Narasi
Sains

Sains dan Islam pada Abad Pertengahan

Salah satu keuletan Tuhan untuk menghadirkan sains yang memiliki poros Ketuhanan ialah sains pada masa kejayaan Islam di abad pertengahan (abad ke-5 sampai abad ke-15). Abad pertengahan itu merupakan abad kegelapan (dark ages) bagi Eropa, tetapi justru merupakan masa keemasan (golden ages) bagi Muslim pada saat itu. Semenjak diinspirasi oleh Nabi Muhammad pada abad ke-7, bangsa Arab Muslim mengalami kebangkitan dari keterbelakangan masyarakat gurun yang tandus (jahiliyah) menjadi bangsa beradab dan super power dunia selama abad pertengahan itu. Pada saat itu, bangsa Muslim menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggerakkan peradaban dunia.


Video Pengantar “Pameran 1001 Inventions” di Inggris, sebuah pameran yang menggambarkan kebesaran peradaban Islam di abad pertengahan. Pameran ini dibuat berdasarkan buku “1001 Inventions, Muslim Heritage in Our World” yang ditulis oleh Prof. Salim al-Hassani, seorang Professor dari Oxford yang meneliti sejarah Peradaban Islam 


Selama abad pertengahan itu, negeri-negeri Muslim tumbuh silih berganti. Satu dinasti digantikan dinasti lainnya. Setelah kepemimpinan Nabi Muhammad dan al-Khulafa’ al-Rasyidun, bandul kepemimpinan politik kembali bergeser menjadi sistem monarkhi dengan munculnya dinasti-dinasti kekhalifahan, mulai Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus dan Cordova, Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, Dinasti Fatimiyah dan Dinasti Ayyubiyah yang berpusat Mesir, dan lain-lain. Ada banyak negeri-negeri Muslim yang tumbuh dan berkembang seiring dinamika sosial masyarakat Muslim di berbagai bangsa.

Meskipun dinasti-dinasti Muslim itu datang silih berganti, ada beberapa kesamaan di antara mereka yang menjadi faktor pendorong utama kemajuan sains dan teknologi di Dunia Islam pada abad pertengahan. Hassan dan Hill (1993) memetakan ada 7 faktor pendorong kemajuan sains dan teknologi di Dunia Islam pada abad pertengahan: (1) Dorongan agama Islam; (2) Dukungan penguasa; (3) Penerjemahan ke bahasa Arab; (4) Pendidikan dan perpustakaan; (5) Riset dan observatorium; (6) Penghormatan terhadap ilmuwan; (7) Perdagangan internasional

 

Dorongan Agama

Al-Quran dan Nabi mendorong ummatnya untuk menuntut ilmu pengetahuan, mengamati alam semesta, menggunakan akal pikiran, dan terbuka terhadap semua kebudayaan. Hal ini menjadikan Islam menjadi agama yang sangat progressif untuk mendorong penganutnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Nabi sendiri mewajibkan setiap Muslim untuk selalu menuntut ilmu: uthlub al-‘ilm min al-mahd ila al-lahd (tuntutlah ilmu dari buaian ibu sampai ke liang lahat/mati). Ada juga hadits Nabi: thalab al-‘ilm faridlah ‘ala kulli muslim wa muslimah (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan). Sementara itu, di dalam al-Quran terdapat banyak sekali ayat-ayat yang mendorong pikiran dan pengamatan terhadap alam semesta, serta penghargaan terhadap orang-orang yang berpengetahuan. Beberapa di antaranya ialah sebagai berikut:


وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui

(QS. al-Rum (30): 22)

قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

(QS. Yunus (10): 101)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

(QS. al-Mujadalah (58): 11)

 

Dukungan Penguasa

Para penguasa Muslim di abad pertengahan merupakan patron besar dalam ilmu pengetahuan. Mereka membuat keputusan politik untuk mengembangkan sains dan teknologi: mengundang para ilmuwan dari berbagai bangsa dan agama, serta memberi insentif kepada mereka untuk berkhidmat pada ilmu pengetahuan; memerintahkan penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab dan mendirikan perpustakaan; mendirikan perguruan tinggi; membangun observatorium; membeayai riset; dan lain-lain. Hampir semua dinasti Islam mendukung dan memfasilitasi pengembangan sains dan teknologi (Turner, 1997).

Sosok yang paling populer sebagai penguasa yang mendukung ilmu pengetahuan ialah Khalifah Harun al-Rasyid (seorang penguasa dari Dinasti Abbasiyah). Ia membiayai penerjemahan buku-buku filsafat dari Yunani Kuno, mendukung pendanaan untuk riset dan memberikan gaji yang tinggi untuk para ilmuwan. Kontribusi terbesarnya ialah mendirikan Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah perpustakaan besar yang menampung ribuan buku dari bangsa-bangsa di dunia, sehingga menjadi pusat diskusi ilmiah dan penerjemahan.

Sementara itu, Khalifah al-Ma’mun (putra Harun al-Rasyid) melanjutkan inisiasi ayahnya untuk membuat keputusan politik yang besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Ia melanjutkan pengembangan Bait al-Hikmah menjadi lembaga pendidikan yang menghasilkan banyak ilmuwan terkemuka. Pada masanya, ilmu kedokteran berkembang pesat, sehingga diimplementasikan dengan pendirian banyak rumah sakit, sebuah inisiatif paling awal di dunia yang sudah dikembangkan oleh Muslim seabad sebelumnya.

Khalifah Abdurrahman III (seorang penguasa dari Dinasti Umayyah di Cordova Spanyol) memerintahkan pengumpulan sejumlah besar buku dan memberikan perlindungan bagi para ilmuwan dari beragam bangsa dan agama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Upaya ini dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah Al-Hakam II (Al-Mustansir), dengan membangun sebuah universitas dan sejumlah perpustakaan di Cordova. Kota ini tumbuh menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia, bersamaan dengan zaman keemasan Dinasti Abbasiyah di Baghdad.



Patung Khalifah al-Hakam II, dibangun oleh Pemerintah Spanyol pada 1976 untuk menghormati jasa-jasanya bagi peradaban Eropa.


Dinasti Fatimiyah yang memberontak kepada Dinasti Abbasiyah dan mendirikan negara sendiri di Mesir juga tetap melanjutkan tradisi penguasa Muslim untuk berkhidmat pada ilmu pengetahuan. Mereka mendirikan Universitas al-Azhar (Kairo), universitas tertua di dunia dan sampai sekarang masih berdiri. Sebelumnya, Fatimah al-Fihri, seorang perempuan Muslim terkaya di Maroko, sudah terlebih dahulu mendirikan universitas yang lebih tua, dimana para lulusannya berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Cordova Spanyol.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (1)

 

Penerjemahan ke dalam Bahasa Arab dan Perpustakaan

Dunia Islam pada abad pertengahan, terutama pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, membentang dari Eropa, Asia, dan Afrika. Keluasan ini menjadikan negeri itu sebagai negeri multi-etnis dan multi-bahasa terbesar sepanjang sejarah. Mereka mewarisi peradaban kuno Romawi, Persia, Yunani, India, Syria, dan Cina. Warisan-warisan peradaban itu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, dan kemudian dikembangkan lebih dahsyat lagi oleh bangsa Muslim itu.

Upaya terjemahan ini mempertemukan kehendak penguasa dan semangat rakyat, sehingga kegiatan penerjemahan ini berjalan secara top down dan bottom up sekaligus. Dari sisi top down, para penguasa Muslim yang berpikiran terbuka memberi perhatian besar pada khazanah intelektual yang terserak dari berbagai bangsa itu. Oleh karenanya, mereka memerintahkan penerjemahan naskah-naskah intelektual itu ke dalam bahasa Arab.

Di sisi bottom up, bahasa Arab sudah menjadi lingua franca Dunia Islam pada saat itu. Hal ini merupakan pasar yang potensial bagi komoditi intelektual dan pemikiran. Artinya, jika kebudayaan-kebudayaan dari bangsa-bangsa itu ingin dikenal lebih luas di Dunia Islam yang berkembang pesat, maka hal ini meniscayakan adanya penerjemahan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Arab. Hal ini benar-benar dimanfaatkan oleh para sarjana yang mewarisi tradisi intelektual Yunani, Persia, dan India. Kaum Nestorian, sebuah aliran dalam Kristen yang dikutuk dalam Konsili Efesus tahun 431 dan dianggap sesat, memiliki andil yang besar dalam penerjemahan ini. Salah satu ajaran mereka ialah poliglotisme (menguasai banyak bahasa), sehingga mereka banyak menerjemahkan karya-karya dari Yunani, Persia, dan India. Di samping itu, kelompok-kelompok Syu’ubiyah juga banyak berperan dalam penerjemahan itu. Kelompok ini ingin memasarkan tradisi intelektualisme Persia yang mereka anggap lebih mapan ke dalam pasar bangsa Muslim melalui penerjemahan.

Rintisan paling awal dalam penerjemahan karya-karya ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab ialah upaya yang dirintis oleh Gubernur Khalid ibn Yazid ibn Muawiyah (seorang gubernur Dinasti Umayyah di Mesir). Ia mendorong para sarjana Yunani di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku pemikiran Yunani (Hellenisme) ke dalam bahasa Arab.

Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari menerjemahkan karya astronomi Siddhanta berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Arab sekitar tahun 772 M. Ayahnya dianggap sebagai seorang muslim pertama yang mengkonstruksi astrolabe, dan ia dipercaya sebagai salah satu sarjana yang pertama kali memiliki hubungan dengan matematika Hindu. Penerjemahan yang dilakukannya mungkin telah membawa huruf-huruf Hindu ke dalam Islam.

Abu Sahl al-Fadl ibn Naubkht, seorang kepala Pustakawan berkebangsaan Persia pada masa Harun al-Rasyid, menerjemahkan karya-karya astronomi dari bahasa Persia ke dalam bahasa Arab. Sementara Jirjis ibn Jibril ibn Bakhtyashu, seorang berkebangsaan Persia pengikut Nestorian, merupakan orang pertama yang menerjemahkan karya-karya kedokteran ke dalam bahasa Arab. Ia juga merupakan orang pertama dari kelompok dokter terkenal Nestorian yang memiliki hubungan dengan beberapa khalifah Abbasiyyah. Mereka memberikan pengaruh yang besar bagi ilmu kedokteran muslim pada abad ke-8 dan ke-9. Bakhtyashu bahkan dipercaya sebagai kepala rumah sakit pada masa Khalifah al-Mansur.

Abu Yahya ibn al-Batriq, seorang dokter yang hidup pada abad ke-8. Sebagaimana Bakhtyashu, ia bekerja pada Khalifah al- Mansur. Ia menerjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, yaitu sebagian dari karya-karya Hippocrates dan Galen. Sedangkan Abdullah ibn al-Muqaffa adalah seorang pemikir asli Persia yang terkenal di Basrah. Ia menerjemahkan beberapa karya dalam bahasa Matlawi yang berkaitan dengan logika dan medis. Akan tetapi, ia lebih dikenal karena terjemahannya terhadap syair Muluk al-Ajam dan Kalila wa Dimna.

Sementara itu, Al-Ma’mun, khalifah ketujuh Dinasti Abbasiyah (813-833), mengundang para sarjana Yahudi dan Kristen untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip Yahudi itu ke dalam bahasa Arab. Ia juga memperkaya perpustakaan Bait al-Hikmah (house of wisdom) dengan buku-buku karya terjemahan dari berbagai bahasa. Ia juga membangun sebuah pusat riset berdasarkan usulan Ratu Palmyra. Selama masa kekuasaannya, beratus-ratus manuskrip telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.

Sahl at-Tabari, seorang ahli astronomi dan dokter keturunan Yahudi merupakan salah satu penerjemah awal Almagest karya Ptolemy ke dalam bahasa Arab. Ibnu Sahda menerjemahkan banyak karya dalam bidang kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Suriah dan Arab. Ia terkenal dengan terjemahannya terhadap beberapa karya Hippocrates dan Galen ke dalam bahasa Arab. Sementara Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar merupakan penerjemah pertama The Element karya Euclid ke dalam bahasa Arab.

Tsâbit ibn Qurrâ, seorang dokter dan ahli matematika, merupakan salah satu penerjemah hebat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Suriah dan bahasa Arab. Ia mendirikan sebuah sekolah bagi para penerjemah. Karya-karya yang telah diterjemahkan olehnya atau di bawah arahannya adalah buku V- VII karya Apollonius of Perga dan beberapa karya Archimedes. Di samping itu, Abu Zakariya Yuhanna ibn Masawaih, seorang dokter, menerjemahkan beberapa karya Yunani tentang ilmu kedokteran ke dalam bahasa Arab. Ia merupakan pemimpin pertama dari perpustakaan Bait al-Hikmah. Hunain ibn Ishaq (808–877 M), seorang dokter Nestorian, merupakan salah satu sarjana hebat dan penerjemah handal pada masanya. Ia menghasilkan lebih dari 95 karya terjemahan dalam 50 tahun.

Implikasi produktif dari gerakan penerjemahan ialah literasi, sehingga kebutuhan terhadap buku-buku semakin meningkat. Oleh karena teknologi kertas pada saat itu sudah ada, tetapi belum ada teknologi perpustakaan, maka hal ini mendorong tumbuhnya perpustakaan. Perpustakaan menjadi tempat berkumpul banyak orang yang memiliki intensi terhadap ilmu pengetahuan, terlibat dalam diskusi dengan beragam orang, merangsang pikiran baru, kemudian mendorong munculnya karya-karya baru. Di perpustakaanlah literasi berpacu dengan wacana, bergesekan dengan beragam paradigma, mengasah inovasi baru dan kreativitas pikiran.

Ada ribuan karya hasil terjemahan yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini. Penerjemahan dan perpustakaan ini diserap oleh bangsa Muslim, sehingga merangsang mereka mengembangkan pemikiran baru yang mendorong riset baru, penemuan baru, dan eksplorasi baru, dalam jumlah yang spektakuler. Hal ini menjadikan Dunia Islam pada abad pertengahan sebagai pusat peradaban dunia.

Baca Juga:   Tafsir Saintifik 3

 

Pendidikan

Karakteristik aktivitas intelektual yang unik dalam Dunia Islam adalah bahwa pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas di kalangan para imam. Demikian pula, ilmu pengetahuan tidak menjadi hak istimewa para raja. Dengan demikian, tradisi pendidikan yang sudah dimulai sejak zaman Nabi tetap dilestarikan. Sebagaimana tradisi Nabi, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pusat pendidikan, dengan al-Quran sebagai entry point. Sementara itu, doktrin militer Muslim semenjak masa Khalifah Umar ibn Khattab menegaskan bahwa setiap ekspansi wilayah harus segera ditindaklanjuti dengan pendirian masjid sebagai Islamic Center dan pendidikan Islam. Oleh karenanya, dalam sejarahnya, masjid-masjid selalu hidup dengan majelis ilmu.

Model kelas yang digunakan ialah halaqah: pengajar duduk di sebuah ruang masjid, sedangkan pelajar melingkarinya. Para pengajar menggunakan tiga langkah dalam presentasinya: menerangkan mata kuliahnya secara singkat dan mendetail, mengulang materi yang sama lebih mendalam, dan membacakan kembali poin-poin yang sulit dari mata kuliahnya dengan penjelasan-penjelasan detail dari semua bagian yang tersulit.

Biasanya setiap halaqah terdiri dari dua puluh pelajar. Model halaqah ini memungkinkan pengajar dan pelajar duduk setara, dan memudahkan mereka terlibat dalam diskusi yang produktif. Para pelajar sering didorong untuk mengajukan pertanyaan tentang pernyataan pengajar mereka dan tak sedikit di antaranya yang mengajukan keberatan pendapat. Para pelajar yang berselisih pendapat dengan pengajarnya bukan hanya sekadar menyanggah, namun juga menunjukkan bukti-bukti yang mendukung argumentasi tersebut.

Sejarah panjang pendidikan dalam tradisi Islam ini menginspirasi para pemimpin Muslim menginstitusionalisasi tradisi “ta’lim muta’allim” (belajar mengajar) yang ditradisikan sejak zaman Nabi Muhammad ini menjadi madrasah dan universitas. Beberapa dinasti Islam dikenal sebagai pelopor dunia pendidikan. Universitas Qarawiyyun di Maroko yang didirikan oleh Fatimah al-Fihri, seorang perempuan paling kaya pada masa itu, diidentifikasi sebagai universitas tertua di dunia. Sementara itu, Universitas al-Azhar di Kairo, yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah, diidentifikasi sebagai universitas tertua kedua di dunia.

 

Riset dan Observatorium

Salah satu tradisi yang berkembang pesat di Timur Tengah abad pertengahan ialah riset. Para ilmuwan tidak hanya berwacana, tetapi mengembangkan riset yang menginspirasi ilmu pengetahuan modern sampai saat ini. Salah satu fokus riset ialah bidang astronomi, sehingga menjadi disiplin utama dalam ilmu pengetahuan Islam. Aktivitas penerjemahan membawa serta pengetahuan astronomi dari bangsa India, Persia, Yunani, Syria, dan Mesir. Para ilmuwan Muslim menyempurnakannya dengan pendekatan yang lebih matematis, sehingga menghasilkan perhitungan yang akurat, dan dimanfaatkan untuk menentukan waktu ibadah.

Al-Battani (850–922) secara akurat menentukan panjang tahun matahari. Dia berkontribusi pada Tabel Toledo yang digunakan oleh para astronom untuk memprediksi pergerakan matahari, bulan, dan planet-planet di langit. Copernicus (1473-1543) kemudian menggunakan beberapa tabel astronomi Al-Battani. Sementara Al-Zarqali (1028-1087) mengembangkan sebuah astrolab yang lebih akurat, digunakan selama berabad-abad sesudahnya. Dia membangun sebuah jam air di Toledo, menemukan bahwa apsis Matahari bergerak perlahan relatif terhadap bintang-bintang tetap, dan memperoleh estimasi yang baik tentang gerakannya untuk tingkat perubahannya. Nashiruddin al-Thusi (1201-1274) menulis suatu revisi penting untuk model langit abad ke-2 Ptolemaeus. Ketika Tusi menjadi astrolog Hulagu, dia disediakan sebuah observatorium dan memperoleh akses pada teknik dan observasi Tiongkok. Dia mengembangkan trigonometri sebagai sebuah bidang terpisah, dan menyusun tabel astronomi paling akurat yang tersedia hingga saat itu.

Riset kimia juga berkembang pesat. Alkimia sebenarnya sudah muncul sebelum Islam, berasal dari keyakinan bahwa zat terdiri campuran dari empat unsur Aristotelian (api, bumi, udara, dan air) dalam proporsi yang berbeda. Akan tetapi, para ilmuwan Muslim menyempurnakannya dengan banyak eksperimen dan mengkritisi konsep-konsep kimia sebelumnya. Jabir bin Hayyan (abad ke 8 – 9), misalnya, menulis tentang alkimia berdasarkan eksperimennya sendiri. Dia menjelaskan teknik laboratorium dan metode eksperimental yang akan terus digunakan ketika alkimia telah berubah menjadi kimia. Ibnu Hayyan mengidentifikasi banyak zat, termasuk asam sulfat dan nitrat. Dia menjabarkan proses seperti sublimasi, reduksi, dan destilasi. Dia menggunakan peralatan seperti alembik dan tegakan retot. Proses-proses kimiawi juga banyak ditemukan oleh ilmuwan Muslim: destilasi, kalsinasi, larutan, penguapan, kristalisasi, sublimasi, amalgamasi, dan kerasi (suatu proses untuk membuat bubur atau leburan dari padatan). Ada banyak sekali zat kimia yang sampai sekarang tetap digunakan berasal dari abad pertengahan yang ditemukan para ilmuwan Muslim.

Studi tentang bidang ilmu alam diperluas pada pemeriksaan rinci tumbuhan. Karya yang dilakukan terbukti secara langsung bermanfaat dalam pertumbuhan farmakologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Al-Dinawari (815-896) mempopulerkan botani di dunia Islam dengan Kitab al-Nabat (Kitab Tetumbuhan), semacam ensiklopedia tanaman. Dari naskah yang bisa diselamatkan dari kitab ini diperoleh deskripsi tentang 637 tumbuhan dalam urutan berdasarkan abjad. Jika semua naskah bisa diselamatkan, mungkin ada ribuan tumbuhan yang bisa dideskripsikan. Al-Dinawari mendeskripsikan fase perkembangan tumbuhan dan produksi bunga dan buah.

Ensiklopedia abad ketiga belas yang disusun oleh Zakariya al-Qazwini (1203–1283) — ‘Ajā’ib al-makhlūqāt wa gharā’ib al-mawjūdāt — berisi antara lain tentang botani realistis dan laporan-laporan fantastis. Misalnya, dia mendeskripsikan pepohonan yang tumbuh burung di ranting-ranting mereka sebagai pengganti daun, tetapi yang hanya dapat ditemukan di Kepulauan Britania yang jauh. Penggunaan dan budi daya tanaman juga didokumentasikan pada abad ke-11 oleh Muhammad bin Ibrahim Ibnu Bassāl dari Toledo dalam bukunya Dīwān al-filāha (Istana Pertanian), dan oleh Ibnu al-‘Awwam al-Ishbīlī dari Sevilla dalam bukunya abad ke-12 Kitab al-Filāha (Risalah tentang Pertanian). Ibnu Bassāl telah melakukan perjalanan ke mana-mana di seluruh dunia Islam, kembali dengan pengetahuan rinci tentang agronomi yang dimasukkan ke dalam Revolusi Pertanian Islam. Bukunya yang praktis dan sistematis mendeskripsikan lebih dari 180 tumbuhan dan bagaimana mengembangbiakkan dan merawatnya. Tumbuhan tersebut mencakup sayuran daun dan akar, herbal, rempah-rempah, dan pepohonan. Abū al-Khayr (kr. abad ke-11) menjelaskan secara mendetail bagaimana pohon zaitun harus ditanam, dicangkokkan, dirawat karena penyakit, dan dipanen. Dia memberi detail serupa untuk tanaman seperti kapas.

Baca Juga:   Motivasi Islam untuk Pengembangan Sains

Di samping itu, riset kedokteran juga sangat marak. Al-Razi menuliskan hasil-hasil risetnya dalam Kitab al-Hawi (Buku Komprehensif) yang terdiri dari 23 jilid, salah satu naskah medis yang luar biasa. Konon, buku ini merupakan asal mula ilmu kebidanan, ginekologi, dan operasi mata. Di antara 56 karya tulis medisnya, ada beberapa uraian tertua yang terpercaya tentang cacar dan campak. Al-Razi juga menemukan bahwa demam merupakan salah satu bentuk reaksi tubuh untuk melawan penyakit. Selain itu, masih banyak sekali hasil-hasil riset para ilmuwan Muslim abad pertengahan yang tidak bisa disebutkan di sini.

 

Penghormatan terhadap Ilmuwan

Tradisi literasi (tanpa sekat) dalam Islam yang didukung oleh para penguasa akhirnya melahirkan ilmuwan-ilmuwan Muslim yang handal. Pertumbuhan dan perkembangan ilmuwan Muslim juga didukung oleh pemikiran rasional yang berkembang pada saat itu. Teologi utama yang berkembang saat itu ialah mu’tazilah, sebuah paham keislaman yang lebih mengedepankan akal.

Ada ribuan ilmuwan Muslim dari beberapa zaman abad pertengahan dan dari beberapa pusat peradaban Islam, baik di Baghdad, Cordova, Mesir, dan beberapa kota kosmopolitan Islam lainnya. Artikel ini hanya menuliskan beberapa saja di antara ribuan ilmuwan Muslim itu.

  • Ibn Sina (980-1037)

Dunia medis kini semakin berkembang. Perkembangan tersebut berkat eksplorasi ilmuwan Persia, Ibn Sina yang menulis buku The Canon of Medicine. Buku yang ia tulis menjadi pedoman mahasiswa kedokteran di Eropa hingga tahun 1600-an.

  • Al-Khawarizmi (780-850)

Al-Khawarizimi ialah ilmuwan muslim yang ahli di bidang matematika. Imuwan dari Persia ini menemukan sistem penomoran 1-10. Ia juga berjasa menemukan konsep aljabar dan algoritma.

  • Jabir Ibn Hayyan (721-815)

Jabir ialah ilmuwan dari Iran yang ahli di bidang kimia. Dia adalah orang pertama yang mengidentifikasi zat yang bisa melarutkan emas. Jabir juga orang pertama yang menemukan asam sulfat, klorida dan nitrat. Kontribusi lainnya ialah pada penemuan alkali. Karya-karya Jabir antara lain Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al Rahmah dan lain sebagainya.

  • Ibn al-Nafis (1213 – 1288)

Ibnu al-Nafis merupakan ilmuwan dari Damaskus yang punya kontribusi besar di bidang medis. Ia merupakan ilmuwan pertama yang mengungkapkan teori pembuluh darah kapiler. Ia secara akurat dapat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh. Ibnu al-Nafis sering dijuluki sebagai bapak fisiologi peredaran darah.

  • Ibn Khaldun (1332 – 1406)

Ibnu Khaldun ialah ilmuwan dari Tunisia yang dikenal sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalam Muqaddimah. Ilmuwan ini sudah hafal Alquran sejak dini lho.

  • Al-Zahrawi (936 – 1013)

Al Zahrawi ialah ilmuwan dari Cordoba yang ahli di bidang kedokteran. Dia yang menemukan konsep operasi modern. Penemuannya yang sangat berguna hingga kini korsep untuk membantu proses persalinan.

  • Ibnu Haitham (965 – 1040)

Ibnu Haitham merupakan ilmuwan Irak yang ahli di bidang matematika. Ia dikenal sebagai pendiri optik modern. Ibnu Haitahm berhasil membedah konsep cahaya.

  • Umar Khayyam (1048 – 1131)

Umar Khayyam ialah ilmuwan Iran yang berhasil mengkoreksi kalender Persia. Umar Khayam juga menghitung diameter tahun matahari secara akurat.

  • Ibnu al-Baithar (1197 – 1248)

Ibnu al-Baithar ialah ilmuwan dari Malaga yang terkenal di bidang botani dan kedoteran. Dia yang mencatat penemuan dokter abad pertengahan secara sistematis.

  • Thabit ibn Qurra (826 – 901)

Thabit ibn Qurra ialah ilmuan Arab yang ahli di bidang matematika. Ia yang menerapkan sistem geosentrik Ptolemy dan penemu konsep statistika.

  • Al-Jazari

Al-Jazari merupakan perintis robotika pertama. Ia menciptakan jam besar berbentuk gajah yang bergerak secara otomatis dengan tenaga pegas.

  • Al-Idrisi

Al-Idrisi adalah seorang geografer dan kartografer. Di sekitar abad ke 12, ia memproduksi sebuah peta dunia dengan deskripsi yang paling lengkap dan digunakan oleh para pelaut Eropa beberapa abad sesudahnya untuk menjelajah dunia.

  • Abbas ibn Firnas

Ibn Firnas merupakan perintis paling awal ilmu penerbangan. Namanya diabadikan oleh NASA sebagai salah satu nama kawah di Bulan.

 

Perdagangan Internasional

Posisi geografis Dunia Islam memang sangat strategis. Wilayah itu menghubungkan jalur perdagangan kuno antara Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Di samping itu, ketiga wilayah itu dihubungkan oleh Laut Mediterania, sebuah laut pedalaman yang berada di antara benua Eropa, Asia, dan Afrika. Posisi strategis seperti ini didukung oleh kultur perdagangan masyarakat Arab yang sudah berkembang jauh sebelum Islam. Makkah sendiri sebagai epicentrum ajaran Islam merupakan pusat perdagangan kuno dari Yaman ke Syria. Hal ini menjadikan wilayah Dunia Islam menduduki posisi yang sangat strategis dalam perdagangan internasional. Beberapa catatan dari kronik Cina bahkan melaporkan bahwa jalur perdagangan laut antara Arab dan Kanton (sebuah pelabuhan dagang di Cina) sudah tersambung sejak abad ke-7. Artinya, para pedagang Arab sudah lalu lalang di perairan Nusantara ketika Nabi Muhammad dilahirkan.

Masyarakat yang memiliki kultur perdagangan merupakan masyarakat yang dinamis, berbeda dengan masyarakat yang berlatar belakang kultur agraris. Dalam masyarakat berkultur agraris, seperti di Eropa dan Asia pada abad pertengahan, terbangun kultur feodalistik yang cenderung tertutup terhadap perubahan dan menghambat dinamika masyarakat. Sementara dalam masyarakat yang berkultur perdagangan, struktur masyarakat lebih egaliter, sehingga masyarakat bisa berkembang dinamis.

Perdagangan tidak hanya melibatkan pertukaran barang antar-bangsa, melainkan juga pertukaran gagasan, pengalaman, budaya, pemikiran, dan berbagai segment kebudayaan antar-bangsa. Para pedagang Arab-Muslim bertebaran di muka bumi, baik melalui jalur laut dan darat, bertemu beragam komunitas di negeri orang. Mereka banyak belajar hal-hal baru di negeri orang, dan membawa pengalamannya itu ke negeri Muslim dimana mereka bisa menyebarkan gagasan-gagasan baru yang mereka bawa dari negeri orang. Tak jarang pula mereka disertai para pengelana Arab yang handal.

Dalam kultur masyarakat perdagangan yang terbuka, hal-hal baru yang dibawa oleh para pedagang dan pengelana itu diadaptasi untuk dikembangkan menjadi pemikiran baru, konsep-konsep baru, ilmu pengetahuan baru, dan teknologi baru yang kontekstual di Dunia Islam. Demikianlah, reproduksi-reproduksi pemikiran selalu berkembang dinamis di Dunia Islam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?