Narasi
Agama

Kesalehan Transformatif

Nabi Muhammad merupakan uswah hasanah, teladan terbaik bagi ummat manusia. Sebagai ummat Islam, kita perlu melanjutkan misi kenabian di era kontemporer. Dalam sejarahnya, misi kenabian pertama ialah mengajak umat untuk beriman dan bertakwa kepada Allah, serta memberlakukan syariat Islam. Artinya, beliau mengajarkan kesalehan individual. Akan tetapi, Nabi tidak berhenti sampai di situ. Misi kenabian selanjutnya ialah kesalehan sosial, yaitu membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta): seperti akhlaq yang terpuji, solidaritas, keadilan, kedermawanan, musyawarah, dan lain-lain. Hal itu benar-benar terwujud ketika Nabi Muhammad membangun negara kota Madinah.

Secara historis, Nabi membangun sistem kehidupan politik, sosial, dan keagamaan yang damai, adil, dan rukun melalui Piagam (Konstitusi) Madinah. Piagam ini memberikan jaminan keamanan jiwa, kebebasan beragama, dan kepemilikan properti kepada umat beragama berbeda. Karena itu, Madinah merupakan bukti kerukunan dan persatuan lintas etnis, klan, agama, dan juga antarkelompok pendatang atau Muhajirun dan kelompok Anshar (pribumi Madinah).

Hal yang tak kalah pentingnya juga ialah akhlaq al-karimah: kehalusan budi pekerti, kedermawanan, kedisplinan, kesetiakawanan, dan lain-lain. Nabi Muhammad benar-benar memberikan pengajaran akhlaq al-karimah yang paling otentik, karena beliau sendiri yang mengamalkannya. Keteladanan Nabi ini beresonansi membentuk akhlaq sosial di kalangan para sahabat dan pengikutnya. Allah bahkan memuji akhlaq beliau di dalam al-Quran:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS. Al-Ahzab/33: 21)

 

Apa yang dilakukan Rasulullah itu tak lain adalah perpaduan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial yang bersumber dari agama secara komprehensif (kaffah). Kepaduan di antara berbagai kesalehan ini menjadi kunci kesuksesan Nabi Muhammad dalam membangun negara kota Madinah menjadi cradle of Islamic civilization (tempat lahir peradaban Islam).

Lebih jauh, pengalaman Nabi Muhammad di negara kota Madinah itu merupakan inovasi sosial yang sangat maju pada zamannya. Akan tetapi, ummat Islam yang datang belakangan seringkali lebih mengutamakan kesalehan individual semata, dan mengabaikan kesalehan sosial. Padahal, ajaran Nabi Muhammad sangat menekankan bahwa kesalehan individu harus ditransformasikan lebih luas menjadi kesalehan sosial, sehingga menjadi kesalehan transformatif.

Keadaan memprihatinkan ini banyak bersumber dari keterbelahan antara kesalehan agama individual-personal dan kesalehan sosial. Dalam praktiknya sering tidak terlihat korelasi di antaranya, yang membuat berlanjutnya berbagai bentuk kenestapaan dalam komunitas ummat Islam, seperti kemiskinan, intoleransi, konflik, terorisme, perang, bahkan di antara umat seagama. Kesalehan individual-personal di kalangan umat beragama di Indonesia terus meningkat. Peningkatan itu terkait dengan stabilitas politik dan sosial yang memungkinkan membaiknya ekonomi, pendidikan, dan sosial banyak warga. Perkembangan itulah yang membuat semakin banyak berbagai rumah ibadah didirikan. Kian banyak pula di antara umat yang  pergi haji, umrah, dan ziarah lain. Juga terlihat peningkatan jumlah dana filantropi untuk kepentingan agama dan sosial. Semua gejala ini bertumbuh seiring peningkatan ekspresi personal kesalehan (piety) lain; misalnya penggunaan pakaian yang dipandang lebih sesuai tuntunan agama. Gejala ini paling terlihat di kalangan kaum perempuan Muslimah Indonesia yang kian banyak menggunakan jilbab dan hijab.

Baca Juga:   Iman, Islam, dan Kerja

Namun, peningkatan kesalehan individual personal tidak banyak mengimbas dalam kesalehan sosial. Ekspresi kesalehan sosial baru terwujud dalam pemanfaatan dana filantropi membantu kaum fakir miskin secara ad hoc dan korban bencana alam, serta pembangunan berbagai fasilitas lembaga keagamaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri, seperti rumah sakit Indonesia di Gaza dan Rohingya. Di luar itu, kesalehan sosial-politik (socio-political piety) masih jauh dari harapan.

Karena itu, banyak orang memiliki dua muka. Seperti kutipan dari sastrawan Shakespeare, Tuhan menciptakan manusia dengan satu muka, tetapi manusia membuat wajah lain. Dalam bahasa agama, dua muka adalah munafik. Wajah ganda mencerminkan kesenjangan individual dengan kesalehan sosial itu terlihat jelas. Di antaranya merajalelanya korupsi, meningkatnya pelanggaran hukum dan ketertiban umum, serta merosotnya keadaban publik. Korupsi di Tanah Air sudah menjangkiti masyarakat dari tingkat atas sampai akar rumput.

Pada saat yang sama, berbagai penelitian atau survei menunjukkan masyarakat masih saja permisif terhadap korupsi. Gejala ini menunjukkan sikap putus asa dan menyerah pada “keharusan” menoleransi korupsi. Masalahnya, kesalehan individual personal lebih banyak muncul dari dorongan internal diri sendiri. Dorongan internal ini  tidak  fungsional  membentuk  kesalehan  sosial-politik.  Tidak   ada driving force dalam diri untuk mewujudkan kesalehan sosial-politik. Karena itulah kesalehan sosial perlu dibentuk dan dibudayakan, karena ajaran Islam menegaskan adanya konsekuensi dari kesalehan individual agar bisa beresonansi lebih luas menjadi kesalehan transformatif.

 

Efek Ibadah Individual terhadap Kesalehan sosial

Perintah-perintah agama yang berkaitan dengan ibadah individual selalu memperlihatkan fungsi dan tugas ganda. Pada satu sisi ia merupakan cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, membebaskan diri dari syirik, dan pada saat yang sama ia menyatakan tuntutannya kepada manusia untuk melakukan tanggungjawab sosial dan kemanusiaan.

 

A. Ibadah Shalat

Shalat merupakan salah satu rukun Islam. Artinya, ibadah ini wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Dalam syariat Islam, setiap Muslim wajib melaksanakan shalat sebanyak 5 kali dalam sehari, dan selebihnya bisa melaksanakan shalat-shalat sunnah lainnya.

 

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku (QS. Taha/20: 14)

 

Meskipun shalat merupakan salah satu bentuk ritual ibadah kepada Allah, al-Quran menegaskan adanya transformasi yang lebih luas dari ibadah ini, bahwa shalat haruslah mampu mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.

 

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-‘Ankabut/29: 45)

 

Lebih tegas lagi, Allah justru mengutuk orang yang shalat tetapi enggan memberikan pertolongan kepada sesamanya. Allah mengkategorikan mereka sebagai pendusta agama.

 

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ – فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ – الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ – الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ – وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

Baca Juga:   Iman dan Lingkungan Hidup

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan (QS. al-Ma’un/107: 1-7)

 

Surat pendek tersebut semakin mengukuhkan betapa kesalehan Islam bersifat transformatif. Ibadah shalat yang merupakan ritual yang diajarkan Islam untuk terhubung dengan Allah justru harus memiliki konektivitas dengan lingkungan sosialnya.

 

B. Ibadah Puasa

Ibadah puasa juga merupakan salah satu rukun Islam. Syariat Islam bahkan mewajibkan Muslim untuk berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadlan. Di samping itu, Nabi Muhammad juga mengajarkan banyak puasa sunnah yang bisa dilakukan oleh ummat Muslim.

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah/2: 183)

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa output ibadah puasa ialah taqwa, sebuah pencapaian tertinggi dalam kesalehan, karena pribadi yang bertaqwa akan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan kesadaran penuh karena Allah semata.

 

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ – الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran/3: 133-134)

 

Berdasarkan beberapa ayat al-Quran di atas, output puasa ialah taqwa, dan salah satu ciri taqwa ialah berbuat kebaikan bagi sesama. Artinya, ibadah puasa tetap meniscayakan resonansi kebaikan bagi sesama manusia.

 

C. Ibadah Zakat

Zakat merupakan kewajiban untuk mengeluarkan sejumlah harta dalam ukuran atau hitungan tertentu secara periodik untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, seperti faqir dan miskin. Dalam al-Quran, perintah zakat seringkali dirangkai bersama perintah shalat.

 

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang yang ruku’ (QS. al-Baqarah/2: 43)

 

Ada 2 jenis ibadah zakat: zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah dilaksanakan setiap bulan Ramadlan, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa setiap Muslim agar kembali ke fitrah (kesucian jiwa). Sementara zakat mal dilaksanakan ketika kita sudah mengakumulasi sejumlah harta yang sudah mencapai nishab (ukuran atau jumlah tertentu yang ditentukan oleh syariat).

 

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (QS. al-Taubah/9: 103)

 

Dari bentuk pelaksanaannya, ibadah zakat ini sudah jelas memiliki implikasi sosial secara langsung, karena sasaran ibadah ini ialah para mustadl’afin (orang-orang yang lemah secara sosial dan ekonomi). Sejak zaman Nabi, pengelolaan zakat dan harta benda yang dimiliki publik sudah dilaksanakan secara profesional dengan mendirikan bait al-mal, sehingga penyalurannya menjadi terarah. Atas dasar itu, maka pengelolaan zakat di era modern semakin dikembangkan agar santunan yang diberikan kepada para mustadl’afin semakin memberdayakan mereka secara produktif dalam jangka panjang, bukan hanya menolong mereka sesaat.

Baca Juga:   Ibadah: Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Sosial

 

D. Ibadah Haji

Ibadah Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim (terutama bagi yang mampu). Pelaksanaannya setahun sekali (bulan Dzulhijjah), terpusat di Makkah, Kota Suci Ummat Islam dan episentrum sejarah peradaban Islam.

 

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ – فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًا ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam (QS. Ali Imran/3: 96-97)

 

Di samping sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah, ibadah haji juga melambangkan kesatuan, kesetaraan, dan persaudaraan umat manusia sedunia. Hal ini dilambangkan dengan pemakaian 2 helai kain ihram selama pelaksanaan ibadah haji, tanpa wangi-wangian, penutup kepala, dan alas kaki. Semua atribut keduniaan harus ditanggalkan: tidak ada tanda pangkat, tidak ada tanda kesukuan atau kebangsaan, tidak ada tanda kekayaan. Semuanya mengenakan pakaian ihram, bersimpuh di hadapan Allah pada saat wuquf di padang Arafah, inti dari ibadah haji.

 

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa semua ritual Islam memiliki dimensi sosial. Masih banyak lagi ibadah ritual yang juga memiliki resonansi sosial, seperti ibadah Qurban, infaq, dan shadaqah. Kesemuanya memiliki efek sosial secara langsung demi pemberdayaan masyarakat.

Ketika ritus-ritus personal tersebut (ibadah individual) tidak melahirkan efek kesalehan sosial, apalagi malah melahirkan sikap-sikap hidup negatif atau destruktif terhadap kepentingan sosial kemasyarakatan, seperti terorisme, maka hal itu merupakan kesia-siaan dan sebuah kebangkrutan agama. Hal ini pernah disampaikan oleh Nabi:

“Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut? Jawab para sahabat: orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda, Nabi bersabda: “Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga datang sebagai orang yang pernah mencaci maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, memukul orang lain. Maka Allah berikan amal kebaikan dia kepada para korban. Ketika seluruh amal kebaikannya sudah habis sementara dia belum dapat menebusnya kepada semua korban, maka dosa-dosa mereka (para korban) akan ditimpakan kepadanya (orang bangkrut), dan kemudian dia dilemparkan kedalam api neraka” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

 

Daftar Pustaka

Kementerian Agama. (tt). An Nur: Al-Qur’an dan terjemahan. Semarang : CV Asy-Syifa’.

Al-Maraghi, A. M. (1986). Tafsir al Maraghi. Terjemahan Bahrun Abu Bakar, Jilid 2. Semarang: Toha Putra.

Shihab, Q. (1993). Membumikan Al-Qur’an. Cetakan IV. Bandung: Penerbit Mizan.


Tema 4: Kesalehan Transformatif
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?