Narasi
Sains

Kemerosotan Ummat Islam dan Pertumbuhan Sains Barat

 

 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)

(QS. Ali Imran (3): 140)

 

Al-Quran secara tegas menjelaskan bahwa peradaban suatu kaum itu pasang surut. Dalam kisah-kisah kitab suci agama-agama samawi dikisahkan adanya kaum-kaum yang pernah memiliki peradaban tinggi, seperti Kaum ‘Ad dan Tsamud, kemudian runtuh digantikan kaum yang lain. Kisah-kisah peradaban selalu seperti itu, mengikuti hukum alam. Demikian juga dengan peradaban Islam yang mulai tumbuh pada abad ke-7 semenjak kehadiran Nabi Muhammad, kemudian mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 sampai abad ke-12, dan sempat bertahan sampai beberapa abad berikutnya, kemudian runtuh sama sekali ketika bangsa-bangsa Eropa menegakkan kedaulatan kolonialisme di Dunia Islam.

 

Keruntuhan Baghdad

Setelah mengalami kegemilangan peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi selama lebih dari 600 tahun, Dinasti Abbasiyah akhirnya mengalami kemerosotan akibat intrik politik, praktik korupsi, dan pemberontakan di dalam negeri. Negeri besar ini akhirnya benar-benar runtuh pada tahun 1258 ketika bangsa Mongol pimpinan Hulagu Khan melakukan serangan mematikan di Kota Baghdad.

Tentara Mongol pimpinan Hulagu tiba di luar kota Baghdad pada bulan November 1257. Hulagu mengirim utusan kepada khalifah Al-Musta’sim agar menyerah, tetapi khalifah menolak dan memberi peringatan kepada Hulagu bahwa mereka akan menghadapi murka Allah jika mereka tetap menyerang kekhalifahan yang dipimpinnya.

Banyak catatan sejarah yang menyebutkan bahwa ini adalah kesalahan fatal dari khalifah, karena hal ini segera membuat Hulagu marah dan mempunyai alasan untuk membumihanguskan Baghdad dan membantai warganya. Padahal, khalifah waktu itu masih belum bisa untuk menyiapkan serangan, merekrut tentara, maupun memperkuat benteng di sekitar Baghdad. Pasukan Mongol akhirnya langsung menjarah dan kemudian menghancurkan masjid, istana, perpustakaan, dan rumah sakit.

Bangunan-bangunan besar yang merupakan hasil karya beberapa generasi dibakar sampai habis. Perpustakaan Agung Baghdad (Bait al-Hikam) yang sudah berumur 600 tahun, dan menyimpan jutaan koleksi buku pengetahuan dari seluruh dunia dihancurkan. Orang-orang yang selamat melaporkan bahwa air sungai Tigris menjadi hitam akibat tinta dari banyak sekali buku yang dibuang ke sungai itu, dan juga menjadi merah akibat darah orang-orang yang dibunuh. Penduduk sipil yang mengungsi akibat peperangan pun dibantai oleh Pasukan Mongol. Hulagu harus memindahkan perkemahannya ke luar kota akibat bau busuk yang sangat menyengat di dalam kota.

Khalifah dipaksa menonton ketika penduduknya dibantai dan harta bendanya dirampas. Menurut sebagian besar sumber, khalifah dibunuh dengan cara digulung dalam karpet dan diinjak-injak dengan kuda. Mereka percaya bahwa bumi akan marah jika ada darah penguasa yang ditumpahkan. Semua putranya dibunuh, kecuali satu orang, yang kemudian dikirim ke Mongolia. Para sejarawan Mongolia melaporkan bahwa dia menikah dan memiliki anak, tetapi dia tidak terlibat apa-apa lagi dalam perkembangan Islam.

Jumlah penduduk Baghdad jauh berkurang. Kota itu menjadi reruntuhan selama beberapa abad berikutnya, dan hanya secara perlahan pulih dan memperoleh sedikit dari kejayaan lamanya.

 

Kejatuhan Andalusia

Pada tahun 900-an M, Islam mencapai puncak kejayaannya di tanah Andalusia. Lebih dari 5 juta muslim tinggal di daerah tersebut, dengan prosentase mencapai 80% penduduk. Kerajaan yang kuat kala itu, Dinasti Umayah II, menjadi penguasa tunggal di daerah tersebut dan menjadi kerajaan yang paling maju dan paling stabil kondisi sosialnya di daratan Eropa.

Namun, masa keemasan sosial dan politik ini tidaklah abadi. Pada tahun 1000-an M, kerajaan ini runtuh dan terpecah-pecah menjadi beberapa negara kecil yang disebut thaifah. Thaifah-thaifah muslim ini adalah wilayah yang memiliki otonomi masing-masing sehingga sangat rentan diserang oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang berada di wilayah Utara.

Sepanjang dua ratus tahun berjalan, satu per satu thaifah berhasil ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa (Reconquesta). Dan akhirnya pada tahun 1240-an M, hanya tersisa satu kerajaan Islam saja di benua biru tersebut, di ujung Selatan tanah Andalusia, itulah Kerajaan Granada. Selama terjadinya reconquista, kerajaan Islam satu per satu jatuh ke wilayah kekuasaan kerajaan Kristen yang melakukan penyerangan dari Utara.

Baca Juga:   Evolusi Manusia, Agama, Sains, dan Tuhan

Dimulai dari tahun 1000-an hingga 1200-an, kota-kota utama semisal Cordoba, Sevilla, Toledo bergiliran dikuasai. Gerakan al-Murabitun dan Muwahidun di Afrika Utara, turut memiliki andil membantu Kristen Eropa, meskipun perpecahan umat Islam adalah faktor utama yang menyebabkan keruntuhan Islam di Eropa.

Meskipun pada mulanya Granada mampu bertahan dengan Perjanjian Pembayaran Upeti (selama 250 tahun) kepada Kerajaan Castile, pada akhirnya Granada pun akhirnya diserang juga oleh gabungan Kerajaan Aragon dan Castile. Perjanjian itu dibatalkan secara sepihak oleh Castile akibat pernikahan Raja Ferdinand dari Aragon dan Putri Isabella dari Castile. Pernikahan ini menyatukan dua kerajaan terkuat di semenanjung Iberia yang merajut cita-cita yang satu, menaklukkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam di benua biru.

Peristiwa jatuhnya Granada ini diwarnai juga dengan pembantaian ribuan Muslim pada bulan April 1492 di Eropa dengan tipuan (di kemudian hari dikenal dengan April Fools Day atau April Mop). Setelah perang berakhir, convivencia (kehidupan berdampingan) antara agama-agama yang selama ini dipelihara oleh penguasa Muslim di Iberia telah berakhir. Dekrit Alhambra pada tahun 1492 menyatakan bahwa orang-orang Yahudi harus menjadi Katolik; jika tidak, mereka harus pergi dari Spanyol. Pada tahun 1501, semua orang Islam di Granada juga diharuskan menjadi Katolik, dan bila menolak mereka akan diusir dari Spanyol; pada tahun 1526, kebijakan ini telah diterapkan di seluruh Spanyol. Jatuhnya Granada masih dirayakan setiap tahunnya oleh Dewan Kota Granada, dan Perang Granada dianggap sebagai perang terakhir dalam upaya Reconquesta.

 

Pertumbuhan Sufisme

Semenjak runtuhnya Baghdad dan Andalusia, Dunia Islam kehilangan banyak sekali hal yang berharga bagi peradaban: buku-buku telah musnah, banyak ilmuwan dan ulama terbunuh, dan pusat-pusat riset telah dihancurkan. Yang tertinggal hanyalah kegalauan.

Dalam kegalauan itu, sebagian masyarakat Muslim memilih jalan escapisme dari keduniaan. Maka, tumbuhlah tradisi sufisme di Dunia Islam secara luas: madrasah-madrasah yang ada berkembang menjadi zawiyat-zawiyat untuk mengadakan riyadlah (olah batin) di bawah bimbingan dan otoritas seorang Mursyid. Pola seperti ini akhirnya melembaga menjadi tarekat. Dan di madrasah-madrasah  yang masih tersisa itu, hampir seluruh kurikulum diisi dengan karya-karya sufistik.

Para ulama tasawuf bergerak melakukan pendidikan rohani kepada masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai luhur ajaran tasawuf, seperti optimisme (raja’), tapi waspada (khauf), persatuan (ukhuwah), mengutamakan kepentingan umum (itsar) dan memberikan dukungan kepada yang lemah (suhbah).

Di Turki, ajaran tasawwuf (sufi) berhasil menjadi gerakan politik yang akhirnya menjadi cikal bakal Dinasti Utsmani (Turki Ottoman). Para keturunan Bani Seljuk yang porak poranda akibat serangan bangsa Mongol menjadi pengikut tarekat sufi yang setia. Dengan dipimpin oleh Osman Bey, mereka berhasil menginisiasi sebuah pemerintahan kecil di barat laut Anatolia pada tahun 1299, yang di kemudian hari menjadi sebuah imperium besar Turki Utsmani yang bertahan sampai awal abad ke-20.

Peran kaum Sufi juga cukup besar dalam penyebaran Islam ke wilayah Timur, termasuk ke Indonesia. Di tengah maraknya ekspedisi laut untuk perdagangan antara Arab dan China, ada banyak kapal yang berlabuh di sepanjang pantai Nusantara untuk berdagang. Di antara mereka terselip para sufi yang mengembara dari wilayah asalnya untuk menyebarkan Islam di berbagai wilayah Timur. Mereka dikenal melalui sosok wali-wali yang tersebar di berbagai komunitas Muslim di Nusantara.

 

Kejatuhan Turki Utsmani

Bermula dari sebuah kerajaan kecil di Anatolia Barat pada awal abad ke-14, Dinasti Turki Utsmani berhasil mengembangkan sebuah imperium Islam. Sepanjang abad ke-16 dan 17, tepatnya pada puncak kekuasaannya di bawah pemerintahan Suleiman Al-Qanuni, Turki Utsman menjadi salah satu negara terkuat di dunia, imperium multinasional dan multibahasa yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat/Kaukasus, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika. Dengan Konstantinopel sebagai ibu kotanya dan kekuasaannya atas wilayah yang luas di sekitar cekungan Mediterania, Turki Utsmani menjadi pusat interaksi antara dunia Timur dan Barat selama lebih dari enam abad.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (4)

Kekhalifahan Turki Utsmani ini runtuh setelah Perang Dunia I. Pada tahun 1914, Perang Dunia I mulai berkobar, dan Kekhalifahan Turki Utsmani terlibat di dalamnya, bergabung dalam Blok Poros bersama Jerman, melawan blok sekutu. Pada awal peperangan, tentara Turki Utsmani memang meraih beberapa kali kemenangan. Akan tetapi, tentara sekutu berhasil membangkitkan kelompok-kelompok perlawanan separatis Arab untuk melawan Turki Utsmani. Pada akhirnya, perang itu dimenangkan oleh Blok Sekutu. Melalui Perjanjian Sevres, akhirnya Turki harus menyerah kalah dan menyerahkan kedaulatan wilayahnya kepada Pihak Sekutu.

Kekalahan Turki Utsmani ini menyebabkan ketidakpuasan di dalam negeri: Mustafa Kamal, seorang Jenderal dalam tentara kerajaan, mempelopori Gerakan Nasional Turki. Ia memobilisasi perlawanan untuk menggagalkan penyerahan kedaulatan Turki kepada Pihak Sekutu. Perlawanan itu berhasil dilakukan di sejumlah wilayah yang kini merupakan wilayah Turki Modern. Atas dasar kemenangan itu, Gerakan Nasional Turki mendirikan negara Turki Modern dalam bentuk Republik, dan menghapuskan Kekhalifahan Turki Utsmani yang telah bertahan lebih dari 600 tahun pada tanggal 3 Maret 1924.

 

Renaissance Eropa

Abad pertengahan memang diwarnai 2 sisi yang saling bertolak belakang antara bangsa Arab yang Muslim dan bangsa Eropa yang Kristen. Selama abad pertengahan itu, kemajuan bangsa Muslim dikenal dengan Golden Age (masa keemasan) karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa pada zamannya. Sementara itu, bangsa Eropa hidup pada masa itu yang dikenal sebagai Dark Age (zaman kegelapan) karena tertindas oleh kepercayaan gereja yang bersekongkol dengan para bangsawan.

Keruntuhan Dinasti Islam di Eropa ternyata masih menyisakan sedikit keberuntungan. Para penguasa Muslim sebelumnya memelihara tradisi convivencia (kehidupan berdampingan) antar-agama, sehingga banyak intelektual dan ilmuwan Muslim yang memiliki banyak murid dari berbagai agama, baik Yahudi maupun Kristen. Setelah kejatuhan Granada dan pengusiran kaum Muslim dari Eropa, para murid Kristen itu melanjutkan tradisi intelektual dan keilmuan guru-guru Muslim mereka di Eropa, sehingga memunculkan Gerakan Renaissance (Kelahiran Kembali) Eropa.

Renaisans adalah sebuah gerakan budaya yang berkembang pada abad ke-14 sampai abad ke-17, dimulai di Italia yang masih mewarisi tradisi intelektual dan keilmuan Kaum Muslim. Gerakan Renaissance tidak terjadi secara serentak di seluruh Eropa, tetapi perlahan-lahan mulai dari abad ke 15. Persebaran itu ditandai dengan pemakaian kertas dan penemuan barang metal yang sudah diinisiasi kaum Muslim sebelumnya. Kedua hal tersebut mempercepat penyebaran ide gerakan Renaissance dari abad ke-15 dan seterusnya.

Kebudayaan Renaisans ini merupakan counter terhadap dominasi gereja yang sudah 5 abad (sepanjang abad pertengahan) membelenggu kebebasan individual di Eropa. Budaya baru ini mengambil inspirasi dari humanisme klasik yang berasal dari filsafat Yunani Kuno dan ditransmisikan oleh para ilmuwan Muslim pada abad pertengahan. Humanisme klasik ini menekankan kebebasan individual untuk mendorong inovasi, kreativitas, dan ekspresi yang selama ini dikekang oleh gereja. Budaya baru ini berpengaruh besar terhadap sastra, filsafat, seni, musik, politik, ilmu pengetahuan, dan agama di Eropa.

Di hal keagamaan di Eropa, renaisans berpengaruh terhadap gerakan reformasi terhadap gereja yang diinisiasi oleh Pendeta Martin Luther. Gerakan ini sempat memicu perang agama di Eropa, dan pada akhirnya menghasilkan sempalan dalam Kekristenan Eropa: Protestantisme. Salah satu poin kritik utama kaum reformis itu ialah intervensi gereja yang terlalu besar terhadap para raja di Eropa dalam menjalankan kebijakan negara. Kritik ini mendapatkan dukungan dari para bangsawan yang menghendaki sekularisasi (pemisahan urusan agama dan negara), sehingga ada banyak raja di Eropa yang melepaskan diri dari dominasi gereja Katolik, dan lebih memilih bergabung dalam gerakan reformis itu. Hal ini akhirnya mendekonstruksi kekuasaan Paus (pemimpin tertinggi Gereja Katolik) yang selama abad pertengahan memegang supremasi agama di Eropa.

Runtuhnya kewibawaan gereja Katolik membawa pengaruh besar pada cara berpikir masyarakat Eropa. Selama abad pertengahan, mereka dilarang mempertanyakan doktrin-doktrin gereja yang tidak masuk akal, seperti konsep geosentris (bumi sebagai pusat tata surya) atau konsep bumi datar. Dengan adanya pengaruh renaisans, masyarakat Eropa mulai mempertanyakan doktrin-doktrin gereja yang tidak masuk akal dan tidak faktual. Mereka akhirnya lebih mengedepankan akal daripada agama, sehingga rasionalisme dan empirisme tumbuh subur. Beberapa orang Eropa yang memiliki literasi sains yang baik, seperti Copernicus, Newton, Descartes, Pascal dan Leibniz menggunakan banyak referensi Muslim untuk mengembangkan konsep-konsep awal sains mereka di Eropa. Akibatnya, tradisi sains mulai berkembang di Eropa.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern

 

Penjelajahan dan Kolonialisme

Renaissance juga berpengaruh besar terhadap minat penjelajahan dunia. Perkembangan kartografi (ilmu tentang peta) yang diadaptasi dari peta al-Idrisi (seorang kartografer Muslim) dari abad ke-11 mendorong minat para pelaut Eropa pada abad ke-15 untuk menjelajahi pelosok dunia, seperti Christopher Colombus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Amerigo Vespucci, dan lain-lain.

Terbukanya jalur-jalur pelayaran ke Dunia Timur membuka jalan bagi armada-armada perdagangan yang rakus dari Eropa untuk membuka koloni-koloni di Dunia Timur, sehingga memunculkan kolonialisme Eropa di Dunia Timur selama ratusan tahun. Pada awalnya, mereka hanya bertujuan untuk membuka jalur perdagangan rempah-rempah dari Dunia Timur ke Eropa. Akan tetapi, lama-kelamaan, misi tersebut disisipi dengan misi keagamaan dan politik: gold, gospel, and glory. Dalam setiap misi tersebut, mereka membawa serta para misionaris dan tentara. Maka, satu persatu negeri Timur ditaklukkan.

Kolonialisme Eropa bertahan sampai ratusan tahun di Dunia Timur. Mereka menegakkan supremasi kolonialisme itu bukan dengan tentara yang besar, melainkan dengan strategi jitu yang diinisiasi dari riset-riset antropologis. Di negeri-negeri Muslim, para antropolog melakukan kajian yang mendalam tentang konteks sosial masyarakat Muslim di Dunia Timur. Para ahli itu tahu bahwa masyarakat Muslim memiliki potensi besar untuk melawan tirani kolonialisme, karena Islam mengajarkan egalitarianisme (kesejajaran ummat manusia). Jika ummat Islam di negeri-negeri Muslim itu bersatu, maka kolonialisme akan berada di ujung tanduk. Oleh karena itu, para ahli antropologi itu memformulasikan kebijakan bagi kepentingan kolonial: menjauhkan ummat Muslim dari esensi ajaran Islam dan mencegah mereka dari persatuan Muslim. Dengan strategi seperti itulah mereka mampu menegakkan supremasi kolonial selama ratusan tahun.

Sampai awal abad ke-20, hampir seluruh permukaan bumi menjadi wilayah kolonial Eropa, hingga muncul gerakan nasional dari bangsa-bangsa Timur pada pertengahan abad ke-20 untuk menuntut kemerdekaan. Sebagian gerakan perlawanan itu juga didorong oleh motivasi keagamaan. Di negeri-negeri Muslim, Islam telah menjadi spirit perlawanan yang legendaris terhadap kolonialisme. Ajaran-ajaran Islam direaktualisasi untuk mendorong ummatnya menentang segala bentuk penindasan, termasuk kolonialisme.

 

Modernisasi dan Globalisasi

Supremasi Eropa tidak hanya terbangun melalui politik kolonialisme. Kesadaran sains yang terbangun sejak masa renaissance mendorong pertumbuhan sains dan teknologi: ada banyak sekali penemuan-penemuan baru yang diaplikasikan dalam industri. Penemuan teknologi mesin memacu pertumbuhan industri mobil, kapal, pesawat, dan mesin-mesin perang. Penemuan teknologi listrik membuat proses industri menjadi lebih efisien. Penemuan teknologi telekomunikasi mendorong percepatan informasi ke seluruh dunia, bahkan bisa berlangsung secara real time. Penemuan teknologi komputer bisa mengotomatisasi sebagian besar kehidupan manusia. Perkembangan sains dan teknologi ini membentuk cara berpikir masyarakat: modernisasi.

Kemajuan sains dan teknologi di Eropa semakin berkembang seiring dengan munculnya penemuan-penemuan baru yang selalu muncul dalam jumlah yang signifikan. Hal ini menyebabkan negeri-negeri Timur yang baru merdeka pada abad ke-20 menjadi semakin tertinggal. Bahkan, negeri-negeri itu tidak hanya sekedar tertinggal, tetapi mengalami ketergantungan, baik ekonomi, sains, maupun teknologi. Hal ini diperparah lagi dengan mentalitas para pemimpin negeri-negeri Timur yang merasa nyaman dengan ketergantungan itu, bahkan menikmati sejumlah keuntungan dari ketergantungan itu. Pada era sekarang, sudah banyak ahli dalam bidang sains dan teknologi di dalam negeri yang tidak kalah dengan para ahli dari Eropa. Akan tetapi, para pemimpin itu belum tergerak untuk mengembangkan infrastruktur yang memadai bagi para ilmuwan untuk bekerja lebih maksimal dalam berkarya bagi masyarakatnya.

Satu-satunya cara untuk memutus ketergantungan itu ialah kemandirian. Negeri-negeri Timur, termausk-negeri-negeri Muslim, harus bangkit mengembangkan kemandirian dalam ekonomi, sains, dan teknologi. Ketiga hal ini sangat erat kaitannya satu sama lain.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?