Narasi
Agama

Iman dan Etos Kerja

Jika ada yang bertanya, untuk apa sebenarnya manusia diciptakan di dunia ini? Sebagai seorang muslim, tentu akan mudah menjawabnya: untuk beribadah. Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas dititahkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”. Ayat ini berlaku umum  menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata. Namun demikian, apakah yang dimaksud dengan ibadah di sini hanya seperti yang kita bayangkan yaitu melaksanakan rukun Islam semata? Atau hanya berdiam di masjid berdzikir kepada Allah tanpa henti tanpa melakukan kegiatan apapun selainnya? Tentu tidak. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan.

 

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash/28: 77)

 

Ayat tersebut menekankan keseimbangan hidup manusia antara dunia dan akhirat. Kehidupan dunia merupakan ladang amal untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat. Dalam beribadah kita tetap memerlukan nutrisi dan logistik. Setiap Muslim juga disunnahkan oleh Nabi untuk berkeluarga, dan mereka harus dinafkahi. Nabi juga mendorong setiap Muslim untuk mandiri, tidak bergantung kepada orang lain. Setiap Muslim juga didorong untuk memiliki kelebihan harta agar bisa berderma menolong sesamanya. Hadits Nabi secara jelas menegaskan: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Artinya, orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta-minta. Semuanya bisa didapatkan melalui kerja. Oleh karenanya, kerja merupakan salah satu bagian terpenting dari amal saleh, sehingga tetap bernilai ibadah.

 

 

Problem Etos Kerja di Dunia Islam

Meskipun Islam sangat memuliakan orang yang bekerja, seringkali dijumpai dalam masyarakat Muslim adanya kepercayaan asketik, yaitu lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan rohaniah semata, dan mengabaikan kehidupan di dunia. Akibatnya, nilai kerja dalam masyarakat Muslim semakin merosot, karena hanya sedikit orang yang produktif dan bekerja secara sungguh-sungguh. Hal ini biasanya terjadi dalam kehidupan sosial yang dikuasai oleh pemerintahan feodal yang dhalim.

Baca Juga:   Pangan Halal di Era Masyarakat Konsumsi

Sejarah telah membuktikan bahwa kemerosotan Dunia Islam diakibatkan oleh kolonialisme yang berkolaborasi dengan penguasa lokal yang dzalim. Dalam sistem kekuasaan yang zalim, timbul kehidupan yang mewah di kalangan elite kekuasaan. Pemerintahan yang otoriter menyebabkan motivasi rakyat untuk bekerja merosot. Dalam keadaan tertindas, rakyat akhirnya melarikan diri dari urusan keduniaan untuk mencari ketenangan batin secara rohaniah (mendekatkan diri kepada Tuhan). Oleh karena itu, banyak bermunculan tareqat sufi yang lebih berorientasi pada akhirat semata, dan menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

 

 

Prinsip-Prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam

Sebagai agama yang menekankan arti penting amal dan kerja, Islam mengajarkan bahwa kerja itu harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-proinsip yang diajarkan di dalam al-Quran dan Hadits Nabi. Pertama, bekerja harus dilakukan berdasarkan pengetahuan, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya” (QS. Al-Isra’/17: 36); dan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian, sebagaimana dapat dipahami dari hadis Nabi Saw: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (Hadis Shahih riwayat al-Bukhari).

Kedua, bekerja harus berorientasi pada mutu dan hasil yang baik, sebagaimana dapat dipahami dalam al-Quran: “Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Al-Mulk/67: 2). Dalam Islam, amal atau kerja itu juga harus dilakukan secara saleh, sehingga menjadi rangkaian “amal saleh”, yang jika diterjemahkan secara bebas dalam konteks manajemen ialah bekerja sesuai standard mutu.

Ketiga, bekerja itu disaksikan oleh Allah, Rasul, dan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana dapat dipahami dalam al-Quran: “Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu” (QS. Al-Taubah/9: 105). Bekerja harus dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi itu digambarkan oleh sebuah hadis sebagai berikut: “Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat, sementara di tangannya masih ada benih, hendaklah ia tanam benih itu” (H.R. Ahmad).

Baca Juga:   Islam Berkemajuan di Indonesia

Keempat, orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah ia kerjakan. Ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep imbalan bukan hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam al-Qur‟an ditegaskan: “Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan” (QS. Al-Najm/53: 31). Meskipun demikian, bekerja harus tetap diniatkan sebagai ibadah kepada Allah agar mendapatkan nilai tertinggi di sisi Allah, sebagaimana hadits Nabi: “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya (ditujukan) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” Sabda Nabi Saw itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya.  Dan  komitmen  atau  niat  adalah  suatu  bentuk  pilihan  dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang  dianutnya. Oleh karena itu komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, atau, jika ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.

Kelima, ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah salah satu bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan. Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) – karena berpikir baginya bentuk wujud manusia – maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.” Pandangan ini sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri:

“Belumkah ia (manusia) diberitahu tentang apa yang ada dalam lembaran- lembaran suci (Nabi (Musa)? Dan Nabi Ibrahim yang setia? Yaitu bahwa seseorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain. Dan bahwa tidaklah bagi manusia itu melainkan apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan bahwa kepada Tuhanmu lah tujuan yang penghabisan” (QS, al-Najm/52: 36-42). Itulah yang dimaksudkan dengan ungkapan bahwa kerja adalah bentuk eksistensi manusia, yaitu bahwa harga manusia (apa yang dimilikinya) tidak lain ialah amal perbuatan atau kerjanya itu. Manusia ada karena amalnya, dengan amalnya yang baik itu manusia mampu mencapai harkat yang setinggi-tingginya, yaitu bertemu Tuhan dengan penuh keridlaan.

Baca Juga:   Keimanan di Tengah Pluralitas

“Barang siapa benar-benar mengharap bertemu Tuhannya, maka hendaknya ia berbuat baik, dan hendaknya dalam beribadat kepada Tuhannya itu ia tidak melakukan syirik” (QS, al-Kahfi/18: 110). Syirik, dalam hal ini, berarti mengalihkan tujuan pekerjaan selain kepada Allah, Sang Maha Benar, al-Haqq, yang menjadi sumber nilai tertinggi dalam pekerjaan manusia.

Keenam, bekerja harus dilakukan secara aktif, sebagaimana hadits Nabi: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah azza wa jalla dari pada orang mukmin yang lemah, meskipun pada kedua-duanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah. Jika sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah berkata: “Andaikan aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu”. Sebaliknya berkatalah: “Ketentuan (qadar) Allah, dan apa pun yang dikehendaki-Nya tentu dilaksanakan-Nya”. Sebab sesungguhnya perkataan “andaikan” itu membuka perbuatan setan”. Dengan demikian, untuk membuat kuatnya seorang mukmin seperti dimaksudkan oleh Nabi Saw, manusia beriman harus bekerja dan aktif, sesuai petunjuk lain dalam al-Quran: “Katakan (hai Muhammad): “Setiap orang bekerja sesuai dengan kecenderungannya (bakatnya) …” (QS. al-Isra’/17: 84); dan ayat lainnya: “Dan jika engkau bebas (berwaktu luang), maka bekerja keraslah, dan kepada Tuhan-Mu berusahalah mendekat” (QS. al-Insyirah/94: 7).

Ketujuh, bekerja setara nilainya dengan ibadah, dan dimaksudkan untuk mencari kemurahan dari Allah, sehingga keduanya harus dilakukan secara seimbang, sebagaimana ditegaskan alam al-Quran: “Maka bila shalat itu telah usai, menyebarlah kamu di bumi, dan carilah kemurahan (karunia) Allah, serta banyaklah ingat kepada Allah, agar kamu berjaya” (QS. al-Jumu’ah/62: 10)

 

Daftar Pustaka

Kementerian Agama. (tt). An Nur: Al-Qur’an dan terjemahan. Semarang : CV Asy-Syifa’.

Al-Maraghi, A. M. (1986). Tafsir al Maraghi. Terjemahan Bahrun Abu Bakar, Jilid 2. Semarang: Toha Putra.

Shihab, Q. (1993). Membumikan Al-Qur’an. Cetakan IV. Bandung: Penerbit Mizan.

 


Tema 3: Iman dan Etos Kerja
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?