Narasi
Sosial

Perilaku dan Perubahan

Perilaku sosial merupakan kajian yang terus-menerus berkembang sepanjang sejarah. Tema ini menjadi kajian banyak disiplin keilmuan, dipahami dari berbagai pendekatan, diklasifikasikan ke dalam banyak kategori, menghasilkan banyak teori, dan diimplementasikan dalam banyak kebijakan. Oleh karena itu, kajian tentang perilaku (baik individual maupun sosial) merupakan kajian yang sangat luas dan multidisiplin.

Tulisan ini hanya akan mengkaji perilaku manusia beserta implikasinya dalam konstruksi teori kritis, dengan menggunakan pendekatan Pierre Bourdieu (seorang filosof berkebangsaan Perancis).

 

Habitus

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini tidak datang dalam ruang yang kosong. Ia dilahirkan pada komunitas atau keluarga tertentu yang memiliki nilai-nilai. Nilai-nilai itu ditanamkan kepada setiap bayi yang dilahirkan dalam komunitas atau keluarga itu melalui relasi kuasa tertentu antara orangtua dan anak itu. Orangtua itu merupakan agen dari komunitasnya.

Nilai pertama ditanamkan melalui bahasa, yaitu penamaan. Hal ini dilakukan melalui relasi kuasa terhadap bayi yang baru dilahirkan. Nama merupakan kata-kata (unsur bahasa) yang digunakan untuk menghidupkan bayi secara sosial sehingga memiliki identitas dan panggilan. Kata-kata itu diadaptasi dari lingkungan sosialnya. Misalnya: jika komunitas atau keluarganya merupakan masyarakat Muslim, biasanya diberi nama Arab; atau jika komunitasnya berasal dari marga tertentu, maka ia diberi marga yang mengikuti garis keturunan ayahnya.

Selama proses sosialisasi (pergaulan, pendidikan, dan lain-lain) dalam masyarakatnya, maka anak-anak itu menyerap dan menghayati nilai-nilai sosial masyarakatnya, sehingga menjadi perilaku. Inilah yang dinamakan habitus, yaitu perilaku yang dihasilkan melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama, sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri individu.

Di antara banyak orang, habitus seringkali tertanam sangat kuat dalam pikirannya, sehingga mempengaruhi kondisi tubuh fisik seseorang. Habitus yang sudah begitu kuat tertanam serta mengendap menjadi perilaku fisik disebutnya sebagai Hexis.

 

Kapital

Dalam proses kehidupannya, manusia mengakumulasi banyak hal dalam hidupnya, sehingga bisa digunakan untuk memudahkan hidupnya. Misalnya, ia mudah bergaul dengan banyak orang, sehingga ia bisa dikenal oleh siapapun. Atau, ia bekerja keras sejak muda, sehingga ia mampu mengumpulkan banyak uang. Atau, ia selalu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga bisa mengakumulasi sejumlah pengetahuan dan ketrampilan. Itulah yang disebut kapital.

Kapital merupakan modal yang memungkinkan seseorang mendapatkan kesempatan-kesempatan di dalam hidupnya. Sebagaimana contoh-contoh di atas, ada banyak jenis kapital yang bisa digunakan dalam kehidupan, seperti kapital intelektual (pendidikan), kapital ekonomi (uang), dan kapital budaya (latar belakang dan jaringan).

Kapital bisa diperoleh, jika orang memiliki habitus yang tepat dalam hidupnya. Habitus membaca, menulis, dan berdiskusi akan menghasilkan kapital intelektual dan kapital budaya. Sementara, sikap rajin bekerja dan banyak jaringan bisnis akan menghasilkan kapital ekonomi. Kapital bukanlah sesuatu yang mati, melainkan hidup dan bisa diubah.

Karena memiliki kapital intelektual (pendidikan), orang bisa bekerja sebagai pendidik, dan memiliki uang (kapital ekonomi) untuk hidup. Kapital intelektual juga bisa diubah menjadi kapital budaya (jaringan yang banyak), sehingga bisa memperkaya kapital intelektual itu sendiri. Kapital ekonomi juga bisa diubah, misalnya dengan investasi, sehingga menghasilkan kapital ekonomi dan kapital budaya yang lebih besar.

 

Arena

Arena adalah ruang khusus yang ada di dalam masyarakat. Ada beragam arena, seperti arena pendidikan, arena bisnis, arena seniman, dan arena politik. Jika orang ingin berhasil di suatu arena, maka ia perlu untuk mempunyai habitus dan kapital yang tepat. Misalnya, di dalam arena pendidikan, jika ingin berhasil, orang perlu memiliki habitus pendidikan (belajar, menulis, berdiskusi, membaca) dan kapital intelektual (pendidikan dan penelitian) yang tepat. Jika ia tidak memiliki habitus dan kapital yang tepat untuk dunia pendidikan, maka ia tidak akan berhasil di dalam arena pendidikan.

Baca Juga:   Agama dan Negara

Hal yang sama berlaku di dalam arena bisnis. Jika orang ingin berhasil dalam bisnis, maka ia harus memiliki habitus yang tepat (ulet bekerja dan hemat) serta kapital bisnis (uang sebagai modal usaha) maupun kapital budaya (jaringan kenalan yang luas) yang tepat. Jika orang memiliki habitus dan kapital seorang pendidik, dan ia terjun ke dalam dunia bisnis, maka kemungkinan besar, ia tak akan berhasil.

Dengan demikian, konsep habitus, kapital, dan arena terkait amat erat. Untuk bisa berhasil dalam salah satu arena dalam hidup, orang perlu mempunyai habitus dan kapital yang tepat untuk arena itu. Jika ia tidak memiliki habitus dan kapital yang tepat untuk satu arena, maka ia, kemungkinan besar, akan gagal dalam arena yang telah ia pilih tersebut.

 

Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses penciptaan ulang dominasi sosial yang telah ada sebelumnya. Pendidikan menutup pintu bagi orang-orang yang tidak memiliki habitus maupun kapital sebagai seorang pembelajar. Dan orang-orang yang ditolak ini adalah umumnya kelas ekonomi bawah yang memang tidak memiliki habitus maupun kapital untuk belajar secara akademik.

Dengan demikian, pendidikan, pada hakekatnya, bersifat diskriminatif. Secara tidak langsung, pendidikan menindas orang-orang yang memang sejak awal sudah “kalah”, baik secara ekonomi, maupun secara habitus belajar. Secara mekanis, nyaris otomatis, pendidikan melestarikan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin, antara si “pintar” (memiliki habitus dan kapital intelektual), dan si “bodoh” (tidak memiliki habitus maupun kapital intelektual).

Pendidikan, dengan demikian, menutupi sekaligus melestarikan ketidakadilan serta kesenjangan sosial yang telah berlangsung lama di masyarakat. Argumen ini diperoleh Bourdieu dari analisis terhadap data-data mahasiswa yang memasuki fakultas-fakultas tenar di Prancis. Jika anda berasal dari keluarga yang cukup kaya, dan memiliki habitus membaca, menulis, dan berdiskusi sejak kecil, maka kemungkinan besar (tidak mutlak), anda akan belajar di fakultas-fakultas tenar di perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama di negara anda.

Tentang pendidikan moral, Bourdieu berpendapat, bahwa yang terpenting bukanlah apa yang ternyatakan (eksplisit) dalam ajaran maupun aturan moral, melainkan apa yang tak ternyatakan (implisti), yang hanya dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari. Singkat kata, baginya, dalam konteks pendidikan moral, yang terpenting adalah teladan, dan bukan perintah moral yang keluar dari mulut.

Maka dari itu, sarana pengajaran moral yang paling baik bukanlah ajaran moralitas agama yang penuh dengan pengharusan dan larangan, melainkan melalui sastra. Di dalam karya sastra, orang secara bebas memilih, tokoh apa yang menjadi favoritnya. Tokoh tersebut pasti memiliki kualitas kepribadian yang khas, sehingga orang menyukainya. Ada kebebasan di dalam memilih teladan.

Sementara, dalam ajaran-ajaran agama, yang banyak terdengar adalah keharusan dan larangan. Di dalam pola semacam itu, tidak ada kebebasan. Yang ada adalah paksaan, atau dominasi. Dan dimana terdapat dominasi, selalu ada perlawanan. Itulah sebabnya, mengapa ajaran agama tidak bisa menjadi alat yang efektif untuk melakukan pendidikan moral.

 

Pembedaan (Distinction)

Secara singkat, pembedaan berarti tindakan membedakan diri yang dilakukan oleh seseorang untuk menunjukkan kelasnya dalam masyarakat. Biasanya, pembedaan dilakukan oleh kelas menengah ekonomi ke atas untuk menunjukkan statusnya yang khas dibandingkan dengan kelas ekonomi yang lebih rendah. Contohnya beragam. Misalnya, orang yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas akan menggunakan pakaian ataupun mobil dengan merk yang khusus, yang harganya jauh lebih tinggi dari apa yang bisa dicapai oleh kelas ekonomi yang lebih rendah. Proses penempatan diri ini merupakan ciri khas kelas ekonomi menengah ke atas yang ingin mendapatkan pengakuan dari kelas ekonomi yang lebih rendah.

Baca Juga:   Inovasi Sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah

Dalam konteks pendidikan, lulusan perguruan tinggi luar negeri biasanya melakukan pembedaan terhadap lulusan perguruan tinggi dalam negeri. Mereka merasa “berbeda”, jika mampu membaca, menulis, ataupun berbicara dalam bahasa asing, sesuatu yang tidak dimiliki oleh mereka yang lulus dari perguruan tinggi dalam negerti. Inilah permainan distinction dalam konteks pendidikan.

Kelas ekonomi menengah ke bawah juga melakukan hal yang sama. Namun, tindakan tersebut bukanlah merupakan pembedaan, melainkan suatu bentuk perlawanan. Jadi, jika datang dari atas, pengambilan posisi untuk mendapatkan pengakuan disebut sebagai distinction. Dan jika datang dari kelas ekonomi menengah ke bawah, misalnya dengan menggunakan pakaian-pakaian anti-kemapanan, atau justru tertarik membaca buku dalam bahasa-bahasa Sanksekerta kuno, maka itu disebut sebagai perlawanan (resistance).

 

Status Bahasa

Bahasa bukanlah alat komunikasi yang bersifat netral, tanpa kepentingan. Pandangan semacam itu sangat naif. Bahasa merupakan media yang sangat efektif untuk menampakkan dan mentransmisikan simbol kekuasaan. Di dalam bahasa tersembunyi dominasi simbolik serta struktur kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. Tata bahasa yang digunakan oleh seseorang mencerminkan kelas sosialnya di masyarakat. Oleh karena itu, bahasa merupakan sebuah teks yang tidak bisa dianggap netral.

Orang yang berasal dari tingkat pendidikan tertentu memilih menggunakan bahasa yang lebih formal, daripada mereka yang lebih rendah tingkat pendidikannya. Di masyarakat-masyarakat tertentu, orang yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi menggunakan bahasa yang berbeda dengan orang lainnya yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah.

Ilmu pengetahuan modern memiliki cita-cita untuk menjadi jalan utama manusia sampai pada kebenaran. Para ilmuwan modern yakin, bahwa bahasa ilmu pengetahuan adalah bahasa obyektif yang terbebaskan dari prasangka maupun kekuasaan itu sendiri. Ilmu pengetahuan adalah jalan netral dan bebas hambatan untuk sampai pada kebenaran. Pandangan semacam ini juga sangat naif, dan kontraproduktif bagi komunikasi sains secara lebih luas kepada masyarakat.

Para ilmuwan seringkali menggunakan bahasa sains hanya untuk kepentingan exercise of power (menunjukkan simbol kekuasaan) dan meningkatkan citra diri. Padahal, hal ini sangat kontraproduktif bagi masyarakat yang lebih menyukai komunikasi yang sederhana, sehingga bahasa ilmuwan seringkali tak dipahami oleh masyarakatnya.

 

Dominasi Simbolik

Dominasi simbolik adalah penindasan dengan menggunakan simbol-simbol, bukan dengan kekerasan, sehingga penindasan ini tidak dirasakan sebagai penindasan, tetapi dianggap sebagai sesuatu yang secara normal saja. Artinya, objek penindasan tersebut tidak merasa sedang ditindas, melainkan menganggap sebagai sesuatu yang wajar saja, bahkan secara sukarela melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh subjek yang menindas.

Misalnya, dosen di kelas hampir tidak pernah mendapatkan perlawanan apapun dari mahasiswanya, padahal dosen memerintahkan banyak kepada mahasiswa, bahkan mahasiswa dengan sukarela mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh dosen. Contoh lain ialah rakyat membayar pajak kepada negara, dimana rakyat merasa harus membayar pajak itu, meskipun mereka sendiri tidak menerima manfaatnya secara langsung.

 

Sensor Panopticon

Konsep dominasi simbolik juga dapat dengan mudah dilihat dalam konsep sensor panopticon. Sensor panopticon adalah konsep yang menjelaskan mekanisme kekuasaan yang tetap dirasakan oleh orang-orang yang dikuasai, walaupun sang penguasa tidak lagi mencurahkan perhatiannya untuk melakukan kontrol kekuasaan secara nyata. Konsep ini mengadopsi situasi dalam penjara: Di dalam penjara, ada menara penjaga yang berdiri di tengah berbagai unit-unit tempat tinggal narapidana. Menara penjaga itu menjadi simbol kontrol yang bersifat permanen terhadap narapidana, walaupun tidak ada penjaga yang sungguh menjaga di dalam menara tersebut. Sensor dan kontrol tetap terasa, walaupun sang penjaga dan penguasa tidak lagi secara nyata melakukan sensor dan kontrol pada menara pengawas tersebut.

Baca Juga:   Kolonialisme dan Kebangkitan Islam

Dalam konteks Indonesia, mekanisme kekuasaan Orde Baru adalah contoh yang paling jelas. Kekuasaan Suharto pada masa itu (Orde Baru: 1966-1998) terasa sampai ke berbagai pelosok Indonesia, walaupun ia tidak secara fisik hadir untuk memastikan kekuasaannya. Bahkan sampai sekarang, ada beberapa kelompok masyarakat yang mengakui legitimasi kekuasaan Orde Baru, walaupun eranya telah lama berlalu.

 

Doxa

Puncak dari mekanisme dominasi simbolik ialah doxa, yaitu bahwa pandangan penguasa yang dianggap sebagai pandangan seluruh masyarakat. Masyarakat tidak lagi memiliki sikap kritis pada pandangan penguasa. Pandangan penguasa itu biasanya bersifat sloganistik, sederhana, populer, dan amat mudah dicerna oleh rakyat banyak, walaupun secara konseptual, pandangan tersebut mengandung banyak kesesatan.

Misalnya, banyak penguasa otoriter di dunia ini beranggapan, bahwa pandangan mereka mewakili pandangan rakyat, maka mereka harus dipatuhi. Biasanya, mereka menggunakan slogan-slogan populis semacam ini, “Musuh Pemerintah = Musuk Rakyat!”, “Pemerintah hadir untuk membawa kemakmuran untuk Rakyat!”, dan beragam slogan-slogan lainnya.

Doxa menunjukkan, bagaimana penguasa bisa meraih, mempertahankan, dan mengembangkan kekuasaannya dengan mempermainkan simbol yang berhasil merasuki pikiran orang-orang yang dikuasai, sehingga mereka kehilangan sikap kritisnya pada penguasa. Pihak yang dikuasai melihat dirinya sama dengan penguasa. Mereka ditindas, tetapi tidak pernah merasa sungguh ditindas, karena mereka hidup dalam doxa.

Doxa juga berlaku di dalam ranah ilmu pengetahuan. Mahasiswa yang mengerjakan skripsi harus melakukan prosedur penelitian sesuai dengan metodologi sains untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis. Biasanya, prosedur justru jauh lebih penting daripada kebenaran itu sendiri. Padahal, ada banyak metode lain yang lebih relevan sebagai pendekatan riset itu. Akan tetapi, biasanya dosen bersikukuh menggunakan satu metode saja, tanpa mempertimbangkan kemungkinan penggabungan dengan metode-metode lainnya, atau bahkan mengintroduksi metode yang lebih relevan. Di sinilah dunia ilmiah dan akademik seringkali kehilangan daya kritisnya terhadap apa yang disebut “ilmiah”.

 

Perubahan Sosial dan Kebebasan

Sudut pandang teori kritis ini menggugat cara pandang ilmu sosial klasik yang lebih berperspektif positivisme, top down, dan bernalar instrumen. Hal ini jelas kontra-produktif bagi upaya perubahan sosial yang diinginkan. Dalam perspektif teori kritis, perubahan sosial bisa diintroduksi melalui habitus dan kapital, dan menempatkan keduanya dalam konteks yang tepat di suatu arena. Prinsip ini berlaku untuk semua arena, mulai dari arena pendidikan, arena budaya, dan sebagainya.

Perubahan sosial hanya mungkin, jika manusia bukan merupakan “budak” dari sistem sosial yang mengitarinya. Dengan kata lain, perubahan sosial hanya mungkin, jika ada kebebasan. Kebebasan merupakan suatu bentuk improvisasi yang menghasilkan variasi. Artinya, kebebasan adalah perubahan, atau faktor X, yang membuat seluruh konsep habitus, kapital, arena, dominasi simbolik, dan doxa, menjadi relatif dan tidak mutlak. Dalam arti ini, manusia bukan hanya merupakan produk dari sistem-sistem yang mengitarinya, melainkan mahluk yang mampu membuat improvisasi, dan, dengan demikian, mereka membuat perubahan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?