Narasi
Agama

Iman, Islam, dan Kerja


Pengantar Redaksi

Islam menghargai orang-orang yang bekerja. Oleh karena itu, iman dan amal saleh seringkali disebut dalam al-Quran. Keduanya sangat berkait erat. Keimanan seseorang harus terefleksikan melalui amal saleh. Dalam makna lingualnya, amal saleh ialah kerja yang membawa maslahat (kebaikan). Nah, dalam edisi kali ini, Redaksi menurunkan sebuah artikel tentang Kerja dalam Konsep Islam. Artikel ini ditulis oleh Armansyah Walian, dan sudah dipublikasikan dalam Jurnal An-Nisa’a, Vol. 8, No. 1, Juni 2013.


 

Menurut Ibnu Khaldun rezeki dan nafkah adalah sama, yaitu penghasilan atau keuntungan yang berguna dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan (Ibnu Chaldun, 1963: 107). Hakekat pengertian rezeki dan nafkah adalah manakala seseorang mendapatkan sesuatu yang dipergunakan dengan hemat dan cermat, tidak boros, serta disesuaikan dengan pokok-pokok keperluan hidup sebagai manusia, maka ia merasakan nikmatnya sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rosulullah SAW: “Sesuatu barang yang kamu miliki (yang sesungguhnya) ialah apa-apa yang telah kamu makan hingga habis, atau apa-apa yang telah kamu pakai hingga ia rusak, atau apa-apa yang telah kamu berikan (zakat) dengan dikeluarkan dari tanganmu” (Ibnu Chaldun, 1963: 100).

Namun demikian ada rezeki yang didapat hanya dengan jalan berusaha, berikhtiar dan bekerja, apakah dengan kerja keras ataupun tidak dan seberapa besar yang diperoleh seseorang tergantung usaha yang dilakukannya. Oleh karena itu rezeki bisa diperoleh apabila seseorang terjun ke lapangan pekerjaan (ma’asyi/ ’amal ), sebab kerja seorang muslim yang sesuai dengan ketentuan Islam merupakan sumber utama keuntungan, pendapatan, maupun pembentukkan modal.

Baca Juga:   Ibn Battutah: Penjelajah dari Dunia Muslim
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?