Narasi
Berita

Sejarah Sains Kuno

Sains adalah sekumpulan pengetahuan empiris, teoretis, dan pengetahuan praktis tentang dunia alam, yang dihasilkan oleh para ilmuwan yang menekankan pengamatan, penjelasan, dan prediksi dari fenomena di dunia nyata. Akan tetapi, historiografi dari sains sendiri sering kali mengacu pada metode historis dari sejarah intelektual dan sejarah sosial (hal ini akan kita bahas dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya).

 

Istilah sains sering digunakan untuk menyebut ilmu pengetahuan secara umum. Mungkin anggapan ini merujuk pada asal mula kata sains (dalam bahasa Inggris: science) yang diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Padahal, sains sendiri sebenarnya lebih pas digunakan untuk menyebut ilmu pengetahuan alam, karena sejarah sains memang dikonstruksikan dari filsafat empirisme (filsafat alam). Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang dikonstruksikan dari kerangka filosofis yang berbeda: misalnya filsafat idealisme, filsafat pragmatisme, filsafat filsafat etika, dan lain-lain. Hal ini juga berbeda dengan ilmu matematika yang dikonstruksi dari filsafat rasionalisme.

 

Di samping itu, meskipun sains merupakan istilah modern, bukan berarti pada zaman kuno tidak ada sains. Upaya-upaya sains sudah dilakukan manusia sejak terjadinya perubahan pola hidup dari food gathering (masa berburu dan meramu untuk mengumpulkan makanan) menjadi budidaya tanaman dan ternak (domestikasi). Tentunya, dalam upaya domestikasi tanaman dan ternak itu melibatkan seperangkat pengetahuan dan teknologi (meskipun masih sangat sederhana). Selanjutnya, dinamika pengetahuan dan teknologi itu selalu berkembang seiring dengan kebudayaan manusia.

 

Sains Awal

Manusia pada mulanya merupakan masyarakat nomaden (berpindah dari satu tempat ke tempat lain) sebagai cara untuk bertahan hidup, karena mereka harus mencari makanan dari alam (food gathering) dengan berburu dan meramu. Sebagai makhluk yang berpikir, manusia akhirnya menemukan cara untuk menyediakan makanan secara berkelanjutan: bercocok tanam dan mendomestikasi hewan buruan untuk diternakkan. Lama-kelamaan, mereka akhirnya bermukim di suatu tempat dan menetap, meninggalkan tradisi lama yang berpindah-pindah (nomaden). Dengan tradisi baru yang menetap ini, mereka beranak-pinak dari generasi ke generasi, sehingga tumbuh menjadi sebuah komunitas atau masyarakat. Perubahan sosial dari manusia nomaden menjadi masyarakat yang menetap ini dipengaruhi oleh cara produksi: dari food gathering menjadi domestikasi.

Baca Juga:   Dakwah Kultural
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?