Narasi
Sains

Evolusi Manusia, Agama, Sains, dan Tuhan

Pada awal peradabannya, secara antropologis, manusia mendapati dirinya sebagai makhluk yang tidak berdaya di tengah alam yang tak sepenuhnya ramah. Mereka memang bisa mendapatkan makanan dari buruan dan buah-buahan, serta mendapatkan kehangatan dari sinar matahari yang selalu teratur memancarkan cahayanya. Akan tetapi, setiap saat mereka bisa tergulung ombak ketika mencari ikan di pantai, atau diterkam binatang buas, atau didera penyakit mematikan.

Dalam ketidakberdayaan di tengah dua ekstrimitas alam itu, manusia selalu penasaran: siapa atau apa yang menyebabkan semua itu? Apakah semua itu berlangsung secara alami? Ataukah ada kekuatan tertentu yang menggerakkan alam semesta ini? Bagaimana asal mula terjadinya alam ini? Bagaimanakah nasib manusia dan alam kelak? Semua itu sama sekali tidak bisa dijawab oleh manusia kuno itu. Bagi mereka, alam ini terlalu besar dan rumit untuk dimengerti.

Akan tetapi, dalam ketidakberdayaan itu mereka butuh pelindung. Mereka membutuhkan sebuah kekuatan yang Maha Hebat yang diharapkan bisa melindungi mereka dari keganasan alam, serta bermurah hati memberi mereka kecukupan atas segala hal yang mereka butuhkan. Akhirnya, lama-kelamaan, mereka mengkonstruksikan adanya Tuhan. Mereka mengkonstruksikan bahwa di belakang benda-benda alam itu terdapat kekuatan Maha Dahsyat yang menggerakkan alam. Oleh karena itu, masyarakat kuno dari bangsa-bangsa di dunia memiliki dewa-dewa yang mereka imajinasikan dan ciptakan sendiri. Misalnya, orang Jepang mengkonstruksikan adanya Amaterasu (Dewi Matahari), orang Jawa meyakini adanya kekuatan ghaib benda-benda, dan orang India memuja dewa-dewa.

Kepercayaan adanya Tuhan itu kemudian semakin dimapankan dengan seperangkat ritual, sehingga menjadi agama. Maka, ada ritual tertentu yang wajib dilakukan. Ada sesaji dan tumbal yang harus diberikan untuk “menyuap” Tuhan agar tidak marah. Ada mantra dan doa yang dilantunkan untuk mengajukan permohonan kepada Tuhan, dan lain-lain. Semua itu dimaksudkan untuk menyembah Tuhan yang mereka temukan dalam pergulatan hidup mereka.

Lama kelamaan, manusia semakin intensif berinteraksi dengan alam. Dari interaksi yang semakin intensif dengan alam itu, manusia semakin intensif mengamati alam. Mereka berusaha untuk memahami alam: ternyata ada keteraturan di alam semesta ini. Misalnya, matahari selalu terbit dari timur; panasnya yang terik akan menguapkan air sehingga menjadi awan dan mendung yang menyebabkan hujan; hujan membasahi bumi, kemudian menumbuhkan tanam-tanaman yang beraneka macam yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya, makhluk hidup itu juga dimakan oleh makhluk hidup lainnya sehingga membentuk rantai makanan, dan lain-lain.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (1)

Karena manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang serba ingin tahu, maka pengamatan terhadap alam akhirnya berkembang semakin intensif. Lama kelamaan, pengamatan-pengamatan baru terhadap alam ini semakin sistematis, sehingga menghasilkan sains, sebuah sistem pengetahuan tentang alam semesta. Hal ini meningkatkan rasa percaya diri manusia.

Di belakang hari, kepercayaan-kepercayaan tradisional itu digugat oleh para Nabi. Mereka mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk meluruskan kepercayaan-kepercayaan yang tak memiliki hujjah sama sekali. Itulah agama-agama samawi. Nabi-nabi itu mengkritik bahwa kepercayaan yang mereka anut sebelumnya itu menyesatkan, dengan menyerukan bahwa Tuhan hanya Satu, dan manusia hanya patut menyembah Tuhan Yang Maha Satu itu, serta berbuat baik kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Seruan nabi-nabi itu memiliki banyak pengikut, bahkan sampai bergenerasi-generasi. Agama-agama itu pun berkembang terus-menerus. Meskipun ada nabi-nabi baru yang membawa wahyu, banyak orang tetap berpegang teguh pada agama leluhur mereka.

Sementara itu, di sisi yang lain, usaha manusia untuk memahami alam semesta terus-menerus tumbuh dan menghasilkan sains yang semakin sempurna, sehingga turut membangun kebudayaan manusia. Manusia pun menjadi semakin rasional dengan perkembangan sains ini, dan mengalami krisis kepercayaan terhadap mitos-mitos tradisi. Hal ini berjalan linear dengan usaha agama-agama samawi untuk meruntuhkan mitos-mitos tradisi itu.

Dalam tahap ini, agama melihat bahwa sains memiliki potensi yang sangat bisa diandalkan untuk meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan pagan (seperti animisme, dinamisme, kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno, dan lain-lain). Oleh karena itu, agama mulai melibatkan sains untuk mengajak manusia mengenal Tuhan, Dzat Yang Maha Tinggi dan Berkuasa atas seluruh alam semesta. Pada era ini, kehendak untuk memahami Tuhan menjadikan agama menjadi pendorong utama semua usaha perolehan sains. Hampir semua penemuan besar sains di awal perkembangannya berasal dari lingkaran elit para agamawan: mereka ulama-ilmuwan atau pendeta-ilmuwan. Sistem pendidikan, sekolah dan universitas, di seluruh dunia, pada mulanya berdiri dan berkembang untuk kepentingan agama. Hal ini terjadi pada masyarakat Muslim abad pertengahan dan masyarakat Kristen Eropa pada abad renaissance. Sains digunakan untuk memperkuat dogma-dogma agama. Ketika kitab suci mengatakan Tuhan menciptakan alam, maka sains bekerja untuk membuktikan betapa sempurnanya hukum yang mengatur alam. Sempurnanya hukum alam menjadi bukti yang kuat tentang betapa hebatnya Tuhan yang menciptakan hukum alam tersebut. Pada saat itu, sains digunakan sebagai alat untuk memahami kebesaran Tuhan, sehingga agama merupakan pendorong utama sains.

Ketika sains menjadi semakin maju, manusia mulai menyadari bahwa sains tidak hanya bisa menjelaskan sebagian dari fenomena alam, melainkan sains seharusnya bisa digunakan untuk menjelaskan semua fenomena alam. Bila masih ada fenomena yang belum terjelaskan, manusia yakin, itu hanyalah masalah waktu saja. Suatu saat manusia pasti bisa menjelaskan dengan sains.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern

Kepercayaan terhadap sains bahkan mencapai titik dimana kita percaya bahwa dengan sedemikian sempurnanya hukum alam, maka tidak akan ada satupun peristiwa yang bisa terjadi dengan melanggar hukum-hukum alam. Penjelasan mistis atau mukjizat semakin tidak mendapatkan tempat, itu hanya kepercayaan tahayul, tidak masuk akal. Bahkan, keajaiban yang bersumber dari campur tangan Tuhan pun akhirnya diragukan: mungkin Tuhan bisa melakukan campur tangan terhadap suatu peristiwa, tetapi campur tangan-Nya tidaklah dilakukan dengan melanggar hukum alam. Pada titik ini, sains sedemikian kuatnya, sehingga agama merasa butuh mendapatkan dukungan sains agar bisa diterima masyarakat. Maka banyak agamawan yang berusaha menunjukkan bahwa agama mereka benar karena apa yang dikatakan agama yang mereka anut bisa dicocokkan dengan sains. Ada banyak sekali kajian agama yang mengutip segala macam kata ilmuwan penemu “fakta sains” yang sesuai dengan ayat ini dan itu di dalam Kitab Suci atau dogma ini dan itu.

Dengan menempatkan Tuhan dan Agama dalam kerangka sains, secara tak sadar para agamawan mulai melucuti sifat Maha Kuasa dari Tuhan. Tuhan tidak bisa lagi semena-mena melakukan tindakan yang melanggar hukum alam dan di luar nalar. Kalaupun terpaksa untuk campur tangan, maka Tuhan hanya bisa campur tangan sebatas diijinkan oleh hukum alam, oleh nalar. Di era ini, sains menjelma menjadi lebih kuat dan lebih penting daripada Tuhan.

Apakah Sains Akhirnya Membuang Agama?

Ilmu Kosmologi mengatakan awal semesta bisa dirunut ulang awalnya pada sebuah big bang. Bergunung bukti dari pergerakan bintang, galaksi dan sebaran radiasi semesta yang mendukung peristiwa big bang tersebut. Ilmu Fisika Nuklir mengatakan kompleksitas beragam atom di semesta ini pada awalnya berawal dari atom Hidrogen yang sederhana. Gravitasi dan beragam gaya semesta mengolah Hidrogen tersebut dalam rangkaian evolusi yang melibatkan reaksi nuklir dalam bintang untuk berkembang menjadi beragam atom yang ada di alam. Materi yang sederhana ini juga berevolusi dalam periode milyaran tahun membentuk galaksi, bintang, planet dan segala isi semesta ini.

Ilmu Biologi mengatakan semua kompleksitas mahluk hidup di bumi ini tercipta melalui proses evolusi yang panjang. Evolusi biologi ini mendapat dukungan dari berbagai fakta arkeologi, analisa DNA dan bahkan simulasi seleksi alam yang dapat dilakukan manusia untuk meniru evolusi alami.

Baca Juga:   Sains dan Islam pada Abad Pertengahan

Ilmu Antropologi, sosial dan budaya menunjukkan bahwa proses budaya dapat menjelaskan proses pembentukan agama dalam berbagai peradaban dunia. Tak ada aktor supranatural atau alam supranatural yang bisa dibuktikan dan terlibat dalam pembentukan agama-agama tersebut.

Ilmu Psikologi dan Neurosains menunjukkan bahwa fenomena mistis dan bahkan Tuhan dapat dijelaskan sebagai hasil proses dalam otak. Ilmu Mekanika Quantum menunjukkan bahwa materi, ruang, waktu, dan hukum alam seperti yang kita alami ini bisa muncul spontan tanpa campur tangan siapapun dari kekosongan mutlak. Bigbang yang menciptakan semesta ini dan hukum alamnya muncul begitu saja dari ketiadaan. Alam semesta dengan hukum alamnya yang seperti kita diami ini hanya satu dari jutaan kemungkinan alam semesta lain dan hukum alam yang lain yang bisa tercipta. Bisa jadi ada semesta lain yang komposisi materi dan hukum alam di dalamnya tidak memungkinkan terciptanya planet dan mahluk hidup.

Gabungan semua sains terbaru itu menunjukkan bahwa semua proses di alam ini bisa dijelaskan oleh sains saja. Lebih jauh lagi Stephen Hawking salah satu ilmuwan utama dunia mengatakan “Tuhan tidak diperlukan dalam penciptaan semesta”. Akibat perkembangan terbaru ini, secara praktis gambaran Tuhan agama-agama kuno yang secara aktif menciptakan dunia, dengan tangannya sendiri menciptakan manusia, melibatkan diri melalui mukjizat dalam berbagai peristiwa di dunia dan menjanjikan surga neraka; menjadi tidak relevan dan tergusur oleh sains.

Tergusurnya Tuhan oleh sains dapat dilihat dari hasil survey mengenai Tuhan terhadap anggota National Academy of Sciences, organisasi ilmuwan Amerika Serikat. Hasil survey tersebut mengejutkan karena 93% dari ilmuwan tersebut tidak percaya lagi pada Tuhan.

Beberapa saintis melangkah lebih jauh dengan menyatakan Tuhan dan agama hanyalah ilusi masyarakat kuno, mempertahankannya hanyalah menjadikan penyakit bagi peradaban manusia. Ilmuwan seperti Richard Dawkins, Sam Harris dan banyak lagi bahkan dengan gigih mengkampanyekan penghapusan agama.

Lantas, tamatkah Tuhan dan agama? Jika sains sudah membuang Tuhan sebagai aktor yang mengatur dunia, apakah Tuhan akan dilupakan? Apakah agama akan tamat? Ah, kalian jangan meremehkan keuletan Tuhan. Tuhan Maha Ulet. Tuhan personal ala agama-agama kuno mungkin tersingkir, tapi Tuhan dan agama akan kembali dengan format yang mungkin tidak diduga oleh banyak orang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?