’: 124 dan Maryam: 60; ; al-Mu’min: 40; ; al-Ra`d: 29; ; al-Nahl: 97; ; Thaha: 75; ; al-Hajj: 50 dan Saba’: 4; ; al-Thalaq: 11; ; Muhammad: 2; ; Maryam: 96; ; al-Baqarah: 62 & 277, dan al-Ma’idah: 69; ; al-Nur: 55; ; Shad: 24; ; Maryam: 59-60; ; al-Furqan: 69-70; ; al-Syu’ara 226-227; ; Shad: 24; ; al-Insyiqaq: 22-25; ; al-Ankabut: 9; ; al-Qashash: 67


Tema 2: Tauhid sebagai Basis Etika Sosial
Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?