Narasi
Agama

Agama sebagai Kritik Sosial

Sejarah agama-agama samawi membuktikan bahwa agama selalu berawal dari kritik sosial. Para Nabi yang diutus oleh Allah untuk membawa risalah keagamaan itu selalu terlibat dalam kritik sosial masyarakatnya. Agama seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, misalnya, muncul sebagai gugatan sekaligus alternatif bagi aneka praktek sosial yang membelenggu, moral yang bobrok, budaya yang korup, dan sistem kesadaran yang palsu. Agama serentak adalah sumber inspirasi, energi, dan visi yang menawarkan alternatif segar bagi praktek dan pemaknaan hidup lahir-batin penganutnya.

Dengan pesan kuat etika monoteisme, agama Yahudi muncul buat mendobrak tirani dan perbudakan Mesir Kuno yang keji. Kristen lahir dengan altruisme cinta kasih universal yang melarutkan dekadensi kerahiban Yahudi dan legalisme beku Romawi. Sedangkan Islam, dengan pesan humanisme dan emansipasi transendental, datang untuk melawan materialisme, hedonisme, dan tribalisme Arab yang buta pada keadilan dan kesederajatan. Pendeknya, sesuai dengan konteks zaman kelahirannya masing-masing, agama-agama itu hadir sebagai kritik atas rupa-rupa penyimpangan sejarah kemanusiaan. Kritik sosial ini menjadi salah satu peran agama yang sangat penting dalam sejarah semua agama itu.

 

Alat Legitimasi dan Media Alienasi

Dalam perkembangan berikutnya, sepeninggal para Nabi, agama seringkali dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan. Para penguasa seringkali memanipulasi agama sebagai alat legitimasi kekuasaan. Raja Konstantin dari Romawi menggunakan legitimasi Kristen untuk menghabisi musuh-musuh politiknya. Bangsa-bangsa Kristen Eropa juga menggunakan legitimasi agama untuk menggelorakan kolonialisme di seluruh dunia dengan semboyan gold, glory, and gospel, sehingga mengakibatkan eksploitasi bangsa-bangsa Dunia Ketiga selama berabad-abad. Kaum Yahudi Ortodoks menggunakan legitimasi agama Yahudi untuk mendirikan negara Israel, sehingga mengakibatkan kenestapaan bagi bangsa Palestina. Rezim Taliban menggunakan legitimasi Islam untuk menindas lawan-lawan politik di Afghanistan beberapa tahun yang lalu. Kelompok-kelompok ekstremis dari semua agama juga seringkali memanipulasi agama untuk membenarkan tindakan keji mereka.

Baca Juga:   Iman dan Etos Kerja

Di sisi yang lain, agama juga seringkali menjadi media alienasi (mengasingkan diri dari kehidupan dunia) di tengah hiruk pikuk masalah sosial yang seharusnya menjadi ladang bagi peran agama dalam kehidupan sosial. Akibatnya, agama seringkali dituduh sebagai candu dan dinistakan sebagai salah satu ciri masyarakat primitif.

Peran agama mengalami titik balik seperti itu karena agama hanya dimaknai sebagai sederetan hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang asosial. Agama dikebiri sebagai seperangkat doktrin plus doa atau mantra-mantra di tengah timbunan berbagai kemelut sosial. Bahkan, doktrin-doktrin itu menjadi argumen yang tak bisa didialogkan, menegasikan adanya pendapat lain, serta menuntut orang lain mengikuti doktrin-doktrin yang mereka yakini, meskipun dilakukan dengan kekerasan.

 

Al-Quran sebagai Kritik

Dalam rentang sejarah ummat Islam, Islam telah tampil sebagai garda terdepan sebagai kritik sosial. Di negeri ini, jauh sebelum kemerdekaan, Islam menjadi jangkar perlawanan terhadap kolonialisme sampai negeri ini berhasil merebut kemerdekaan. Ummat Islam juga menjadi garda terdepan dalam perang kemerdekaan. Dalam melawan komunisme, ummat Islam juga menjadi garda terdepan dalam melawan ideologi anti-Tuhan itu. Hal ini berarti Islam telah memainkan peran signifikan sebagai kritik sosial.

Meskipun demikian, zaman sudah berubah. Tantangan zaman juga berkembang sangat dinamis. Akan tetapi, ada banyak poin-poin penting di dalam al-Quran yang tetap relevan sebagai kritik sosial era kontemporer.

 

A. Kritik terhadap Atheisme dan Agnostisisme

Pencapaian ummat manusia dalam bidang ekonomi, teknologi, dan ilmu pengetahuan sampai saat ini sudah sangat pesat. Hal ini, tentunya, memupuk rasa percaya diri yang semakin tinggi, bahkan mungkin sudah mencapai titik kesombongan, sehingga manusia sudah mulai meninggalkan Tuhan, bahkan tidak mempercayai-Nya. Maka, muncullah ideologi-ideologi anti-Tuhan, seperti atheisme dan agnostisisme. Mengenai hal ini, al-Quran memberikan kritik sebagai berikut:

 

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Baca Juga:   Khairu Ummah (Ummat Terbaik)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. al-Jatsiyah/45: 23)

 

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu cara untuk menemukan Tuhan melalui ayat-ayat Allah yang tercipta (alam semesta). Jagad raya yang sedemikian komplek ini pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya, yaitu Tuhan. Kalaupun ada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, sesungguhnya mereka pun tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalaupun ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan bukan berarti Tuhan tidak ada, karena ada banyak sekali hal yang tidak atau belum dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Mereka sesungguhnya sedang menjadikan ego mereka sendiri sebagai Tuhan. Mereka terjebak dengan definisi-definisi yang mereka kembangkan sendiri, sehingga semakin menjauhkan diri dari fitrah kemanusiaan.

 

B. Kritik terhadap Hedonisme/Materialisme

Materialisme menjadi gejala yang semakin banyak dialami manusia modern, sehingga mereka akhirnya bersifat hedonistik (berkemewahan). Bahkan, budaya materialisme ini ditanamkan kepada anak cucu mereka, sehingga sistem pendidikan diarahkan untuk sepenuhnya untuk memenuhi hasrat materialisme ini, dan mengabaikan pendidikan iman dan akhlaq dalam pendidikan. Hal ini dikritik di dalam al-Quran:

 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (Q.S. al-Nisa’/4: 9)

 

Sistem pendidikan yang sepenuhnya berorientasi materialisme hanya akan menghasilkan predator-predator cerdas yang merusak lingkungan dan mengakali sistem untuk memperkaya diri sendiri melalui budaya korupsi. Hal ini meniscayakan bahwa manusia harus terus-menerus merevitalisasi pendidikan nilai agar sistem pendidikan kembali ke esensi fitrah kemanusiaan.

Baca Juga:   Agama sebagai Kritik Sosial

 

C. Kritik terhadap Kesalehan Egoistik

Ummat Islam saat ini sudah menjadi terdidik dan semakin makmur. Seriring dengan kemakmuran itu, kesalehan pun semakin meningkat: masjid-masjid dibangun lebih megah, jamaah haji semakin banyak (bahkan pemberangkatannya pun antri sampai balasan tahun), kegiatan-kegiatan keagamaan pun banyak digelar secara berkemewahan. Akan tetapi, sampai saat ini pun masih ada (bahkan semakin banyak) masyarakat yang miskin, anak-anak mereka tak bisa bersekolah secara layak. Hal ini merupakan 2 kondisi yang sangat kontras. Al-Quran memberikan kritik yang tajam:

 

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ – فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ – الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ -الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ – وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan (Q.S. al-Ma’un/107: 1 – 7)

 

Ada banyak sekali kritik sosial di dalam al-Quran. Hal ini perlu dieksplorasi lebih jauh melalui kajian al-Quran. Al-Quran diturunkan sebagai hidayah, bukan untuk seremonial mantra-mantra.

 

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Q.S. Muhammad/47: 24)

 

Wahyu al-Quran tidak diturunkan dalam sekali jadi. Ia diturunkan setahap demi setahap untuk merespons persoalan dan dinamika ummat manusia. Sementara itu, dinamika sosial saat ini memiliki dimensi yang berbeda dengan permasalahan sosial pada saat wahyu diturunkan. Oleh karena itu, ummat Islam harus melakukan ijtihad berdasarkan teks-teks suci al-Quran.

 


Tema 5: Islam sebagai Kritik Sosial
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?