Narasi
Sains

Al-Quran dan Sains Modern

Islam tidak pernah terasing dari sains. Islam dan sejarah Islam menunjukkan bahwa Al-Quran banyak menginspirasi ilmuwan Muslim mengembangkan sains. Meskipun demikian, setelah cukup lama sejarah Islam abad pertengahan terkubur di pojok sejarah, sebagian ummat Islam merasa kehilangan mutiara peradaban ini, dan mengira bahwa sains yang berkembang sekarang ini merupakan produk Barat semata. Padahal di dalam Al-Quran ada banyak sekali dorongan bagi kaum beriman untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan.

Salah satu petunjuk al-Quran yang paling kasat mata ialah penekanan al-Quran tentang pentingnya akal dan berpikir. Di dalam teks al-Quran terdapat banyak sekali sindiran intelektual: “afala ta’qilun” (tidakkah kamu berakal?); “afala tatafakkarun” (tidakkah kamu berpikir?); “afala tandhurun” (tidakkah kamu melihat/mengamati?); “afala tubshirun” (apakah kamu tidak melihat); “afala yatadabbarun” (apakah kamu tidak memikirkan?); dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa al-Quran mendorong tumbuhnya iklim ilmu pengetahuan (Shihab, 1992) dan sikap keilmuan (Zainuddin, 2013) dengan memberdayakan semua piranti yang diberikan oleh Allah kepada manusia: akal, penglihatan, pendengaran, dan segenap perasaan.

 

Intensi Ilmu Pengetahuan dalam Kosa Kata al-Quran dan Hadits

Islam memberi intensi yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan akal (pikiran manusia). Intensi ini tersurat secara jelas melalui banyaknya kosakata yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan akal manusia di dalam wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Demikian juga perhatian Nabi Muhammad terhadap ilmu pengetahuan juga sangat intensif melalui hadits-hadits Nabi.

Dalam al-Qur’an, kata ‘ilm beserta derivasinya (turunan) disebutkan kurang lebih mencapai 800 kali (Zainuddin, 2013). Al-Qardhawi menyebutkan bahwa kata ‘ilm (ilmu) dalam al-Qur’an, baik dalam bentuk definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakirah), disebutkan sebanyak 80 kali, sedangkan derivasinya, seperti ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka mengetahui), ‘alim (sangat tahu), dan lain-lain, terdapat ratusan kali. Sementara itu, kata al-albab (cerdas) disebutkan sebanyak 16 kali, kata al-nuha (rasa, pikiran, kecerdasan, dan kemampuan untuk berpikir) disebutkan sebanyak 2 kali (Al-Qardhawi, 1986)

Di samping itu, derivasi kata ‘aql (akal) dalam al-Quran muncul sebanyak 49 kali, kata fiqh (paham) terdapat 2 kali, kata hikmah (ilmu, filsafat) sebanyak 20 kali, dan kata burhan (argumentasi) sebanyak 20 kali. Hal ini belum termasuk kata-kata yang relevan dengan ilmu dan berpikir, seperti seperti kata undhuru (perhatikan, amatilah, lihatlah), yandhurun (memperhatikan, mengamati) (Al-Qardhawi, 1986).

Di dalam kitab-kitab Hadits juga banyak terdapat banyak membahas tentang ilmu. Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih (karya Al-Bukhari) terdapat 102 hadits yang membahas tentang ilmu. Dalam Shahih Muslim dan lainnya, seperti al-Muwatha’, Sunan al-Tirmizi, Sunan Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah terdapat pula bab tentang ilmu. Kitab al-Faturrabbani memuat 81 hadits tentang ilmu, Majma’ az-Zawaid memuat 84 halaman tentang ilmu, al-Mustadrak (karya an-Naisaburi) memuat 44 halaman tentang ilmu, Kitab al-Targhib wa al-Tarhib (karya Al-Wundziri) memuat 130 hadis tentang ilmu, dan kitab Jam’ al Fawaid min Jami’ al-Ushul wa Majma’ al–Zawaid (karya Sulaiman) memuat 154 hadis tentang ilmu (Al-Qardhawi, 1986; Wensinck, 1962).

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (1)

 

Motivasi Islam untuk Ilmu Pengetahuan

Nabi Muhammad dikenal sebagai seorang yang ‘ummi (tidak bisa membaca dan menulis), sebagaimana umumnya orang Arab pada saat itu, karena sistem tulisan pada saat itu belum berkembang seperti sekarang. Akan tetapi, wahyu pertama yang turun kepada beliau justru perintah membaca:

 

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ – عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

(QS. Al-Alaq: 1-5).

 

Perintah membaca dalam ayat-ayat ini bisa dimaknai sebagai perintah tersirat penggunaan akal (pikiran) untuk membaca alam semesta dan kondisi sosial yang sedang berlangsung dalam masyarakatnya dalam koridor wahyu. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah juga mengisyaratkan salah satu fakta sains yang baru terkuak melalui sains modern: bahwa manusia tumbuh dari segumpal darah dalam kandungan. Dalam ayat-ayat pertama ini pula, Allah mengisyaratkan adanya transmisi keilmuan dengan tulisan (qalam) dan pengajaran.

Dalam al-Quran, Allah juga mengisahkan peristiwa penciptaan manusia pertama, yaitu Adam. Salah satu keistimewaan makhluk manusia ini ialah bahwa ia diberi pengetahuan tentang benda-benda (al-asma’), sebuah keistimewaan yang tak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya.

 

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ – قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malikat dan berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar’. Mereka menjawab: ‘Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

(QS. Al-Baqarah: 31-32)

 

Nama-nama benda (al-asma’) merupakan dasar ilmu pengetahuan, karena pada intinya ilmu pengetahuan merupakan upaya memahami benda-benda atau materi-materi yang ada di alam semesta: misalnya ilmu fisika mempelajari materi (benda) beserta gerak dan perilakunya; ilmu kimia mempelajari susunan benda-benda, astronomi mempelajari benda-benda langit; atau biologi mempelajari benda-benda (hidup). Oleh karena itu, al-Quran selalu mendorong manusia untuk untuk senantiasa mengamati alam semesta (ayat-ayat kauniyah) agar mendapatkan ilmu pengetahuan.

 

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

(QS. Ali Imran: 190)

قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.

(QS. Yunus: 101)

 

Baca Juga:   Narasi Penciptaan Alam Semesta dalam al-Quran

Di samping itu, Islam juga memberi penghormatan yang tinggi kepada orang-orang berilmu pengetahuan. Islam menyandingkan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan sederajat dengan orang-orang yang beriman.

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan

(Q.S. al-Mujadalah [58]: 11)

Kesederajatan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang beriman menandakan bahwa ilmu pengetahuan memiliki potensi besar mengantarkan seseorang untuk beriman. Ilmu pengetahuan bisa digunakan untuk memahami alam semesta, dan pada gilirannya bisa mengantarkan untuk menemukan Tuhan yang berada di balik kebesaran alam semesta ini.

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.

(QS. Al-Zumar: 9);

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعَالِمُوْنَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.

(QS. Al-Ankabut: 43)

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.

(QS. Al-Fathir: 28).

 

Akan tetapi, dalam perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer, ada banyak sekali ilmuwan yang lebih memilih jalan agnostisisme, yaitu suatu pandangan bahwa manusia tidak memiliki landasan rasional (atas dasar ilmu pengetahuan) yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada. Hal ini menjadikan hubungan agama dan sains semakin terpisah dan seringkali mengalami ketegangan. Oleh karena itu, Islam memberikan panduan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan harus dilakukan dalam konteks memahami ciptaan Allah  yang merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya, sebagaimana disampaikan dalam ayat-ayat yang pertama kali diturunkan, bahwa dalam “membaca” realitas (alam semesta beserta isinya) harus dilakukan atas nama Allah.

 

Metodologi Pemahaman al-Quran untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Dalam sejarah, ummat Islam menghasilkan inovasi metodologis yang cukup kaya dalam menafsirkan al-Quran. Ummat Islam telah mengembangkan banyak pendekatan untuk memahami al-Quran, kitab suci yang yang menjadi panduan hidup mereka. Al-Jabiri kemudian mensintesiskan menjadi 3 pendekatan epistemologis dalam memahami al-Quran, yaitu:

  1. Bayani, yaitu metode pemahaman al-Quran yang didasarkan pada makna teks al-Quran. Oleh karena itu, pendekatan ini meniscayakan pengetahuan yang mendalam tentang kaidah-kaidah bahasa Arab.
  2. Burhani, yaitu metode pemahaman al-Quran yang menggunakan pendekatan rasional argumentatif melalui instrumen logika (induksi, deduksi, abduksi, simbolik, proses, dan lain-lain). Pendekatan ini menjadikan teks al-Quran dan realitas (alam semesta beserta isinya) sebagai sumber kajian, dan menghubungkan keduanya menjadi sebuah interpretasi untuk mendapatkan pengetahuan atau kebenaran. Realitas yang dimaksud di sini mencakup realitas alam (kawniyyah), realitas sejarah (tarikhiyyah), realitas sosial (ijtima’iyyah) dan realitas budaya (tsaqafiyyah). Pendekatan yang menghubungkan teks al-Quran dan realitas (konteks) berada dalam satu wilayah yang saling memengaruhi. Teks tidak berdiri sendiri, Ia saling terikat dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus dari mana teks itu dibaca dan ditafsirkan.
  3. Irfani, yaitu pedekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin, dzawaq (kehadiran hati dengan mengingat Allah terus-menerus), qalb (hati), wijdan (ungkapan lisan dari perasaan), bashirah (kekuatan manusia yang mampu menggerakkan jasmani dan ruhani) dan intuisi. Adapun metode yang digunakan meliputi manhaj kasyfi (sanubari) dan manhaj iktisyafi. Manhaj kasyfi, manhaj ini tidak menggunakan indra atau akal, tapi melalui mujahadah dan riyadlah. Manhaj iktisyafi disebut juga al-mumtasilah (analogi), yaitu menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi.
Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (4)

 

Di antara Kaum Muslim kontemporer terdapat keinginan kuat untuk mengusung gagasan al-tafsir bi al-ilmi, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pendekatan ilmiah atau menggali kandungan al-Qur’an berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan. Hal ini cukup relevan dengan pendekatan burhani yang bisa menjadi entry point yang produktif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Tafsir ilmiah ini dikategorikan dalam al-Tafsir bi al-ra’yi, yaitu tafsir yang berdasarkan pemikiran, bukan dikategorikan al-Tafsir bi al-Ma’tsur, yaitu tafsir yang berdasarkan riwayat. Dalam konteks ilmu tafsir pada umumnya, tafsir ilmiah ini memang agak kontroversial. Di satu sisi, al-Quran memang menganjurkan ummat beriman untuk selalu melakukan pengamatan terhadap alam dan menggunakan akal, agar tumbuh ilmu pengetahuan untuk bisa membaca tanda-tanda kekuasaan Allah. Sementara itu, di sisi yang lain, al-Quran merupakan wahyu Allah yang tidak tunduk dengan teori-teori ilmu pengetahuan yang bersifat relatif. Juga, al-Quran memang bukan merupakan kitab sains.

Akan tetapi, al-Quran sendiri memang bersifat sangat luwes: ia bisa menginspirasi penemuan sains, meneguhkan penggunaan akal, mengkonfirmasi kebenaran sains, memberikan motivasi keilmuan, dan juga sebagai transendensi keilmuan. Oleh karena itu, ummat Islam bisa memanfaatkan peluang ijtihad yang memang disediakan oleh agama (Islam) sebagai salah satu koridor untuk berinteraksi dengan hal-hal kontemporer, termasuk sains modern. Tafsir bi al-ilmi dengan beberapa batasan bisa dimanfaatkan untuk memberikan spirit dan guidance bagi masyarakat muslim kontemporer dalam berinteraksi dengan sains modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?