Narasi
Sosial

Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai Kritik Sosial

Pertumbuhan industri saat ini sudah mencapai tahap industri 4.0. Hal ini sudah menjadi tema diskusi publik yang luas. Meskipun demikian, ada banyak orang yang tidak tahu, mengapa tiba-tiba muncul tahapan industri 4.0.? Semestinya, jika ada industri 4.0., seharusnya ada tahapan-tahapan sebelumnya: industri 1.0.; industri 2.0.; dan industri 3.0. Oleh karena itu, berikut ini akan dijelaskan tahapan-tahan tersebut, beserta hubungannya dengan Muhammadiyah/Aisyiyah.

Manusia pada mulanya merupakan masyarakat nomaden (berpindah dari satu tempat ke tempat lain) sebagai cara untuk bertahan hidup, karena mereka harus mencari makanan dari alam (food gathering) dengan berburu dan meramu. Sebagai makhluk yang berpikir, manusia akhirnya menemukan cara untuk menyediakan makanan secara berkelanjutan: bercocok tanam dan mendomestikasi hewan buruan untuk diternakkan. Lama-kelamaan, mereka akhirnya bermukim di suatu tempat dan menetap, meninggalkan tradisi lama yang berpindah-pindah (nomaden). Dengan tradisi baru yang menetap ini, mereka beranak-pinak dari generasi ke generasi, sehingga tumbuh menjadi sebuah komunitas atau masyarakat. Perubahan sosial dari manusia nomaden menjadi masyarakat yang menetap ini dipengaruhi oleh cara produksi: dari food gathering menjadi pertanian (termasuk peternakan).

Dalam masyarakat pertanian (agraris), semua pekerjaan didistribusikan di antara anggota keluarga untuk mengolah tanah yang luas dan hewan ternak yang banyak. Semua dilakukan dengan kerja otot: menanam, memupuk, memberi makan ternak, memanen, dan lain-lain. Semua kebutuhan harus dipenuhi sendiri. Ketika anggota masyarakat semakin banyak dan barang-barang dan jasa semakin banyak dibutuhkan, maka sebagian di antara mereka ada yang mengembangkan industri untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan untuk kehidupan masyarakat sehari-hari: misalnya alat-alat pertanian, alat-alat rumah tangga, barang konsumsi, jasa transportasi, dan lain-lain. Produksi barang-barang dan jasa tersebut membutuhkan distribusi yang menjangkau masyarakat, sehingga memunculkan sektor baru: perdagangan, sehingga membutuhkan mata uang sebagai alat tukar. Maka, cara produksi masyarakat mengalami diversifikasi. Perubahan dan diversifikasi cara produksi ini pada akhirnya mengakibatkan perubahan sosial: munculnya kelas-kelas sosial baru. Munculnya mata uang menyebabkan adanya akumulasi uang pada beberapa orang tertentu, sehingga memunculkan adanya orang-orang kaya. Sementara dalam industri, muncul adanya majikan dan buruh.

Pada akhir abad ke-18, James Watt menemukan mesin uap yang bisa diaplikasikan dalam industri. Hal ini pun akhirnya menggeser cara produksi lama dalam industri. Sebelumnya, industri hanya mengandalkan tenaga manusia dan hewan untuk produksi barang dan jasa, sehingga kapasitas produksinya sangat terbatas. Penemuan mesin uap ini sangat bermanfaat bagi percepatan industri. Hal ini mendorong Revolusi Industri di Inggris, dan memulai babak baru: Revolusi Industri 1.0. Dengan aplikasi mesin uap dalam industri, produksi barang dan jasa mengalami peningkatan sangat pesat. Demikian juga aplikasi mesin uap dalam jasa transportasi (kereta api dan kapal uap) menjadikan pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih singkat. Perubahan cara produksi ini mendorong perubahan sosial lebih jauh lagi. Orang-orang kaya semakin banyak mengakumulasikan uang, sehingga mereka semakin sangat kaya. Dengan kekayaan itu mereka bisa ekspansi: membeli lahan, mempekerjakan banyak orang, bahkan menyewa tentara bayaran. Di Eropa, ekspansi itu bahkan sampai merambah ke negeri jajahan: ada banyak investor membeli lahan yang sangat luas di negeri jajahan untuk membuka perkebunan demi menghasilkan komoditas yang mahal untuk men-supply bahan baku industri di Eropa. Di Nusantara, ekspansi itu semakin mempertajam eksploitasi kolonial: perbudakan, pergundikan, penaklukan, dan lain-lain. Akibatnya, masyarakat pribumi semakin tersungkur di bawah penindasan kolonialisme, termasuk ummat Islam.

Baca Juga:   Inovasi Sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah

Pada abad ke-19, Michael Faraday menyempurnakan konsep tentang listrik dan medan magnet yang sudah dikembangkan oleh banyak ilmuwan semenjak abad ke-15, sehingga menghasilkan konsep generator listrik yang tercipta melalui medan magnet. Konsep ini kemudian dikembangkan sedemikian rupa oleh para penemu lainnya untuk mengembangkan listrik demi memenuhi kebutuhan sehari-hari: Misalnya Thomas Alva Edison memanfaatkan listrik untuk menghidupkan lampu listrik dengan arus searah (DC/direct current); Alexander Graham Bell memanfaatkan listrik untuk mengembangkan alat komunikasi (telepon); dan Nikola Tesla menyempurnakan listrik dengan sistem kelistrikan bolak-balik (AC/alternating current). Penemuan-penemuan yang berkaitan dengan listrik ini sangat bermanfaat bagi industri, dan mengubah cara produksi secara signifikan, sehingga memunculkan generasi industri berikutnya: Industri 2.0. Teknologi listrik dimanfaatkan untuk menggerakkan lini produksi dengan menggunakan conveyor belt dari satu sektor ke sektor lainnya dalam sebuah industri, sehingga tercipta spesialisasi dan percepatan produksi. Industri manufaktur transportasi termasuk salah satu industri yang sangat diuntungkan dengan teknologi listrik ini. Pada perang dunia kedua, cara produksi ini mampu menghasilkan mesin perang (tank, pesawat tempur, kapal perang, mobil, kereta api, dan lain-lain) dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat, siap memusnahkan sejumlah besar orang secara massif dalam peperangan. Meskipun demikian, manfaat listrik bagi kehidupan manusia tetaplah sangat besar daripada mudlarat-nya.

Pada pertengahan abad ke-20, sejumlah penemuan semakin menyempurnakan mesin otomatis: Komputer. Komputer ini bisa mengatur mesin-mesin berproduksi secara otomatis, tanpa dikendalikan oleh manusia secara intensif, sehingga meminimalkan human error. Hal ini semakin meningkatkan kapasitas produksi dalam jumlah yang sangat massif, waktu yang sangat efisien, dan akurasi yang sangat presisi. Cara baru produksi ini dikenal dengan Industri 3.0. Akibatnya, tenaga kerja manusia yang bergerak dalam industri bisa dikurangi secara signifikan, sehingga muncul gelombang besar pengangguran. Dalam kondisi seperti ini, mereka yang kuatlah yang akan bertahan: kaya, cerdas, inovatif, dan kreatif.

Pada akhir abad ke-20, teknologi internet menjadi semakin maju. Teknologi ini bisa mempercepat arus informasi dari satu tempat ke tempat lainnya di muka bumi, bahkan secara real time dan virtual. Kuncinya ialah kecepatan, sehingga menjadikan bumi yang seluas ini seakan tanpa jarak, karena semua informasi yang paling terkini bisa diketahui secara real time. Cara baru ini hampir meruntuhkan platform informasi berbasis media cetak dengan mengintroduksi cara baru produksi informasi berbasis internet. Hal ini memunculkan generasi baru dalam industri: Industri 4.0. Pada awal abad ke-21, kemajuan dalam teknologi internet ini semakin disempurnakan dengan munculnya banyak inovasi berbasis social media. Hal ini mendorong munculnya era disrupsi, dimana setiap orang bisa memanfaatkan platform informasi berbasis social media untuk menyebarkan gagasannya, mengenalkan dirinya, mempromosikan produknya, mengkampanyekan kegiatannya, dan mempengaruhi orang lain, tanpa bergantung pada media-media besar dan konvensional, seperti stasiun televisi, penerbit suratkabat atau majalah, atau penerbit buku. Cara baru ini hampir meruntuhkan media-media besar tersebut.

Baca Juga:   Kolonialisme dan Kebangkitan Islam

Itulah sejarah perkembangan industri sebagai cara produksi manusia dalam kehidupannya. Seiring dengan dinamika pemikiran manusia, generasi baru industri akan terus tumbuh dengan segala kompleksitasnya.

 

Motivasi Pendirian Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan ketika bangsa-bangsa Eropa sudah menapaki era industri 2.0., sementara ummat Islam di Nusantara belum beranjak sama sekali dari masyarakat agraris. Kaum pribumi Muslim saat itu hampir tersingkir dari peradaban utama. Mereka tersungkur di berbagai pelosok pedesaan, tanpa pendidikan, bodoh, miskin, dan terbelakang. Sementara bangsa-bangsa lain sudah melaju kencang dengan peradaban yang maju. Apa yang salah dengan ummat Islam?

Biasanya, orang akan mudah terjebak untuk menyalahkan: bahwa kolonialisme-lah penyebab keterbelakangan ummat Islam. Memang, itulah penyebab kasat mata dan tak perlu diperdebatkan. Akan tetapi, ummat Islam sendiri sebenarnya punya andil atas keterbelakangan dirinya sendiri. Ada banyak hal dalam diri ummat Islam yang menjadi penyebab utama kelemahannya. Akan tetapi, hal itu seringkali tidak disadari oleh ummat Islam sendiri.

Dalam konteks itulah Muhammadiyah dan Aisyiyah lahir sebagai sebuah pendekatan kritis terhadap masyarakatnya. Pendekatan kritis ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran ummat Islam agar bangkit memperkuat dirinya. Evolusi sejarah manusia seringkali menghasilkan orang-orang yang lemah dan orang-orang yang kuat. Mereka yang kuat akan bisa memenangkan pertandingan dalam panggung arena kehidupan sosial. Sementara mereka yang lemah akan kalah dan tersingkir. Muhammadiyah dan Aisyiyah muncul untuk membela mereka yang lemah dan mentransformasikannya menjadi kekuatan baru yang selalu siap bertanding dalam panggung sejarah.

 

Kritik terhadap Sinkretisme Islam

Salah satu poin utama kritik Muhammadiyah terhadap ummat Islam sendiri ialah praktik sinkretisme, yaitu pencampuran ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lokal. Praktik ini mengandung kesalahan besar dalam tauhid, karena praktik ini menjurus pada kesyirikan. Di samping itu, praktik ini melemahkan mental ummat Islam, karena mereka hanya mengandalkan kekuatan-kekuatan supranatural dari tradisi animisme/dinamisme, sehingga mereka menjadi kehilangan rasionalitasnya. Mereka tidak memiliki effort untuk maju, dan berpikiran instan dengan mengandalkan kekuatan supranatural.

Muhammadiyah juga mengkritik adanya kepercayaan terhadap ramalan-ramalan. Salah satu ramalan yang terkenal dalam masyarakat Jawa ialah ramalan Jayabaya. Isi ramalan itu memprediksi keadaan yang akan dialami oleh orang Jawa: bahwa orang Jawa akan mengalami sebuah zaman modern, tetapi mereka justru kehilangan jati diri, tatanan sosial akan berantakan, dan orang Jawa kehilangan pegangan hidup. Ramalan tersebut sekilas tampak mempesona, tetapi mengandung cacat teologis dan historis. Pertama, percaya pada ramalan dengan sendirinya terjebak dalam kesyirikan. Kedua, semua perubahan cara produksi (termasuk modernisasi) selalu meniscayakan perubahan sosial. Hal itu merupakan sesuatu yang biasa saja dalam sejarah manusia. Manusia pasti mampu membuat tatanan baru untuk menyesuaikan dengan dinamika yang ada. Oleh karena itu, orang Jawa (dan ummat islam pada umumnya) tidak perlu pesimis terhadap masa depan orang Jawa. Mereka harus optimis memandang masa depan dengan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan modern untuk bekal dalam kehidupan modern.

Bagi Muhammadiyah, agama yang terlampau berdimensi mistis — tidak rasional — akan jatuh pada kejumudan. Dan jika agama jatuh pada kejumudan, ia kehilangan dimensi kesadarannya untuk memberdayakan ummatnya. Ummat Islam sudah memasuki abad modern. Abad modern ini hampir sama dengan masa kejayaan Islam pada abad pertengahan dimana rasionalitas dikedepankan oleh ummat Islam sehingga berhasil mencapai puncak peradaban dunia pada saat itu.

Baca Juga:   Islam Berkemajuan

 

Kritik terhadap Pendidikan Islam

Ada sebuah anggapan pada masa kolonial bahwa bangsa Eropa merupakan bangsa kafir, sehingga apapun yang dibawa oleh bangsa Eropa (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) tetaplah kafir. Oleh karenanya, mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka bawa merupakan perbuatan munkar, apalagi menirunya. Banyak lembaga pendidikan Islam pada saat itu mengharamkan pelajaran sains dan teknologi, sehingga hanya berfokus dalam pelajaran agama.

Bagi Muhammadiyah, anggapan tersebut terlalu naif. Ilmu pengetahuan dan teknologi, meskipun dibawa oleh bangsa Eropa, tetaplah bermanfaat bagi ummat Islam. Sepanjang ummat islam memiliki iman yang kuat, mereka tidak akan pernah menjadi kafir hanya dengan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibawa oleh bangsa Barat. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam harus mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kurikulum mereka, serta bisa mengadopsi sistem pendidikan yang mereka kembangkan. Atas dasar itu, Muhammadiyah menginisiasi sekolah-sekolah Muhammadiyah sejak zaman kolonial dengan memadukan kurikulum agama dan sains dalam pendidikan Islam.

 

Kritik terhadap Kejumudan Agama

Salah satu poin utama penyebab kemunduran ummat Islam ialah kejumudan agama: agama hanya berhenti pada dogma dan ritual, tidak memiliki respons terhadap dinamika sosial. Jika agama jatuh pada kejumudan, ia menjadi rentan dengan ghashab — pencurian dan pembajakan — untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu. Sebab, kejumudan hanya menghilangkan kesadaran, menghilangkan rasionalitas, menghilangkan kritisisme terhadap struktur di luar agama. Agama menjadi rentan diseret pada relasi kuasa tertentu; dijadikan tunggangan untuk kepentingan tertentu; dijadikan dalih untuk melakukan sesuatu yang merefleksikan kuasa-kuasa semu.

Inilah yang menjadi salah satu kritik utama Muhammadiyah terhadap ummat Islam sendiri. Agama tidak boleh jatuh pada kejumudan, sehingga ia akan secara alamiah mendorong proses transformasi; pembaharuan secara terus-menerus. Islam mengistilahkanya dengan tajdid. Untuk menemukan formulasi pembaharuan itu diperlukan ijtihad: menginterpretasikan teks-teks suci untuk memformulasikan langkah dan strategi baru yang relevan dengan masa kini.

 

Kritik terhadap Patriarkhisme

Atas nama budaya, masyarakat pada masa lalu sering mendomestikasi perempuan menjadi warga kelas dua. Mereka hanya bergerak di sektor 3M: masak, macak, manak (memasak, berhias, dan melahirkan. Mereka tak diberi kesempatan untuk belajar membaca dan menulis, sesuatu yang berguna untuk bergerak di sektor publik. Mereka dimarginalisasi sedemikian rupa sehingga tidak memiliki kompetensi apapun sebagai kapital sosial. Akibatnya, mereka sepenuhnya bergantung pada relasi kuasa laki-laki, sehingga posisinya sangat rentan terhadap kekerasan.

Dalam hal ini, Muhammadiyah sangat kritis terhadap budaya patriarkhis ini. Bagi Muhammadiyah, laki-laki dan perempuan diciptakan sederajat, sebagaimana pesan dalam ajaran Islam. Tidak sepatutnya perempuan dimarginalkan. Oleh karena itu, Muhammadiyah membuat terobosan untuk menyetarakan kaum perempiuan dengan mendirikan Aisyiyah: organisasi perempuan Muhammadiyah. Di sinilah kaum perempuan bisa memberdayakan dirinya dan berpartisipasi lebih luas di ranah publik.

 


Evaluasi Perkuliahan Tema 4: Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai Kritik Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?