Narasi
Sosial

Kolonialisme dan Kebangkitan Islam

Pasca-runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani, ummat Islam mengalami kemunduran. Parahnya, kemunduran itu dimanfaatkan oleh bangsa-bangsa Eropa untuk memperluas kolonialisme ke seluruh permukaan bumi. Wilayah Asia, Afrika, Australia, dan Amerika, sepenuhnya dijelajahi dan dieksploitasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Dengan demikian, ummat Islam mengalami kemalangan yang beruntun: kemunduran dan penindasan.

Di Nusantara, dimana Islam sudah berkembang menjadi banyak entitas politik berupa kerajaan-kerajaan Muslim yang tersebar di seluruh Nusantara, kolonialisme bercokol sejak kehadiran Portugis, disusul Spanyol dan Inggris, kemudian digantikan Belanda. Penetrasi kolonial ini merugikan etnis pribumi, dan dalam jangka panjang merusak mental dan moral ummat Islam: bahwa ketidakberdayaan mereka merupakan taqdir yang harus diterima dan tidak perlu dilawan. Inilah yang menjadi entry point yang cukup penting bagi ulama-ulama visioner untuk menanamkan visi kebangkitan Islam bagi ummat Islam yang tersungkur di bawah penindasan kolonialisme.

 

Kebangkitan Eropa dan Kolonialisme

Abad pertengahan merupakan masa kegelapan bagi bangsa Eropa, tetapi juga merupakan era kejayaan bagi bangsa Muslim. Ketika bangsa-bangsa Muslim mengalami kejayaan, para visioner Eropa turut menyerap berbagai pengetahuan dari Dunia Islam. Dalam jangka panjang, hal ini ditransformasikan dalam budaya Eropa: renaissance (pencerahan). Maka, Eropa mulai mengalami masa penemuan (Age of Discovery) dan masa perluasan kekuasaan (Age of Expansion) semenjak abad ke-15. Sejak saat itu, bangsa-bangsa Eropa mencoba bangkit dari ketertinggalan mereka dari bangsa-bangsa Muslim.

Kebangkitan Eropa dalam penjelajahan ke seluruh belahan bumi ini juga merangsang ketamakan, sehingga gereja Katolik mengimbanginya dengan misi keagamaan. Oleh karena itu, misi penjelajahan Eropa selalu membawa semboyan: gold, gospel, glory (emas, gereja, dan kejayaan). Perjanjian Saragossa dan Thordesillas, yang menjadi penengah antara ketamakan Portugis dan Spanyol (2 bangsa Katolik), secara jelas menunjukkan adanya intervensi gereja dalam inisiasi awal misi penjelajahan bangsa-bangsa Eropa. Misi penjelajahan itu pada akhirnya ditambahi muatan dagang, sehingga menghasilkan keuntungan yang berlimpah.

Keuntungan yang besar dari misi dagang dan pelayaran ini mendorong bangsa-bangsa Eropa non-Katolik untuk turut mengambil peran dalam misi perdagangan itu. Salah satunya ialah Belanda. Belanda bahkan membentuk sebuah kongsi dagang yang dikenal dengan VOC. Misi VOC ini unik, karena sebagai sebuah kongsi dagang mereka juga diizinkan membawa misi politik dan militer: diizinkan membawa tentara dan menaklukkan sebuah wilayah. Maka, VOC pun menangguk keuntungan yang sangat besar, dan menjadi sebuah perusahaan multi-nasional yang paling besar di dunia sampai akhir abad ke-18. Karena ketamakan pula, VOC akhirnya bangkrut, sehingga wilayah yang ditaklukkannya diambil alih oleh Kerajaan Belanda.

Baca Juga:   Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai Kritik Sosial

Di Nusantara, VOC hampir menguasai seluruh wilayah Nusantara (wilayah Indonesia saat ini). Ketika VOC bangkrut pada awal abad ke-19, praktis seluruh wilayah koloninya diambil alih oleh Kerajaan Belanda sampai Indonesia merdeka pada tahun 1945.

 

Kerusakan Moralitas dan Mentalitas Ummat Islam di Bawah Kolonialisme

Salah satu cacat moral kolonialisme sepanjang sejarah ialah ketamakan, sehingga mereka sangat eksploitatif di negeri jajahan. Hal pertama yang mereka lakukan ialah mengikat kontrak dengan elit kerajaan untuk monopoli perdagangan rempah, sehingga pribumi tidak bisa menjual hasil bumi secara bebas dengan harga tertinggi. Akibatnya, pribumi mengalami kerugian dan kemerosotan ekonomi. Sementara itu, mereka menjualnya dengan harga sangat tinggi di pasar Eropa.

Strategi politik untuk melakukan monopoli perdagangan rempah ialah devide et impera. Mereka mengadu domba komunitas satu dengan komunitas lain, sehingga orang-orang dari suku-suku yang ada di Nusantara saling berperang. Dalam perang yang melelahkan dan melemahkan, salah satu di antara mereka mengundang intervensi kolonial untuk membantu. Tentunya, setiap intervensi selalu ada pamrih: berupa konsesi monopoli, tanam paksa, penguasaan wilayah, dan lain-lain.

Salah satu segment yang diantisipasi sejak dini oleh kaum Kolonial ialah perlawanan. Mereka tahu, Islam memiliki potensi perlawanan, karena ummat Islam pernah memiliki sejarah panjang sebagai super power dunia. Sebagai salah satu basis bangsa Muslim di dunia, Nusantara juga merupakan wilayah yang perlu diwaspadai sebagai basis perlawanan terhadap kolonialisme. Oleh karena itu, kaum kolonial sudah mengantisipasinya secara dini.

Strategi utama mereka lakukan ialah menciptakan konstruksi tentang stratifikasi sosial, dimana pribumi menduduki kelas terendah, sementara orang Eropa menduduki kelas tertinggi. Hal ini dilegitimasi melalui hukum kolonial. Stratifikasi sosial ini merupakan cara yang disengaja untuk mencegah munculnya semangat perlawanan pribumi. Caranya sederhana: menanamkan mindset (cara berpikir) bahwa orang pribumi itu bermental rendah, pemalas, bodoh, miskin, terbelakang. Oleh karena itu, pribumi harus tahu diri dan takdir itu diterima saja apa adanya.

Baca Juga:   Kapita Selekta Sejarah Dunia Islam

Strategi yang kedua untuk mengeliminasi perlawanan dari ummat Islam ialah menjauhkan ummat Islam dari pemahaman agama yang memadai. Kaum kolonial sangat menyadari bahwa Islam memiliki potensi perlawanan yang besar. Semua hal itu diajarkan dalam Kitab Suci al-Quran dan Sunnah Nabi, serta Sejarah Islam. Oleh karena itu, orang Islam harus dicegah dari pemahaman agama yang komprehensif. Akan tetapi, melarang ummat Islam untuk melaksanakan ritual Islam jelas tidak mungkin. Hal ini justru akan menimbulkan perlawanan juga. Oleh karenanya, ummat Islam justru didorong dan difasilitasi untuk melaksanakan ritual Islam semata, tetapi tidak diizinkan untuk memahami Islam secara komprehensif. Para pemimpin Muslim dan ulama yang kritis terhadap pemerintah Kolonial ditangkap dan dibuang. Ummat Islam dibiarkan tanpa pendidikan, sementara pesantren hanya mengajarkan ritual Islam.

Strategi untuk mencegah dan mengeliminasi perlawanan ini sangat jitu untuk melemahkan potensi perlawanan ummat Islam. Para pribumi Muslim mengalami dekadensi moral dan spiritual. Agama hanya menjadi pelarian di tengah tekanan ekonomi dan politik kolonial. Mereka, dalam waktu yang lama sekali, tidak bisa melakukan perlawanan, karena mental untuk melawan sudah lama hilang dari kesadaran mereka.

 

Perempuan di Bawah Penindasan Kolonialisme

Di bawah keangkuhan kolonialisme, perempuan dinistakan sebagai makhluk kelas dua. Pada abad ke-18, ketika banyak perkebunan besar dibuka di seluruh Nusantara, ada banyak sekali lajang Eropa datang ke Nusantara untuk bekerja di perkebunan-perkebunan, dan juga sebagai tentara kolonial. Sebagai lajang mereka membutuhkan pelampiasan nafsu seksual. Oleh karenanya, mereka mengambil gadis-gadis pribumi sebagai gundik (istri simpanan), dan kedudukannya tak pernah diakui oleh hukum kolonial.

Di samping itu, sebagaimana budaya klasik Eropa, perempuan didomestikasi sedekimian rupa, sehingga tidak memiliki hak di ruang publik. Akses perempuan terhadap pendidikan hampir tidak ada. Hal itu pernah direfleksikan Kartini sebagai perempuan di abad ke-19: perempuan terbelenggu oleh budayanya sendiri. Hal ini menyebabkan perempuan semakin termarginalisasi dalam ruang kolonial.

Baca Juga:   Jaringan Struktural dan Program-Program Muhammadiyah/Aisyiyah

 

Seruan Kebangkitan Islam

Meskipun pemerintah kolonial telah berusaha maksimal untuk mencegah potensi perlawanan pribumi, ummat Islam tetap menemukan celah untuk mendapatkan pencerahan Islam. Celah itu muncul dari ritual Islam sendiri: Haji. Haji merupakan ritual Islam yang dilaksakan secara terpusat di Kota Suci Makkah.

Dengan perkembangan teknologi pelayaran modern pada abad ke-19, perjalanan haji dari Nusantara ke Makkah relatif lebih singkat. Meskipun demikian, hanya sedikit orang yang bisa menunaikan ibadah haji, karena beaya perjalanannya masih belum terjangkau oleh sebagian besar ummat Islam. Orang-orang yang menunaikan ibadah haji pada saat itu biasanya diniatkan juga menuntut ilmu di Makkah, berguru pada ulama terkemuka di kota suci ini. Merekalah yang di kemudian hari menjadi ulama terkemuka yang menginspirasi ummatnya untuk membangun kesadaran tentang kebangkitan Islam.

Ibadah haji merupakan ibadah yang kosmopolitan, karena ibadah ini dihadiri oleh jamaah haji dari seluruh dunia. Akibatnya, dalam ibadah ini terjadi interaksi global, dan menjadi transmisi gagasan dari ummat Islam seluruh dunia dalam menemukan solusi bagi kebangkitan ummat Islam. Di dalamnya terdapat banyak inspirasi yang mencerahkan dari para intelektual Muslim pembaharu, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridla, untuk merevitalisasi ajaran Islam demi kemaslahatan dan kebangkitan ummat Islam.

Implikasi dari interaksi global tersebut baru dirasakan pada awal abad ke-20, dimana generasi baru ummat Islam mengorganisasi diri dalam gerakan Islam modern, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Syarikat Islam, dan lain-lain. Mereka menempuh perjuangan yang berdimensi jangka panjang: membangun kesadaran kebangkitan Islam melalui pendidikan dan gerakan sosial.

Output pendidikan dan gerakan sosial inilah yang menjadi motor penggerak dalam gerbong kemerdekaan negeri ini. Mereka anak-anak bangsa yang telah berpikiran merdeka sebelum negeri ini merdeka, tanpa memandang status gender mereka. Para perempuan di organisasi-organisasi Islam pada abad ke-20 memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Bahkan, perempuan bisa mengorganisasi diri untuk mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki. Mereka bahkan mengorganisasikan kongres perempuan yang sangat fenomenal pada awal abad ke-20 untuk menyuarakan hak-hak mereka.

 


Evaluasi Perkuliahan Tema 3: Kolonialisme dan Kebangkitan Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?