Narasi
Sains

Al-Quran dan Sains Modern (2)


Bagian 2 dari 4 bagian

Motivasi Al-Quran terhadap Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan

Menurut Quraish Shihab (1992:41), membahas hubungan al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran-kebenaran teori ilmiah, melainkan pembahasan hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian al-Qur’an dan sesuai dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri. Menurut Shihab, mewujudkan iklim ilmu pengetahuan jauh lebih penting dari pada menemukan teori ilmiah, karena tanpa mewujudkan iklim ilmu pengetahuan, para ahli yang menemukan teori tersebut akan mengalami nasib seperti Galileo yang menjadi korban hasil penemuannya (Shihab, 1992: 44).

Jadi, kembali kepada penafsiran ayat al-Qur’an atau juga Al-Hadis, sesungguhnya kita hendak mengatakan bahwa nas-nas itu memiliki perhatian besar terhadap ilmu, bahwa agama (Islam) itu memiliki ruh, concern terhadap ilmu dan sikap keilmuan. Dan seperti yang disebutkan oleh Kuntowijoyo (1991:329-331), bahwa kita ini ingin membangun paradigma al-Qur’an dalam rangka memahami realitas dengan berusaha semaksimal mungkin untuk menempatkan preposisi-preposisi al-Qur’an tetap sebagai “unsur konstitutif” yang sangant berpengaruh. Ini yang terpenting.

Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12 tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh sinar al-Qur’an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua, karena pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan atau filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulturasi budaya antar mereka (bandingkan dengan Ghallab: 121). Mengenai pergumulan dan akulturasi budaya tersebut memang ditunjang oleh ajaran Islam itu sendiri yang inklusif, terbuka.

 

Averroes (ibn Rusyd), seorang ilmuwan Muslim abad pertengahan

Dalam sejarahnya belum pernah ada agama yang menaruh perhatian sangat besar dan lebih mulia terhadap ilmu kecuali Islam. Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama yang lain adalah perhatiannya kepada ilmu dan ilmuwan. Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu, ilmuwan pun mendapatkan perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur (untuk ini lihat Abdul Halim Mahmud, 1979: 61-62).

Baca Juga:   Tafsir Saintifik 1

Dalam al-Qur’an, kata ‘ilm dan kata jadiannya disebutkan kurang lebih mencapai 800 kali. Al-Qardhawi dalam penelitiannya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Karim (lihat Fuad Abdul Baqi, tt.:469-481) melaporkan, bahwa kata ‘ilm (ilmu) dalam al-Qur’an baik dalam bentuknya yang definitif (ma’rifat) maupun indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata yang berkait dengan itu seperti kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka menegetahui), ‘alim (sangat tahu) dan seterusnya, disebutkan beratus-ratus kali. Kata ‘aql (akal) tidak terdapat dalam bentuk nomina, kata benda (mashdar), tetapi yang ada adalah kata al-albab sebanyak 16 kali. Dan kata al-nuha sebanyak 2 kali. Adapun kata yang berasal dari kata ‘aql itu sendiri berjumlah 49. Kata fiqh (paham) muncul sebanyak 2 kali, kata hikmah (ilmu, filsafat) 20 kali, dan kata burhan (argumentasi) sebanyak 20 kali. Belum termasuk kata-kata yang berkaitan dengan ‘ilm atau fikr seperti kata unzhuru (perhatikan, amatilah, lihatlah), yanzhurun (mereka memperhatikan, mereka mengamati dan seterusnya) (Al-Qardhawi, 1986:1-2).

Selain itu, jika kita telaah kitab-kitab hadis, semuanya penuh dengan kata-kata ‘ilm tersebut. Dalam kitab al-Jami’ al-Shahih karya Al-Bukhari kita dapati 102 hadis. Dalam Shahih Muslim dan yang lain seperti al-Muwatha’, Sunan al-Tirmizi, Sunan Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah terdapat pula bab ilmu. Belum lagi kitab-kitab yang lain, misalnya Al-Faturrabbani yang memuat sebanyak 81 hadis tentang ilmu, Majma’ az-Zawaid memuat 84 halaman, al-Mustadrak karya An-Naisaburi memuat 44 halaman, al-Targhib wa ‘l-Tarhib karya Al-Wundziri memuat 130 hadis sedangkan kitab Jam’ al Fawaid Min Jami’ al-Ushul wa Majma’ alZawaid karya Sulaiman memuat 154 hadis tentang ilmu tersebut (Al-Qardhawi, 1986, lihat juga Weinsink, al-Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Hadits al-Nabawi, Leiden, 1962: 312-339).

Baca Juga:   Al-Quran dan Sains Modern

 

Membaca al-Quran

Beberapa ayat pertama yang diwahyukan Muhammad s.a.w. menandaskan pentingnya membaca, menulis dan belajar-mengajar. Allah menyeru: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-Alaq: 1-5).

Sebagaimana yang dituturkan oleh Thanthawi Jauhari (1350 H: 217), bahwa bertambahnya kemuliaan itu adalah karena ilmu, dan Allah adalah Zat yang menyebarkan dan mengajarkan ilmu itu dengan pena. Tidakkah menakjubkan, bahwa Nabi adalah seorang ummi, sementara surat pertama kali yang diturunkan menyangkut masalah “pengajaran” dan “pena”? Dan bagaimana kemudian Nabi itu memelihara ilmu dengan menyuruh kepada para sahabat untuk mencatat dan menyebarluaskan kepada yang lain? Bukankah perkembangan ilmu pengetahuan begitu meluas setelah keutusan Nabi?

Sebagian ahli tafsir berpendapat, ar-Razi misalnya, bahwa yang dimaksud dengan “iqra” dalam ayat pertama itu berarti “belajar” dan “iqra” yan kedua berarti “mengajar”. Atau yang pertama berarti “bacalah dalam shalatmu” dan yang kedua berarti “bacalah di luar shalatmu” (Binti Syathi’, 1968:20. Bandingkan dengan Jawad Maghniyah 1968: 587, Abdul Halim Mahmud, 1979:55-56). Zamakhsyari berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “qalam” adalah “tulisan”. Karena tanpa tulisan semua ilmu tidak dapat dikodifikasikan, seandainya tidak ada tulisan maka tidaklah tegak persoalan agama dan dunia (Mahmud, 1979:23 lihat juga Abu Hayan, tt.: 492).

 

Dan tentang penciptaan alam, al-Qur’an menjelaskan bahwa Malaikat pun diperintahkan untuk sujud kepada Adam setelah Adam diajarkan nama-nama: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malikat dan berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar’. Mereka menjawab: ‘Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah: 31-32).

Baca Juga:   Tafsir Saintifik 2

Al-Qur’an juga menandaskan, bahwa tidaklah sama antara mereka yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui: “Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetaui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah orang yang dapat menerima pelajaran” (QS. Ak-Zumar: 9); “Dan perumpaan ini kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (QS. Al-Ankabut: 43); “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama” (QS. Al-Fathir: 28). Dan masih banyak lagi ayat al-Qur’an yang mwenyinggung masalah yang berkaitan dengan ilmu itu.

Dalam Hadis Nabi juga disebutkan antara lain: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam” (HR. Ibn Majah); “Barang siapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Bukhari dan Muslim); “Carilah ilmu walau sampai di negeri Cina” (Hadis ini sanatnya dhaif, tetapi matannya populer [lihat catatan kaki Ihya’ Ulumuddin, 1975, juz 1: 15]); “Kalimat hikmah (ilmu) itu bagaikan (barang) hilangnya orang Mukmin. Dimana pun orang menemukan, maka ia lebih berhak atasnya” (Hadis ini sanadnya dhaif, tetapi maknanya shahih [Al-Qardhawi, 1989: 56]); “Wahai sekalian manusia belajarlah. Ilmu hanya diperoleh melalui belajar” (HR. Ibn Abi ‘Ashim dan At-Thabrani); “Para ulama’ itu adalah pewaris para Nabi” (HR. Ibn Majjah). Dan masih banyak lagi hadis yang menyebutkan tentang hal ini. Hanya di sini ada persoalan yang cukup menjadi perhelatan pagi para ahli (ulama’).


Bagian 2 dari 4 bagian

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?