Narasi
Sains

Al-Quran dan Sains Modern (3)


Bagian 3 dari 4 bagian

 

Dikotomi Ilmu Pengetahuan

Persoalannya adalah, “ilmu yang manakah yang wajib dicari atau diperoleh oleh setiap Muslim itu? Apakah ada bentuk ilmu khusus, atau ada ilmu prioritas?”. Dari sinilah lantas setiap kelompok mengklaim pendapatnya sendiri. Para ahli kalam mengakui belajar ilmu kalam merupakan kewajiban yang dituntut (di-fardhukan), sedang ahli fiqh juga demikian, bahwa ilmu yang diwajibkan adalah ilmu fiqh. Dan kelompok ahli tafsir dan juga ahli hadis mengakui kewajiban yang ditentukan adalah tafsir dan hadis. Demikian juga ahli tasawuf dan seterusnya. Dalam hal ini Al-Ghazali menghimpun sekitar 20 pendapat yang berbicara tentang ilmu yang difardhukan ini (lihat Al-Ghazali, 1975, I: 15, lihat pula Sunan Ibn Majjah, I: 98).

 

Al-Ghazali sendiri lalu involved terhadap penggolongan ilmu tersebut, sehingga ia sangat populer dengan pembagiannya mengenai “ilmu agama dan non agama”, ilmu yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah”, “ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela” (Al-Ghazali, 1975: 28). Sebagaimana yang dikutip oleh Mahdi Ghulsyani (1991: 43), Shadrudddin Syirazi dalam komentarnya terhadap “wajib bagi setiap Muslim”, menuturkan:

  1. Bahwa kata ilmu di sini mengandung makna yang luas dan umum (generik) yang mencakup spektrum arti yang telah digunakan dalam sunnah Nabi. Hadis tersebut bermksud untuk menetapkan bahwa tingkat ilmu apapun seorang Muslim harus berjuang untuk mengembangkan lebih jauh;
  2. Hadis tersebut mengisyaratkan makna bahwa seorang Muslim tidak akan pernah akan keluar dari tanggung jawabnya untuk mencari ilmu;
  3. Tidak ada lapangan pengetahuan atau sains yang tercela atau jelek dalam dirinya sendiri; karena ilmu laksana cahaya yang selalu dibutuhkan. Ilmu dianggap tercela karena akibat-akibat tercela yang dihasilkan.
Baca Juga:   Evolusi Manusia, Agama, Sains, dan Tuhan

Banyak para ahli belakangan ini yang tidak sependapat dengan klasifikasi ilmu yang dikhotomis yang dibuat oleh Al-Ghazali. Ghulsyani sendiri misalnya mengatakan, bahwa ilmu yang wajib dicari oleh setiap Muslim adalah ilmu yang menyangkut posisi manusia pada hari akhirat dan yang mengantarkan kepada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabi-Nya, utusan-utusan-Nya, sifat-sifat-Nya, hari akhirat dan hal-hal yang menyebabkan dekat dengan-Nya (Ghulsyani, 1991: 44).

Murthadha Muthahhari dengan benar telah menunjukkan bahwa klafisikasi yang dikotomis itu bisa menyebabkan miskonsepsi, bahwa “ilmu non-agama” terpisah dari Islam dan nampak tidak sesuai dengan keuniversalan agama Islam. Kelengkapan dan kesempurnaan Islam, sebagai suatu agama menuntut agar setiap lapangan ilmu yang berguna bagi masyarakat Islam dianggap sebagai bagian dari kelompok “ilmu agama” (Ghulsyani, 1991:44 dan lihat juga Ahmad Anwar Anees, 1991:77, Abdul Halim Mahmud, 1979: 47).

 

Dan tepatlah apa yang dikatakan oleh Al-Qardhawi (1989: 99-100), bahwa ilmu yang wajib dipelajari setiap Muslim adalah ilmu yang diperlukan dan yang dituntut oleh agama dan dunianya. Persoalan apakah jenis ilmunya, adalah hal baru yang tidak membawa segi ibadah. Yang penting sesungguhnya adalah essensinya, label dan nama bukanlah persoalan. Ghulsyani (1991:44-46) dapat menunjukkan, bahwa konsep ilmu secara mutlak muncul dalam maknanya yang generik dengan bukti al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai berikut ini: “Katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Al-Zumar: 9); “Dia mengajarkan manusia apa yang belum ia ketahui” (QS. Al-‘Alaq: 5); “Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama, kemudian mengemukakannya kepada Malaikat dan berfirman: ‘sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang yang benar” (QS. Al-Baqarah:31). Lihat juga misalnya surat Yusuf: 76, Al-Nahl: 70 dan hadis Nabi: “Barang siapa yang pergi untuk mencari ilmu maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga”; “Orang yang paling berharga adalah orang yang paling banyak ilmunya”; Nabi Sulaiman memandang bahwa pengetahuan bahasa burung (binatang) sebagai rahmat atau kemurahan Allah (lihat Q.S Al-Naml: 15-16). Dan sangat jelas bahwa Cina pada saat itu bukan pusatnya studi ilmu agama Islam, akan tetapi lebih terkenal dengan industrinya.

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern (2)

Dalam Islam, batasan untuk mencari ilmu adalah bahwa orang-orang Islam harus menuntut ilmu yang berguna dan melarang mencari ilmu yang bahayanya lebih besar daripada manfaatnya (ilmu sihir, forkas dan sebagainya), sebagaimana sabda Nabi: “sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat” (Ghusyani,1991:44, dan bandingkan dengan Al-Qardhawi, 1989: 31-32).

 

Bagi penulis sendiri memang persoalannya bukan “ilmu agama” dan “non agama”, tetapi lebih kepada “kepentingan”, untuk apa ilmu tersebut (karena ilmu sebagai instrumen, bukan tujuan). Dan apalagi jika kita sepakat, pada dasarnya sumber ilmu itu dari Allah. Jadi terminologi “ilmu agama” dan “ilmu umum, non agama” itu peristilahan sehari-hari dalam pengertian sempit saja. Hanya memang, pertama-tama kita harus punya prioritas bahwa sebagai seorang Muslim harus menguasai ilmu yang berkaitan langsung dengan ibadah mahdhah itu, misalnya ilmu tentang shalat, puasa, zakat, haji dan seterusnya, yang ilmu tersebut sering disebut ilmu syar’iah/fiqh; dan ilmu tentang ketuhanan/keimanan kepada Allah SWT, yang ilmu tersebut sering disebut sebagai ilmu tauhid/ kalam. Ilmu-ilmu inipun sebetulnya jika dipahami secara mendalam dan kritis tampak sangat berkaitan dan tak terpisahkan dengan ilmu-ilmu yang selama ini disebut “ilmu umum” itu, misalnya ilmu sosial dan humaniora dan juga ilmu alam. Karena semua sistem peribadatan (al-’ibadah, worship) didalam Islam mengandung dimensi ajaran yang tidak lepas dari hubungan antara Allah SWT sebagai Zat pencipta (al-Khaliq) dan manusia atau alam sebagai yang dicipta (al-makhluq). Dan hubungan ini dalam al-Qur’an disebut sebagai hablun min Allah wa hablun min al-nas, hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Di sini rukun iman dalam ajaran Islam lebih berorientasi pada hubungan vertikal, manusia dengan Allah atau yang ghaib, sedang rukun Islam lebih berorientasi pada hubungan horizontal antara manusia dengan manusia yang lain ataupun alam semesta. Tetapi keduanya (iman dan Islam) tak dapat dipisahkan tak ubahnya seperti hubungan ilmu dan amal.

Baca Juga:   Islam dan Etika Sains

 

Pada akhirnya semua harus bermuara pada konsep “tauhid”, kesadaran Yang Kudus. Oleh ebab itu Al-Ghazali juga benar ketika mengatakan, bahwa ilmu muamalah (karena ia juga membagi ilmu yang mukasyafah) yang pertama diwajibkan bagi orang mukallaf adalah ilmu tauhid, yaitu belajar dua kalimat syahadat meskipun dengan taklid, kemudian setelah itu belajar thaharah dan shalat (fiqh) (Al-Ghazali, 1975, I, : 25).

Pemikir Islam abad duapuluh khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu dalam dua katageri: (1) Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam al-Qur’an dan al-Hadis serta segala yang dapat diambil dari keduanya; (2) Ilmu yang dicari (inquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya (teknologi) yang dapat berkembang secara kualitatif (Quraish Shihab, 1992: 62-63).


Bagian 3 dari 4 bagian

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?