Narasi
Sains

Sains dan Kebangkitan Islam

Indonesia merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Banyak ahli menyampaikan bahwa saat ini negeri ini sedang mengalami kebangkitan Islam (Hefner, 2000). Hampir semua segment kehidupan Muslim mengalami pertumbuhan yang berkaitan dengan ajaran dan tradisi Islam: etos ekonomi Islam (Rudnyckyj, 2009); jilbab [(Brenner, 2005)(Smith-Hefner, 2007)]; literasi Quran (Gade, 1999 ); civil Islam (Hefner, 2000); politik Islam [(Liddle, 1996)(Hefner, 2000)(Effendy, 1994)(Baswedan, 2004)(Bruinessen, 2002)(Roy, 2005)(Turmudi & Sihbudi, 2005)(Fananie, et al., 2002)(Zada, 2002)]; hukum Islam (Effendy, 1994); seni islami (Heryanto, 2015); gaya hidup islami (Jones, 2010); dan kelas menengah Muslim [(Nakamura, 1993)(Hefner, 1993)(Koentowijoyo, 1985)(Budiman, 1994)(Ramage, 1995)].

Meskipun ada sedikit letupan-letupan kekerasan atas nama Islam, kebangkitan bangsa Muslim terbesar di dunia ini menunjukkan sebuah gejala masyarakat Muslim yang modern, terdidik, makmur, toleran, moderat, dan sangat siap menghadapi perkembangan globalisasi. Pertumbuhan kesalehan Islam ini sangat jauh dari asumsi bahwa bangsa Muslim merupakan komunitas yang menegakkan kekuatan dengan kekerasan.

Juga, pertumbuhan ini berbeda dengan kemajuan modernisasi di Barat yang sejalan dengan ide-ide sekular (Wuthnow, 1988). Di Indonesia, masyarakat Muslim yang semakin terdidik dan makmur justru menjadi semakin tampak saleh. Dengan demikian, kebangkitan Islam di Indonesia sejalan dengan modernitas. Masyarakat sipil Muslim di Indonesia justru menopang sistem demokrasi (Hefner, 2000). Pertumbuhan ekonomi Islam juga sejalan dengan globalisasi dan ekonomi pasar (Rudnyckyj, 2009). Pertumbuhan kelas menengah Muslim di Indonesia juga menopang politik Islam yang moderat dan toleran [(Koentowijoyo, 1985)(Nakamura, 1993)(Ramage, 1995)].

Di antara pertumbuhan segment kehidupan Muslim di Indonesia, ada satu hal yang terlewatkan: Literasi Sains. Di tengah semangat Muslim Indonesia menjalankan spirit keagamaan dalam modernisasi, literasi sains di negeri ini masih menduduki level terendah di antara 40 negara di dunia (TIMMS, 2015). Padahal, literasi sains merupakan salah satu instrumen dalam ilmu pengetahuan modern. Dengan 88% penduduk Muslim di Indonesia, maka rendahnya literasi sains banyak terjadi di kalangan anak-anak Muslim.

Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Padahal, sejarah Islam klasik sangat kaya dengan penemuan sains, dan ilmu pengetahuan modern banyak mengkonfirmasi kebenaran al-Quran.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (1)

 

Munculnya Gerakan Pembaharuan Islam

Rendahnya literasi sains ummat Islam mungkin bisa dilacak akarnya sampai abad ke-11, ketika Imam al-Ghazali mengintroduksi dikotomi antara ilmu agama (‘ulum al-din) dan ilmu keduniaan (‘ulum al-dunya): mempelajari ilmu agama bersifat fardlu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim), sementara menuntut ilmu keduniaan hukumnya fardlu kifayah (kewajiban yang hanya dilakukan sebagian Muslim saja).

Dikotomi tersebut mengalami transmisi beberapa generasi untuk sampai ke Nusantara, melalui hubungan guru dan murid sampai ke pesantren-pesantren. Di tengah tekanan kolonialisme yang semakin kuat, pesantren-pesantren yang menjadi satu-satunya alternatif lembaga pendidikan bagi sebagian besar ummat Islam pada saat itu lebih mengembangkan tradisi sufisme yang justru semakin menjauh dari urusan keduniaan. Oleh karena itu, sistem pendidikan Islam di pesantren hanya berfokus pada pendidikan ilmu agama (‘ulum al-din), dan mengesampingkan pendidikan sains yang saat itu menjadi domain Pemerintah Kolonial yang dianggap kafir dan anti-Islam.

Mari kita bandingkan dengan lembaga pendidikan lain yang hampir seusia dengan pesantren-pesantren tua di Nusantara! Pada tahun 1636, Pendeta John Harvard mendarat di pantai Boston, Amerika. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan sebuah college (mirip seperti pesantren) di sekitar gereja yang ia dirikan. Ratusan tahun kemudian, college ini berkembang menjadi Universitas Harvard, dan menjadi perguruan tinggi terkemuka di dunia.

Perbandingan ini menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara perkembangan pendidikan di Barat dengan pendidikan pesantren di Nusantara, walaupun keduanya sama-sama berbasis agama. Hal ini kemudian mendorong tumbuhnya gerakan pembaharuan Islam di Nusantara. Mereka memandang bahwa ada yang keliru dalam praktik dikotomis antara ilmu agama dan ilmu keduniaan. Ummat Islam di Nusantara pada saat itu lebih mengutamakan pendidikan ilmu agama daripada ilmu pengetahuan umum, sehingga mereka menjadi bodoh dan terbelakang dalam urusan keduniaan. Padahal, ajaran Islam sangat mendorong keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Mereka mendorong ummat Islam melakukan perubahan sosial pada dirinya sendiri demi kemajuan ummat Islam.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (2)

 

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

(QS. Al-Qashas [28]: 77).

 

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

(QS. Al-Ra’d [13]: 11).

 

Gerakan pembaharuan Islam pada awal abad ke-20 menekankan bahwa ummat Islam harus menguasai sains dan teknologi, sebagaimana yang dipraktikkan oleh bangsa-bangsa Barat/Eropa, tanpa harus meninggalkan ajaran Islam. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus diperbaharui dengan mengadopsi banyak hal yang produktif dari sistem pendidikan Eropa. Ummat Islam harus berpikiran maju agar tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya.

 

Integrasi Islam dan Sains

Pada akhir abad ke-20, hampir 100 tahun semenjak bergulirnya gerakan pembaharuan Islam di Nusantara, ummat Islam telah mengalami lompatan sejarah: dari kaum sarungan yang terbelakang menjadi masyarakat modern. Akan tetapi, modernisasi masyarakat Muslim mengalami dinamika yang berbeda dengan modernisasi masyarakat Eropa. Semakin modern masyarakat Eropa justru semakin sejalan dengan ide-ide sekularisme (Wuthnow, 1988). Sebaliknya, semakin modern masyarakat Muslim justru semakin memperhatikan nilai-nilai agama (Hefner, 2000).

Baca Juga:   Tafsir Saintifik 1

Akan tetapi, meskipun Dunia Islam kini sudah mengalami banyak kemajuan, literasi ummat Islam dalam sains dan teknologi masih sangat rendah jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa Barat. Memang, ada sejumlah Muslim yang sangat berpengaruh dalam sains dan teknologi, bahkan beberapa di antaranya menjadi penerima nobel, tetapi rata-rata literasi sains masih sangat rendah.

Di tengah upaya peningkatan literasi sains dan teknologi di Dunia Islam, ada sejumlah keinginan kuat untuk mengintegrasikan Islam dan sains. Hubungan Islam dan sains di Dunia Islam memang berbeda dengan hubungan sains dan iman Kristen di Dunia Barat. Pada masa perkembangan sains di Dunia Islam pada abad pertengahan, tidak ada konflik yang serius antara agama dan sains, bahkan keduanya saling melengkapi. Akan tetapi, pada masa perkembangan renaissance yang mendorong pertumbuhan sains di Eropa, hubungan sains dan agama pernah mengalami titik nadir yang penuh dengan konflik. Oleh karena itu, beberapa intelektual Muslim mencoba mengintroduksi pendekatan integrasi antara Islam dan sains, sebagaimana pernah terjadi di Dunia Islam pada abad pertengahan.

Di Dunia Islam kini, interaksi Islam dan sains berlangsung dalam 3 pola sebagai berikut:

  1. Islam dan sains merupakan dua domain yang berbeda, sehingga tidak ada konflik di antara keduanya, dan tidak perlu integrasi di antara keduanya
  2. Sains merupakan sebuah ethical project, sehingga setiap projek sains harus disesuaikan dengan ajaran Islam
  3. Sains merupakan aktivitas sosial-budaya yang diadopsi masyarakat Barat dari kebudayaan Muslim di abad pertengahan dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan, sehingga ummat Islam seharusnya cukup mengadopsi sains Barat dan menyesuaikannya dengan konteks kultural Muslim di berbagai negara.

Di samping itu, Al-Quran mengandung banyak dorongan dan petunjuk sains yang bisa dijadikan inspirasi untuk mendorong kaum Muslim mengamati alam semesta, sehingga bisa memotivasi pertumbuhan sains dan teknologi di Dunia Islam.


Evaluasi Perkuliahan Tema 5: Sains dan Kebangkitan Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?