Narasi
Sosial

Kapita Selekta Sejarah Dunia Islam

Membahas Muhammadiyah tidak lepas dari sejarah Dunia Islam, karena Muhammadiyah merupakan salah satu gerakan sosial Islam di Indonesia yang merupakan salah satu bagian terpenting dari Dunia Islam. Sebagai salah satu gerakan Islam di Indonesia, Muhammadiyah mewarisi spirit Islam dengan menghikmahi sejarah Islam yang terentang sejak masa Nabi Muhammad sampai sekarang, hampir 1500 tahun.

Di samping itu, membahas Muhammadiyah juga harus dikontekstualisasi dari peta besar Dunia Islam dengan berbagai keunikannya. Indonesia merupakan negeri Muslim terbesar di dunia, sementara Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Artinya, Muhammadiyah merupakan salah satu indikator yang sangat dipertimbangkan untuk melihat peta besar Dunia Islam.

 

Masyarakat Arab Jahiliyah dan Kemunculan Nabi Akhir Zaman

Jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad, isu kelahiran seorang Nabi dari bangsa Arab sudah sering terdengar. Beberapa teks suci dari agama-agama terdahulu sudah memberitakannya, sementara para dukun Persia pun sudah meramalkannya (Ibn Ishaq, tt).

Wahyu Kenabian itu pun datang kepada Muhammad, seorang Arab yang dijuluki al-Amin (orang yang sangat dapat dipercaya) oleh masyarakatnya. Sejak saat itu, beliau diangkat menjadi Nabi Akhir Zaman. Wahyu pertama yang diturunkan kepada beliau ialah “iqra’ bi ismi rabbika al-ladzi khalaq”, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan!

Perintah untuk membaca ini digunakan untuk membaca masyarakat pada zamannya: mereka menganut politheisme (menyembah banyak dewa yang disimbolkan dalam bentuk berhala) dengan ragam kebobrokan moralnya. Mereka bahkan menistakan perempuan sebagai makhluk kelas dua dengan mengubur hidup-hidup bayi-bayi perempuan.

Sebagaimana wahyu, Nabi Muhammad pun menyeru ummatnya untuk kembali ke agama yang hanif: menyembah Tuhan Yang Satu (tauhid). Hanya sebagian kecil orang yang menanggapi seruan Nabi. Mereka adalah orang-orang terdekat beliau, dan juga beberapa anak muda yang jengah dengan masyarakatnya. Sebagian besar orang justru menolak, memusuhi, mengucilkan, bahkan berusaha membunuhnya. Bahkan, beberapa pamannya pun memusuhinya.

Di tengah tekanan politik yang sedemikian kuat, Nabi beserta pengikutnya memilih hijrah ke Yatsrib, sebuah kampung kecil di sebelah utara Makkah. Di sinilah Nabi menginisiasi sebuah kota dengan prinsip-prinsip modern melalui Piagam Madinah: masyarakat multi-kultur dan multi-agama. Kaum Muhajirin (imigran dari Makkah) bisa diterima dan hidup berdampingan dengan kaum Anshar (penduduk pribumi Madinah). Kaum Muslim bisa tinggal bersama dengan orang-orang Yahudi di kota tersebut. Sejak saat itu, kampung kecil itu biasa disebut Kota Madinah.

Dalam kepemimpinan Nabi, stabilitas sosial politik dan ekonomi di Madinah semakin kondusif. Internalisasi nilai-nilai Islam menjadi kekuatan utama yang mendorong transformasi dari masyarakat yang terpecah-pecah berdasarkan suku dan marga menjadi masyarakat yang solid atas dasar nilai-nilai Islam. Meskipun beberapa kali diserang oleh kaum Musyrik dari Makkah, ummat Islam tetap bisa mempertahankan diri, bahkan seringkali memperoleh kemenangan dalam banyak pertempuran. Ummat Islam akhirnya menjadi kekuatan baru yang disegani di tanah Arab.

Puncaknya, ummat Islam berhasil menguasai kembali tanah air tempat mereka semula terusir, Makkah, tanpa pertumpahan daerah. Ka’bah berhasil dikuasai kembali oleh ummat Islam, dan semua berhala di dalam dan sekitarnya dihancurkan sebagai simbol berakhirnya paganisme. Peristiwa ini dikenal dengan Fathu Makkah, dan diabadikan dalam al-Quran:

 

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ – وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا – فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat (QS. Al-Nashr/110: 1-3)

 

Peristiwa Fathu Makkah ini menggetarkan seluruh tanah Arab dan sekitarnya, sehingga Islam menjadi magnet yang luar biasa bagi seluruh suku di tanah Arab untuk bersatu di bawah Panji Islam, melintasi sekat-sekat kutural yang selama ini menjadikan mereka saling berperang satu sama lain. Islam menjadi spirit utama transformasi masyarakat dari kejahiliyahan menjadi keberadaban.

Selama 22 tahun, Nabi Muhammad telah berhasil membentuk karakter masyarakat utama berdasarkan nilai-nilai Islam. Allah bahkan memuji karakter masyarakat utama yang berhasil dibangun oleh Rasulullah ini.

 

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (Q.S. Ali Imran/3: 110).

 

Al-Khulafa’ al-Rasyidun

Sepeninggal Nabi, estafet kepemimpinan ummat Islam dilanjutkan oleh para sahabat terdekat beliau secara berturut-turut: Abu Bakr, Umar ibn al-Khatab, Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib. Mereka disebut sebagai Khulafa’ al-Rasyidun: para khalifah yang diberi petunjuk.

Kepemimpinan Abu Bakr hanya berlangsung singkat selama 2 tahun (632 – 634 Masehi) dengan tantangan yang cukup dahsyat: kemurtadan beberapa kabilah. Beberapa pemimpin kabilah yang murtad itu ada yang mengaku-ngaku sebagai Nabi untuk kepentingan materi dan kekuasaan. Oleh karenanya, agenda utama Abu Bakr ialah perang riddah: memerangi kemurtadan. Perang ini dimenangkan oleh pasukan Abu Bakr karena soliditas ummat Islam yang tetap terjaga sepeninggal Nabi.

Setelah Abu Bakr meninggal, kepemimpinan ummat Islam beralih ke Umar. Ia sukses melakukan ekspansi dengan menaklukkan Syam, dan merebut Yerussalem dari cengkeraman tentara Romawi. Ia juga sukses melakukan ekspansi ke timur dengan menaklukkan Persia melalui perang yang sangat terkenal: Perang Qadissiyah di bawah panglima militer Sa’ad ibn Abi Waqash. Di samping itu, ia juga sukses melakukan ekspansi ke Afrika Utara dengan menaklukkan Mesir. Stabilitas politik pada masa Umar ini juga dimanfaatkan untuk mengembangkan mata uang sendiri. Sayangnya, Umar terbunuh pada tahun 644 Masehi.

Sepeninggal Umar, Utsman dibaiat sebagai amir al-mu’minin (pemimpin kaum beriman). Pada masanya, wilayah kekuasaan negeri Muslim ini semakin meluas yang tidak sepenuhnya memahami ajaran Islam yang otentik berdasarkan al-Quran. Oleh karenanya, ia menyempurnakan inisiatif kodifikasi al-Quran yang sudah dimulai sejak masa kepemimpinan Abu Bakr. Upaya ini berhasil mengkodifikasi al-Quran menjadi mushaf al-Quran (yang saat ini kita kenal), sehingga mushaf ini juga dikenal dengan Mushaf Utsmani.

Ia juga melanjutkan berbagai ekspansi yang sudah dirintis Umar dengan menaklukkan Cyprus dan Alexandria, wilayah-wilayah jajahan Romawi. Cepat atau lambat, ekspansi ummat Islam ini akhirnya akan berhadapan dengan Kerajaan Romawi, salah satu negara super power pada saat itu. Oleh karenanya, Utsman mendirikan Angkatan Laut dalam mempersiapkan diri menghadapi Romawi. Armada ini dipimpin oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (Gubernur Syam/Suriah), salah satu sepupunya. Inilah yang menjadi salah satu celah kritik terhadap Utsman: nepotisme, karena ia mengangkat banyak gubernur dari keluarga dekatnya. Kebijakan nepotisme ini diperparah lagi dengan otonomi para gubernur yang seringkali bertindak di luar kontrol Pemerintah Pusat di Madinah. Hal ini banyak menimbulkan ketidakpuasan bagi beberapa kelompok orang, terutama di wilayah Kufah dan Mesir. Kelompok-kelompok orang yang tidak puas itu akhirnya memberontak dengan mengepung Madinah, sehingga berujung pada pembunuhan Utsman pada tahun 656 Masehi.

Baca Juga:   Tokoh-Tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah

Kemelut pembunuhan Utsman ini tetap berlanjut pada masa kepemimpinan Ali yang dibai’at sebagai amir al-mu’minin pasca-pembunuhan Utsman. Keluarga Utsman yang dimotori oleh Mu’awiyah menuntut balas (Qishas) atas pembunuhan Utsman yang dilakukan oleh para pemberontak. Akan tetapi, Ali sendiri merasa bahwa suasana belum kondusif untuk melakukan pengadilan qishas itu, karena pembunuhan itu berkaitan erat dengan gerakan politik yang melibatkan beberapa sahabat dan kelompok-kelompok Muslim yang lebih besar. Artinya, hal ini memerlukan pendekatan yang multidimensional dan butuh waktu lama. Jika pengadilan ini dilakukan secara serampangan dan tergesa-gesa, maka akan memicu perang saudara di antara sesama ummat Islam.

Akan tetapi, sikap Ali ini justru menimbulkan fitnah yang lebih besar: beberapa pihak menghembuskan kecurigaan bahwa Ali terlibat dalam pemberontakan itu. Muawiyah menuduh Ali tidak serius menangani pengadilan qishas itu, sehingga menunda baiat kepada Ali sebagai amir al mu’minin. Sementara itu, Ali menganggap Muawiyah membangkang terhadap pemerintah pusat. Oleh karena itu, Ali mengirimkan pasukan, sementara Muawiyah pun menanggapinya dengan pernyataan perang. Maka, terjadilah Perang Shiffin pada tahun 657.

Perang itu sebenarnya hampir dimenangkan pasukan Ali. Dalam kondisi terdesak, pasukan Muawiyah mengajukan arbitrase (tahkim): mengangkat mushaf al-Quran di ujung tombak sebagai tanda ajakan perundingan. Ajakan itu disambut oleh pasukan Ali, sehingga kedua pasukan siap berunding, karena mereka sebenarnya tidak menginginkan peperangan.

Arbitrase ini menghasilkan kesepakatan bahwa kedua pemimpin yang berseteru harus mundur dari jabatannya, dan dilakukan pemilihan untuk menentukan amir al-mu’minin yang baru.

Ali yang sejak awal tidak berambisi menjadi khalifah menyetujui hasil arbitrase itu. Akan tetapi, di antara pengikutnya ada yang kecewa dengan hasil arbitrase itu. Mereka sejak awal menuduh Muawiyah melakukan bughat (pemberontakan) kepada Ali, pemimpin yang sah. Dan ketika Ali menerima hasil arbitrase itu, mereka juga menuduh Ali lemah dan tidak tunduk pada hukum Allah. Akhirnya, mereka menyatakan diri keluar dari barisan Ali, membentuk sekte pertama dalam Islam: khawarij. Mereka mengklaim diri paling benar di antara 2 pihak yang berseteru dengan mengusung semboyan la hukma illa lillah, tiada hukum kecuali hukum Allah. Mereka akhirnya membunuh Ali.

Sepeninggal Ali, para sahabat Nabi sempat membaiat Hasan ibn Ali sebagai khalifah. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan kemaslahatan ummat Islam agar tidak mengalami trauma perpecahan berlarut-larut, Hasan memilih mundur, dan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah. Sejak saat itu, berakhirlah era al-khulafa al-rasyidun yang dipilih secara demokratis, karena era kepemimpinan Muawiyah mengalami set back dengan model kepemimpinan berdasarkan keturunan.

 

Dinasti Umayyah

Kepemimpinan Muawiyah memulai era baru negara Islam, karena ia berusaha memutus mata rantai al-Khulafa al-Rasyidun dengan menjadikan Damaskus, tempatnya berkedudukan sebagai Gubernur Syam, sebagai ibukota baru (buka di Madinah sebagaimana al-Khulafa al-Rasyidun). Ia juga mengubah pola pemilihan pemimpin Muslim dari bai’at (mirip demokrasi) menjadi keturunan (dinasti). Ia menisbatkan dinastinya pada nama kakek buyutnya: Umayyah ibn ‘Abd al-Syams.

Pemerintahan Dinasti Umayyah ini bertahan selama 90 tahun, dimulai sejak masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Secara berturut-turut, Dinasti Umayyah ini diperintah oleh beberapa khalifah sebagai berikut:

No Nama Periode
1 Muawiyah ibn Abi Sufyan 661 - 681
2 Yazid ibn Muawiyah 681 - 683
3 Muawiyah ibn Yazid 683 - 684
4 Marwan ibn Al - Hakam 684 - 685
5 Abdul Malik ibn Marwan 685 - 705
6 Al - Walid ibn Abdul Malik 705 - 715
7 Sulaiman ibn Abdul Malik 715 - 717
8 Umar ibn Abdul Aziz 717 - 720
9 Yazid ibn Abdul Malik 720 - 724
10 Hisyan ibn Abdul Malik 724 - 743
11 Walid ibn Yazid 743 - 744
12 Yazid ibn Walid (Yazid II) 744
13 Ibrahim ibn Malik 744
14 Marwan ibn Muhammad 745 - 750

Selama periode Damaskus ini, Dinasti Umayyah masih mewarisi trauma perpecahan politik akibat pembunuhan Utsman dan pembunuhan Ali. Khalifah Yazid ibn Muawiyah, misalnya, menghadapi penentangan terhadap sistem dinasti yang diterapkan ayahnya. Penentangan itu berporos di Makkah (dipimpin oleh Abdullah ibn Zubair) dan Madinah (dipelopori oleh Husein ibn Ali), pewaris tradisi klasik Keislaman, dan didukung oleh wilayah-wilayah non-Arab. Penentangan Husein ini berujung pada peristiwa Karbala, dimana rombongan Husein dibantai oleh pasukan Yazid, dan kepala Husein dipenggal.

Peristiwa Karbala ini menjadi salah satu momentum ideologis yang mentransformasikan perpecahan politik menjadi perpecahan ideologi Keislaman, yaitu munculnya syiah sebagai salah satu sekte dalam Islam. Sejak saat itu, narasi-narasi politik perlawanan terhadap Dinasti Umayyah dipertajam dengan narasi ideologi Keislaman itu sebagai ideologi perlawanan: mereka meyakinkan bahwa hanya keturunan Ali-lah yang berhak menjadi khalifah. Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa Dinasti Umayyah tidak memiliki keabsahan sebagai pemimpin Muslim.

Meskipun demikian, Dinasti Umayyah pada periode Damaskus ini tetap menorehkan kejayaan dengan perluasan wilayah yang semakin massif. Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan di Asia Tengah.

Wilayah yang sedemikian luas itu terdiri atas bangsa-bangsa multietnis. Akan tetapi, sangat disayangkan, bahwa rezim Umayyah kurang bisa mengelola keragaman etnis ini menjadi lebih produktif. Bangsa-bangsa non-Arab yang tunduk pada kekhalifahan merasa dimarginalkan dalam semua kebijakan khalifah. Hal ini menyebabkan sentimen anti-rezim setiap saat mudah bergolak.

Puncak pergolakan itu terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Marwan. Sebuah gerakan perlawanan yang menisbatkan diri kepada Paman Nabi: ‘Abbas ibn ‘Abd al-Muthalib, atau lebih dikenal dengan Gerakan Abbasiyah, memanfaatkan sentimen-sentimen anti-rezim Umayyah itu untuk menggulingkan kekuasaan. Revolusi Abbasiyah ini telah menyebar dengan cepat ke seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah pada masa pemerintahan Khalifah Marwan.

Baca Juga:   Jaringan Struktural dan Program-Program Muhammadiyah/Aisyiyah

Pada awal tahun 750 Masehi, pasukan Abbasiyah yang terorganisasi dengan baik berhasil memukul mundur pasukan Umayyah. Satu persatu kota menyerah dan tunduk di bawah gerakan revolusi Abbasiyah, sehingga Damaskus pun akhirnya jatuh ke tangan pemberontak. Satu persatu anggota keluarga Umayyah diburu dan dihukum mati. Khalifah Marwan sendiri tertangkap di Mesir, tempat dia gagal mengumpulkan pasukan yang akan memukul mundur Abbasiyah dan mengendalikan Umayyah kembali.

Hanya satu anggota keluarga Umayyah yang berhasil lolos dari revolusi itu: Abd al-Rahman. Ia berhasil melarikan diri ke Andalusia (Spanyol). Perjalanan legendaris pemuda Abd al-Rahman memasuki Andalusia membuatnya dijuluki al-Dakhil. Kelak, anak keturunannya berhasil mengembangkan wilayah Andalusia menjadi wilayah Kekhalifahan Islam yang disegani.

 

Dinasti-Dinasti Andalusia

Andalusia (bahasa Arab: الأندلس‎) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang sudah ditaklukkan pasukan Umayyah pada tahun 711 di bawah pimpinan seorang jenderal Muslim yang legendaris: Thariq ibn Ziyad. Sejak saat itu, Andalusia menjadi sebuah provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-750), lalu memisahkan diri menjadi emirate (750-929), dan berkembang menjadi kekhalifahan sendiri (929-1031), dan akhirnya terpecah menjadi taifa, yaitu kerajaan-kerajaan kecil (1031-1492).

Pertumbuhan Dinasti Andalusia tidak lepas dari peranan Abd al-Rahman al-Dakhil, si pelarian dari Damaskus itu. Ia berhasil menyusun kekuatan dan menggulingkan gubernur Andalusia, dan mengangkat dirinya sebagai Amir di wilayah itu. Kekuasaan dinasti ini terus tumbuh seiring dengan pergantian generasi anak cucunya. Akan tetapi, kekuasaan Islam di wilayah ini bergerak sangat dinamis, sehingga dinasti-dinasti penguasa silih berganti. Berikut ini beberapa penguasa yang berasal dari dinasti yang silih berganti dalam pasang surut kekuasaan di Andalusia:

No Pemimpin Tahun
Periode Emirate berasal dari Keturunan Bani Umayyah
1 Abdurrahman al-Dakhil (Abdurrahman I) 756 - 788
2 Hisyam bin Abdurrahman (Hisyam I) 788 - 796
3 Al-Hakam bin Hisyam (al - Hakam I) 796 - 822
4 Abdurrahman al-Ausat (Abdurrahman II) 822 - 852
5 Muhammad bin Abdurrahman (Muhammad I) 852 - 886
6 Munzir bin Muhammad 886 - 888
7 Abdullah bin Muhammad 888 - 912
Periode Kekhalifahan dari Keturunan Bani Umayyah:
8 Abdurrahman an-Nasir (Abdurrahman III) 912 - 961
9 Al - Hakam II 961 - 976
10 Hisyam II 976 - 1008
11 Mohammed II 1008 - 1009
12 Sulaiman II 1009 - 1010
13 Hisyam II 1010 - 1013
14 Sulaiman II 1013 - 1016
15 Abdurrahman IV 1017
Periode Kekhalifahan dari Bani Hammudiyah:
16 Ali bin Hammud An - Nasir 1016 - 1018
17 Al - Qasim bin Hammud Al-Ma’mu 1018 - 1021
18 Yahya bin Ali bin Hammud Al-Mu’tali 1021 - 1023
19 Al - Qasim bin Hammud Al-Ma’mu 1023
Kembalinya Kekuasaan Bani Umayyah:
20 Abdurrahman V 1023 - 1024
21 Muhammad III 1024 - 1025
22 Hisyam III 1026 - 1031

Perubahan bentuk dari emirate menjadi kekhalifahan menjadi tonggak bersejarah bagi Kekhalifahan Andalusia ini. Pada masa itulah, negeri ini menjadi salah satu pusat peradaban dunia, di samping Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad dan Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Kairo. Pada masa inilah kekuasaan-kekuasaan bangsa Muslim mencapai kejayaan yang luar biasa di bidang kedokteran, farmasi, kimia, astronomi, arsitektur, fisika, teknologi, sosiologi, ilmu hukum, geografi, pertanian, kesenian, dan lain-lain. Bangsa Muslim juga menjadi pelopor literasi dan perpustakaan, penemuan-penemuan baru, sintesis antara filsafat dan agama, pelayanan kesehatan, penjelajahan baru, dan lain-lain. Hal ini menjadikan bangsa Muslim menjadi rujukan bangsa-bangsa lain dari seluruh dunia.

 

Dinasti Abbasiyah

Praktis, semenjak kejatuhan Dinasti Umayyah di Damaskus, kekuasaan negeri Muslim bergeser ke Dinasti Abbasiyah. Ibukota dipindahkan dari Damaskus ke Baghdad. Masa pemerintahan secara keseluruhan berlangsung lebih dari 500 tahun. Berturut-turut, khalifah yang memerintah dalam Dinasti Abbasiyah ialah sebagai berikut:

No Khalifah Periode
1 Abu al-Abbas As-Saffah 750 - 754
2 Abu Ja'far Al-Manshur 754 - 775
3 Abu Abdullah Al-Mahdi 775 - 785
4 Abu Muhammad Al-Hadi 785 - 786
5 Harun Al-Rasyid 786 - 809
6 Abu Musa Al-Amin 809 - 813
7 Abu Abbas Al-Ma'mun 813 - 833
8 Abu Ishaq Al-Mu'tasim 833 - 842
9 Abu Ja'far Al-Wathiq 842 - 847
10 Ja'far Al-Mutawakkil 847 - 861
11 Abu Ja'far Al-Muntasir 861 - 862
12 Ahmad Al-Musta'in 862 - 866
13 Abu Abdullah Al-Mu'tazz 866 - 869
14 Abu Ishaq Al-Muhtadi 869 - 870
15 Abu Abbas Al-Mu'tamid 870 - 892
16 Abu Abbas Al-Mu'tadid 892 - 902
17 Abu Ahmad Al-Muktafi 902 - 908
18 Abul Fadl Al-Muqtadir 908 - 932
19 Abul Mansur Al-Qahir 932 - 934
20 Abul Abbas Ar-Radi 934 - 940
21 Abu Ishaq Al-Muttaqi 940 - 944
22 Abdullah Al-Mustakfi 944 - 946
23 Abul Qasim Al-Muti' 946 - 974
24 Abdul Karim At-Ta'i 974 - 991
25 Ahmad Al-Qadir 991 - 1031
26 Al-Qa'im 1031 - 1075
27 Abul Qasim Al-Muqtadi 1075 - 1094
28 Abul Abbas Al-Mustazhir 1094 - 1118
29 Abul Mansur Al-Mustarsyid 1118 - 1135
30 Abu Ja'far Ar-Rasyid 1135 - 1136
31 Abu Abdullah Al-Muqtafi 1136 - 1160
32 Abul Muzaffar Al-Mustanjid 1160 - 1170
33 Hasan Al-Mustadi 1170 - 1180
34 Abul Abbas An-Nasir 1180 - 1225
35 Muhammad Az-Zahir 1225 - 1226
36 Abu Ja'far Al-Mustansir 1226 - 1242
37 Abdullah Al-Musta'sim 1242 - 1258

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Al-Ma’mun, pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:   Inovasi Sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah

Al-Mu’tasim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktik orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

Negeri yang besar ini semakin mengalami kemerosotan semenjak abad ke-11, dan runtuh sama sekali akibat serangan bangsa Mongol yang menghancurkan Kota Baghdad. Pada saat itu, perpustakaan Baghdad yang merupakan karya intelektual terbesar di dunia dibakar, dan buku-bukunya ditenggelamkan ke sungai Tigris. Lenyaplah khazanah peradaban yang dibangun bangsa Muslim selama lebih dari 500 tahun.

 

Dinasti Fatimiyah

Dinasti Abbasiyah, meskipun pada awal gerakannya banyak memanfaatkan sentimen pendukung Ali yang sudah terkristalisasi menjadi sekter Syi’ah untuk melawan Dinasti Umayyah, bersifat represif terhadap penganut Syi’ah. Akibatnya, banyak penganut syiah yang melarikan diri ke Afrika Utara, jauh dari jangkauan penguasa Abbasiyah di Baghdad. Di sinilah, kaum Syi’ah menyusun kekuatan untuk memisahkan diri dari kekuasaan Abbasiyah dan mendirikan sebuah negara merdeka.

Dinasti ini menisbatkan dirinya pada Fatimah al-Zahrah, putri Nabi Muhammad, karena pendirinya (Abdullah al-Mahdi) mengklaim diri sebagai salah satu keturunan Ali (suami Fatimah). Berturut-turut, Dinasti ini dipimpin oleh para imam sebagai berikut:

No Sultan Periode
1 Abu Muhammad Abdu l-Lah al-Mahdi bi'llah 910-934 pendiri Fatimiyah
2 Abul Qasim Muhammad al-Qa'im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah 934-946
3 Abu Tahir Isma'il al-Mansur bi-llah 946-953
4 Abu Tamim Ma'add al-Mu'izz li-Din Allah 953-975 Penaklukan Mesir
5 Abu Mansur Nizar al-'Aziz bi-llah 975-996
6 Abu 'Ali al-Man?ur al-?akim bi-Amr Allah 996-1021
7 Abu'l-Hasan 'Ali al-Dhahir li-I'zaz Din Allah 1021-1036
8 Abu Tamim Ma'add al-Mustansir bi-llah 1036-1094
9 al-Musta'li bi-llah 1094-1101
10 al-Amir bi-Ahkam Allah 1101-1130
11 'Abd al-Majid al-Hafiz 1130-1149
12 al-Zafir 1149-1154
13 al-Fa'iz 1154-1160
14 al-'Adid 1160-1171

Penaklukan Mesir yang dilakukan oleh Dinasti Fatimiyah dan pendirian kota Kairo sebagai ibukota menjadikan negeri memiliki posisi yang strategis secara geografis, karena berada pada pertemuan 3 benua sekaligus: Asia, Eropa, dan Afrika. Salah satu monumen kejayaan dinasti ini ialah mendirikan Universitas al-Azhar, salah satu universitas tertua di dunia. Universitas yang lebih dahulu daripada Universitas al-Azhar ialah Universitas Qarawiyyun di Maroko, didirikan oleh seorang perempuan: Fatimah al-Fihri.

 

Dinasti Utsmani

Setelah keruntuhan Dinasti Abbasiyah, sebuah pemerintahan Islam muncul di Turki. Awalnya hanyalah sebuah emirate yang kecil, tetapi semakin berkembang menjadi kekhalifahan yang baru. Berturut-turut, Dinasti Utsmani dipimpin oleh sultan-sultan sebagai berikut:

No. Sultan Periode
Masa Pertumbuhan
1 Osman I 1299 - 1324
2 Orhan I 1324 - 1362
3 Murad I 1362 - 1389
4 Bayezid I 1389 - 1402
Perang Saudara
5 Isa 1403 - 1405
6 Süleyman 1402 - 1411
7 Musa 1411 - 1413
8 Mehmed 1403 - 1413
Masa Kebangkitan
9 Mehmed I 1413 - 1421
10 Murad II 1421 - 1444
11 Mehmed II 1444 - 1446
12 Murad II 1446 - 1451
Masa Kejayaan
13 Mehmed II 1451 - 1481
14 Bayezid II 1481 - 1512
15 Selim I 1512 - 1520
16 Suleiman I 1520 - 1566
17 Selim II 1566 - 1574
18 Murad III 1574 - 1595
19 Mehmed III 1595 - 1603
20 Ahmed I 1603 - 1617
21 Mustafa I 1617 - 1618
22 Osman II 1618 - 1622
23 Mustafa I 1622 - 1623
24 Murad IV 1623 - 1640
25 Ibrahim I 1640 - 1648
26 Mehmed IV 1648 - 1687
Masa Reformasi
27 Suleiman II 1687 - 1691
28 Ahmed II 1691 - 1695
29 Mustafa II 1695 - 1703
30 Ahmed III 1703 - 1730
31 Mahmud I 1730 - 1754
32 Osman III 1754 - 1757
33 Mustafa III 1757 - 1774
34 Abd-ul-Hamid I 1774 - 1789
35 Selim III 1789 - 1807
36 Mustafa IV 1807 - 1808
Masa Modernisasi
37 Mahmud II 1808 - 1839
38 Abd-ul-Mejid I 1839 - 1861
39 Abd-ul-Aziz I 1861 - 1876
40 Murad V 1876 - 1876
41 Abd-ul-Hamid II 1876 - 1909
42 Mehmed V 1909 - 1918
43 Mehmed VI 1918 - 1922
Kekhalifahan Republik
44 Abd-ul-Mejid II 1922 - 1924

Pada masa kejayaannya, Turki Utsmani menjadi negara paling besar dan paling kuat di muka bumi. Mereka mempunyai teknologi militer terbaik pada masa itu, sehingga mampu menaklukkan Konstantinopel (ibukota Romawi Timur), dan mengakhiri abad pertengahan dan memimpin peradaban dunia memasuki era modern. Mereka juga mampu mengembangkan sistem hukum yang paling maju, serta memiliki kesejahteraan ekonomi yang terdepan.

Akan tetapi, negeri ini tidak mampu melawan pembusukan dari dalam: perpecahan di antara panglima militer, kebangkitan suku-suku, dan intervensi negara-negara Eropa yang berambisi meluaskan wilayah kolonialisme mereka. Setelah beberapa kali kalah dalam Perang Dunia I, wilayahnya yang sedemikian luas dibagi-bagi di antara negara-negara Eropa yang memenagkan perang itu. Setelah kekuasaannya semakin menyusut, akhirnya Dinasti Turki Utsmani diruntuhkan oleh rakyatnya sendiri melalui Gerakan Nasionalis Turki yang mengubah kekhalifahan Turki menjadi Republik Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal.

 

Negeri-Negeri Muslim lainnya

Selain 4 negeri Muslim yang telah dijelaskan di atas, ada banyak sekali negeri Muslim lain yang tersebar dari Afrika Utara, Asia Tengah, Asia Selatan, Persia, sampai Nusantara. Di Nusantara sendiri, ada banyak kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri dan berkembang, mulai dari Aceh, Minang, Melayu, Makassar, Bugis, Mataram, Banten,  Bima, Ternate, dan lain-lain.

 

Kolonialisme Eropa di Dunia Islam dan Seruan Kebangkitan

Semenjak runtuhnya Dinasti Turki Utsmani, seluruh Dunia Islam praktis menjadi wilayah jajahan kolonialisme Eropa. Ummat Islam tersungkur di bawah penindasan kolonialisme Eropa, termasuk rakyat di Nusantara. Meskipun ada banyak kerajaan di Nusantara yang dipersatukan oleh kesamaan agama Islam, mereka sangat mudah dihasut satu sama lain, sehingga mudah ditaklukkan oleh tentara kolonial.

Di bawah penindasan kolonialisme, ummat Islam mengalami keterbelakangan secara total: ekonomi, politik, sosial, teknologi, ilmu pengetahuan, dan mentalitas. Oleh karena itu, tumbuh kesadaran di kalangan terpelajar ummat Islam (terutama ulama) untuk menyerukan kebangkitan kembali Islam, sebagaimana pernah diraih oleh ummat Islam semenjak kemenangan Nabi di Jazirah Arab sampai masa-masa sebelum kolonialisme.

 


Evaluasi Perkuliahan Tema 2: Kapita Selekta Sejarah Dunia Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?