Narasi
Sosial

Inovasi Sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah

Salah satu keyakinan Muhammadiyah dalam beragama ialah inner-wordly ascetism, bahwa kehidupan di dunia ini merupakan bagian penting untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat. Agama bukan cuma ritual semata. Agama itu luas, meliputi hubungan dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan dengan manusia (habl min al-nas). Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan seharusnya saling melengkapi. Di samping menyembah kepada Allah sebagai kewajiban setiap Muslim, mereka juga juga harus berbuat baik kepada sesama, baik sesama manusia maupun sesama makhluk Allah. Oleh karena itu, segala kebaikan yang dilakukan di dunia ini juga merupakan bagian dari agama dan ibadah. Bekerja keras merupakan bagian dari ibadah. Belajar dengan sungguh-sungguh merupakan pengamalan agama. Melayani masyarakat juga bagian dari menjalankan perintah Allah. Kritik terhadap kemunkaran merupakan ibadah. Semua kebaikan seperti itu dinamakan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, orang-orang Islam harus memiliki kekuatan, tidak boleh lemah, karena untuk amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan dunia ini membutuhkan kekuatan: sosial, ekonomi, politik, hukum, sumberdaya manusia, dan lain-lain.

Oleh karena kehidupan di dunia ini sangat dinamis, maka agama juga harus dinamis agar bisa mengimbangi dinamika sosial. Agama yang tidak diperbaharui akan ditinggalkan oleh ummatnya, karena agama harus antisipatif terhadap perubahan sosial yang terjadi agar tetap menjadi pegangan hidup yang bisa diandalkan. Inilah yang disebut dengan tajdid (pembaharuan). Meskipun demikian, kaidah-kaidah pokok dalam agama sama sekali tidak boleh ditinggalkan. Oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan ialah ijtihad, yaitu menemukan hukum-hukum baru dalam agama atas hal-hal baru dalam kehidupan di dunia berdasarkan al-Quran dan Hadits Nabi. Dengan demikian, untuk melakukan ijtihad harus dilakukan oleh ulama yang otoritatif di bidangnya, yaitu memiliki pengetahuan yang memadai tentang al-Quran dan Hadits, serta pengetahuan spesifik yang berkaitan dengan hal-hal baru yang relevan. Di era kontemporer ini, hampir mustahil menemukan ulama yang benar-benar otoritatif dalam semua hal. Oleh karena itu, Muhammadiyah melakukan ijtihad secara berjamaah dengan membentuk Majelis Tarjih dan Tajdid.

Dengan mengusung tajdid dan ijtihad ini, Muhammadiyah menjadi salah satu gerakan Islam yang terkemuka dalam sejarah. Muhammadiyah menginspirasi banyak hal dalam agama dengan terobosan-terobosan (inovasi) baru pada zamannya.

 

Inovasi di Bidang Pendidikan

Pada masa kolonial, ketika Muhammadiyah didirikan, pendidikan yang diinisiasi Pemerintah Kolonial membedakan secara diametral antara kelompok elit (priyayi) dan rakyat kecil. Kaum priyayi difasilitasi sedemikian rupa sehingga mereka bisa masuk ke sekolah-sekolah bergengsi dan mendapatkan pekerjaan yang layak setelah kelulusannya, sedangkan rakyat kecil tidak bisa mengakses pendidikan secara layak, bahkan tidak sama sekali. Hal ini jelas mengusik rasa keadilan bagi ummat Islam: ketidakadilan sangat tampak nyata bagi ummat Islam, karena sebagian besar dari rakyat kecil itu merupakan ummat Islam. Sementara itu, sebagian ummat Islam pada saat itu hanya berkonsentrasi pada other wordly ascetism, yaitu hanya berorientasi pada ibadah ritual semata, sehingga pendidikan mereka hanya berfokus pada pembelajaran agama secara sempit (fiqh dan bahasa Arab).

Baca Juga:   Agama dan Negara

Melihat kenyataan itu, Pendiri Muhammadiyah, Kyai haji Ahmad Dahlan, berinovasi mendirikan sekolah yang accessible bagi ummat Islam dan orang-orang yang terpinggirkan. Hal ini merupakan keberpihakan Muhammadiyah kepada orang-orang yang lemah. Mereka yang tidak terserap dalam pendidikan kolonial difasilitasi secara terbuka untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang terus-menerus dibuka di berbagai daerah pada masa awal perkembangan Muhammadiyah.

Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga berinovasi dengan memadukan pembelajaran ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Ilmu agama merupakan basis nilai yang wajib ditanamkan kepada anak-anak Muslim agar mereka memiliki dasar keagamaan yang kuat, sementara ilmu pengetahuan umum juga wajib dipelajari sebagai salah satu bekal utama bagi anak-anak Muslim dalam kehidupan di dunia yang selalu dinamis.

Di samping itu, Muhammadiyah juga mengadopsi sistem klasikal dari sistem pendidikan Kolonial. Hal ini merupakan hal yang sama sekali baru pada saat itu, karena sistem pendidikan pesantren yang berlaku saat itu adalah sistem halaqah: santri duduk melingkar di sekitar Kyai/Ustadz. Hal ini mengindikasikan bahwa Muhammadiyah terbuka dengan siapapun untuk kebaikan, meskipun kebaikan itu berasal dari sistem kolonial yang pada saat itu dianggap kafir.

 

Inovasi Pelayanan Kesehatan

Salah satu hambatan terbesar dalam sistem kesehatan pada masa kolonial ialah kepercayaan tradisional masyarakat (termasuk masyarakat Muslim) bahwa penyakit yang diderita manusia disebabkan oleh kekuatan-kekuatan ghaib yang jahat. Oleh karena itu, masyarakat masih terbiasa datang ke dukun untuk meminta kesembuhan. Hal ini jelas bertentangan dengan aqidah Islam, karena sangat rentan terjerumus dalam kesyirikan. Padahal, sebagian besar penyakit justru diakibatkan oleh hal-hal yang bersifat fisik atau biologis: misalnya bakteri, virus, lingkungan yang kotor, sanitasi yang tidak layak, dan lain-lain.

Di samping itu, pelayanan kesehatan modern yang disediakan Pemerintah Kolonial juga masih sangat terbatas dan mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat miskin. Pendidikan dokter hanya bisa diakses oleh golongan ningrat. Hanya sedikit di antara lulusan pendidikan kedokteran itu yang berkhidmat bagi pelayanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat miskin. Maka, lengkaplah penderitaan kaum pribumi dan ummat Islam pada masa kolonial.

Melihat kenyataan itu, Muhammadiyah berinovasi dengan mendirikan pelayanan kesehatan yang accessible bagi pribumi dan ummat Islam. Muhammadiyah mendirikan klinik-klinik kesehatan di berbagai daerah melalui Majelis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Spirit Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan masyarakat miskin ini turut menggetarkan Dokter Soetomo, seorang dokter alumni STOVIA dan tokoh pergerakan nasional untuk membantu Muhammadiyah dalam pelayanan kesehatan. Ia juga menggerakkan puluhan dokter lulusan STOVIA berpraktek di klinik-klinik Muhammadiyah di Jawa.

 

Inovasi Gerakan Perempuan (Aisyiyah)

Selama rentang masa kolonialisme, posisi perempuan sangat dimarginalkan, secara struktural maupun kultural. Pada abad ke-19, ketika ekonomi perkebunan sedang booming di Hindia Belanda, banyak lajang Eropa yang datang ke negeri ini untuk mengadu nasib. Mereka mengambil perempuan-perempuan pribumi sebagai gundik (istri simpanan), tanpa status hukum yang jelas. Artinya, para perempuan yang diambil sebagai gundik itu sangat rentan dinistakan tanpa pembelaan hukum. Praktik seperti ini dibiarkan saja oleh Pemerintah Kolonial.

Sementara itu, secara kultural, para perempuan juga dibelenggu atas nama budaya, bahkan atas nama agama. Dalam konstruksi budaya, perempuan diposisikan menjadi kanca wingking (ibu rumah tangga) yang baik bagi suaminya. Oleh karena itu, hidupnya dikonstruksikan untuk berkhidmat kepada suami, tanpa diberi kesempatan untuk membekali diri dengan pendidikan yang memadai. Artinya, kehidupan perempuan sangat tergantung kepada suami. Akibatnya, jika suami berkelakuan buruk, maka posisi perempuan sebagai istri akan menghadapi nasib yang buruk. Apalagi jika suami yang berkelakuan buruk itu menggunakan legitimasi agama untuk terus-menerus menambah istri, tanpa menghiraukan nasib istri-istrinya terdahulu.

Baca Juga:   Kolonialisme dan Kebangkitan Islam

Menyadari hal itu, Muhammadiyah membuat terobosan baru dengan mengorganisasi para perempuan untuk belajar literasi, sebuah kapabilitas yang sangat dibutuhkan dalam dunia yang beranjak modern pada saat itu. Dengan literasi itu, para perempuan bisa mengakses berbagai informasi yang beredar melalui buku-buku dan media cetak lainnya. Kemampuan akses informasi ini mendorong para perempuan itu mengorganisasi diri untuk memberdayakan diri sendiri. Maka, berdirilah Aisyiyah, yang diawali dengan sekumpulan perempuan muda dan handal yang dididik Kyai Dahlan melalui Pengajian Sapa Tresna.

Di kemudian hari, bersamaan dengan Muhammadiyah, organisasi Aisyiyah menjadi salah satu pelopor gerakan perempuan Muslim di Indonesia. Mereka mempelopori penyelenggaraan Kongres Perempuan Pertama yang menyuarakan aspirasi perempuan dalam ranah publik, sebuah forum yang belum pernah ada dalam sejarah perempuan di Hindia Belanda pada saat itu. Kepeloporannya tetap berlangsung sampai saat ini dengan berbagai program yang relevan untuk perempuan dan keluarga Indonesia.

 

Inovasi Pembenahan Manajemen Zakat

Pada awal pendirian Muhammadiyah, hanya sedikit ummat Islam yang membayar zakat. Kesadaran untuk berzakat masih sangat rendah. Meskipun demikian, tetap ada orang-orang Islam yang membayar zakat sebagai pelaksanaan kewajiban rukun Islam, terutama di kalangan santri, yaitu kelompok Muslim yang lebih taat dalam melaksanakan rukun Islam. Akan tetapi, pengumpulan dan distribusi zakat ini masih belum terorganisasi dengan baik. Mereka biasanya membayarkan zakatnya kepada tokoh agama setempat, atau langsung kepada faqir miskin di sekitar mereka. Meskipun tokoh agama merupakan salah satu asnaf (orang yang berhak menerima zakat, karena dikategorikan sebagai fi sabilillah, yaitu orang yang berjuan di jalan Allah), fungsi zakat untuk pemberdayaan orang-orang yang lemah menjadi kurang maksimal, karena zakat hanya terakumulasi pada tokoh agama, dan tidak memiliki efek sosial yang lebih besar untuk memberdayakan kaum yang lemah.

Menghadapi hal ini, Muhammadiyah berinovasi untuk melakukan pengorganisasian zakat melalui ‘amil, salah satu asnaf yang dibolehkan oleh agama. Pengorganisasian zakat melalui amil ini difokuskan untuk memaksimalkan pengumpulan dan distribusi zakat. Dengan segmentasi distribusi yang lebih terarah, zakat diupayakan bisa terfokus untuk pemberdayaan kaum dlu’afa (faqir miskin). Salah satunya ialah pengorganisasian Rumah Yatim. Muhammadiyah merupakan pioneer dalam pendirian Rumah Yatim di berbagai daerah dengan memaksimalkan zakat untuk menyantuni anak-anak yatim yang merupakan kaum faqir dan miskin. Pada era kontemporer, pengelolaan zakat menjadi lebih profesional, dan salah satu programnya diarahkan untuk pengembangan ekonomi produktif.

 

Inovasi Pendekatan Sains dalam Penentuan Waktu Ibadah

Astronomi merupakan salah satu kajian ilmu (sains) yang paling awal dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim di abad pertengahan. Melalui pendekatan sains ini, peredaran benda-benda langit bisa diprediksi secara tepat dan presisi, sehingga bisa digunakan untuk menentukan waktu-waktu yang berhubungan dengan ibadah: misalnya kapan masuknya waktu shalat, bulan Ramadlan, bulan Syawal, bulan Dzulhijjah, dan lain-lain. Akan tetapi, pendekatan sains ini tidak banyak digunakan oleh ummat Islam di Indonesia dalam menentukan waktu ibadah. Mereka lebih banyak menggunakan metode ru’yah (melihat dengan pandangan mata), padahal metode ini memiliki kelemahan, yaitu pandangan sering tertutupi oleh cuaca yang kurang baik.

Baca Juga:   Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai Kritik Sosial

Atas dasar itu, Muhammadiyah mengintroduksi pendekatan sains untuk menentukan waktu-waktu ibadah secara presisi. Hal ini juga dibolehkan dalam al-Quran (Surah Yunus: 5; Surah Al-Rahman; 5, dan Surah al-Anam: 96). Sains modern telah membuktikan bahwa manusia sudah bisa memprediksi terjadinya gerhana matahari dan bulan, serta peredaran benda-benda langit dengan ketepatan yang sangat presisi.

 

Inovasi Khutbah Berbahasa Lokal

Khutbah pada zaman dulu biasanya disampaikan dalam bahasa Arab. Bahkan sampai sekarang, masih ada komunitas-komunitas Muslim di Indonesia yang menyampaikan khutbah Jumat dalam bahasa Arab. Hal ini menyebabkan pesan khutbah tidak bisa dimengerti oleh jamaah. Oleh karena itu, Muhammadiyah menginisiasi khutbah dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh jamaah.

 

Dakwah melalui Media

Awal abad ke-20 ditandai dengan menjamurnya pers di Hindia Belanda. Banyak media massa diterbitkan. Akan tetapi, hanya sedikit media massa yang berbasis Islam, menyuarakan aspirasi ummat Islam, dan membela ummat Islam. Oleh karena itu, Muhammadiyah merintis Majalah Suara Muhammadiyah pada tahun 1913 sebagai media dakwah bagi warga Muhammadiyah dan ummat Islam.

 

Amal Usaha

Muhammadiyah menyadari bahwa gerakan Islam tidak sepenuhnya hanya bisa mengandalkan filantropi (kedermawanan). Oleh karena itu, sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah harus mandiri dengan mengembangkan berbagai usaha produktif yang bisa menghasilkan pendapatan untuk membeayai gerakan dakwah Islam ini.

Atas dasar itu, seiring dengan dinamika sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang semakin makmur, Muhammadiyah mentransformasikan lembaga-lembaga amal di bidang pendidikan dan kesehatan memiliki dimensi ekonomi produktif agar bisa mendukung gerakan dakwah Muhammadiyah menjadi mandiri dalam skala besar, tanpa harus kehilangan spirit pemberdayaan kaum yang lemah. Transformasi ini menjadi Amal Usaha Muhammadiyah.

Dalam konteks ini, komentar James Peacock, seorang peneliti asal Amerika yang meneliti Muhammadiyah di era 1960-an memberikan komentar sebagai berikut: “Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil-kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”

 


Evaluasi Perkuliahan Tema 5: Inovasi Sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?