Narasi
Agama

Teologi Pangan

Makanan (dalam artikel ini termasuk minuman) merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup demi kelangsungan hidup mereka. Allah menyediakan bahan-bahan yang cukup di alam ini untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup di muka bumi. Akan tetapi, khusus bagi manusia, Allah memberikan petunjuk yang lebih spesifik dalam urusan makanan. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam makanan terkandung sesuatu yang sangat penting bagi manusia.

 

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya

(Q.S. ‘Abasa [80]: 24)

Kekhususan makanan bagi manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya tidak hanya dipandu melalui al-Quran. Secara historis-antropologis pun, ketika manusia mulai melakukan domestikasi terhadap hewan untuk diternakkan, manusia memberi pakan bagi hewan ternaknya dengan bahan pakan yang berbeda dari bahan pangannya sendiri. Artinya, secara naluri kemanusiaan, manusia membedakan makanannya sendiri dengan makanan yang diberikan kepada hewan ternak mereka.

Allah memberikan panduan secara langsung di dalam al-Quran tentang makanan yang bisa dimakan oleh manusia. Karena pentingnya makanan bagi manusia, al-Quran menyebut istilah makanan (dalam bahasa Arab disebut tha’am) sebanyak 48 kali. Pada prinsipnya, makanan yang bisa dikonsumsi oleh manusia ialah makanan yang bersifat halalan thayyiban (halal dan tayyib).

 

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 88)

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu

(Q.S. al-Baqarah [2]: 168)

 

Makna halal ialah dibolehkan oleh agama, sementara thayyib bermakna baik bagi tubuh manusia, misalnya bersih, higienis, bermanfaat bagi kesehatan, dan tidak membahayakan bagi tubuh manusia. Hal ini berarti bahwa dalam hal makanan, halal saja tidak cukup, melainkan juga harus thayyib.

Istilah halal ber-oposisi binner dengan istilah haram. Masing-masing konsep ini mengandung konsekuensi logis: sesuatu yang halal mengandung kebaikan, dan sesuatu yang haram mengandung keburukan, termasuk dalam hal makanan. Artinya, makanan yang halal memiliki kemanfaatan yang baik bagi manusia, sementara makanan yang haram memiliki kemudlaratan (keburukan) bagi manusia. Agama memberi koridor yang sangat jelas dalam hal ini.

 

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung

(Q.S. al-A’raf [7]: 157)

 

Makanan Halal

Dalam fiqh Islam, ada beberapa batasan tentang makanan halal, yaitu bahwa makanan yang halal harus memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut:

  • Halal Zatnya

Makanan harus terbuat dari bahan yang halal pula, tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan oleh syariat agama. Misalnya makanan yang terbuat dari gandum, atau susu, atau telur, dan lain-lain.

  • Halal Cara Mendapatkannya
Baca Juga:   Tauhid sebagai Basis Etika Sosial

Makanan juga harus didapatkan dengan cara yang halal pula. Sesuatu yang halal tetapi didapatkan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama (seperti mencuri, menipu, merampas, dan lain-lan) akan menjadi haram.

  • Halal Proses Pengolahannya

Makanan juga harus melalui proses pengolahan yang dibenarkan oleh agama. Misalnya, untuk mendapatkan daging sapi, maka sapi harus disembelih terlebih dahulu sesuai dengan tuntunan agama.

Al-Quran dan Hadits Nabi juga mengulas beberapa bahan makanan halal yang baik dikonsumsi manusia. Hal ini dimaksudkan sebagai penegas bagi keragu-raguan atas kehalalan bahan makannan itu.

 

Semua Makanan Halal, Kecuali yang Diharamkan

Dalam fiqh Islam, pada prinsipnya semua makanan di dunia ini hukumnya halal, kecuali diharamkan oleh agama, sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran:

 

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu

(Q.S. al-Baqarah [2]: 29)

 

Binatang Ternak

Binatang ternak, seperti kerbau, sapi, unta, kambing, domba, dan lain-lain, diulas dalam al-Quran sebagai bahan makanan halal.

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 1)

 

Binatang yang Hidup di Laut/Air.

Semua binatang yang hidup di laut atau di air merupakan bahan makanan yang halal, meskipun sudah mati, sebagaimana Hadits Nabi: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Imam Empat).

 

اُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهٗ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۚوَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗوَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (kembali)

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 96)

 

Meskipun demikian, jika binatang laut itu beracun atau membahayakan kehidupan manusia, maka hukumnya bisa menjadi haram, sampai racunnya bisa dibersihkan.

 

Ikan dan Belalang

Ikan dan belalang juga diulas secara khusus sebagai bahan makanan yang halal, sebagaimana hadits Nabi: “Dihalalkan kepada kita dua bangkai, yaitu ikan dan belalang” (HR. Ibnu Majah)

 

Binatang Hasil Buruan dari Hutan

Sebagian orang biasanya berburu dengan ditemani oleh binatang yang terlatih untuk berburu. Binatang yang merupakan hasil perburuan yang dilakukan oleh binatang terlatih itu juga halal dimakan.

 

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَآ اُحِلَّ لَهُمْۗ قُلْ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللّٰهُ فَكُلُوْا مِمَّآ اَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ”Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 4)

 

Makanan yang Diharamkan

Al-Quran memberikan panduan yang cukup detail tentang makanan dan bahan makanan yang diharamkan. Penjelasannya tersebar dalam beberapa ayat dalam al-Quran.

 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Baca Juga:   Islam Berkemajuan di Indonesia

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 3)

 

Bangkai (al-Maitah)

Sebagaimana ayat di atas, bangkai merupakan salah satu bahan makanan yang diharamkan. Dalam ayat tersebut, tubuh hewan yang dikategorikan bangkai ialah sebagai berikut:

bangkai dan diharamkan untuk dimakan apabila ada hewan yang mati secara tidak wajar atau tanpa melalui proses penyembelihan yang disyariatkan dalam ajaran islam, seperti :

  • Hewan yang mati dalam keadaan tercekik
  • Hewan yang mati karena dipukul dengan menggunakan suatu benda
  • Hewan yang mati karena terjatuh dari ketinggian
  • Hewan yang mati karena tertanduk oleh hewan lainnya
  • Hewan yang mati karena diterkam oleh binatang buas
  • Hewan yang disembelih bukan atas nama Allah (juga dikuatkan dalam surah al-An’am [6]: 121)

 

Darah

Sebagaimana ayat di atas, darah termasuk bahan makanan yan diharamkan. Mengolah darah untuk dijadikan sebagai bahan makanan merupakan kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu. Dalam konstruksi sains modern, analisis kimia menunjukkan bahwa darah mengandung uric acid (asam urat) dengan kadar yang cukup tinggi, sehingga apabila dikonsumsi akan berbahaya bagi kesehatan.

Akan tetapi, sebagaimana ayat berikut ini, darah yang diharamkan adalah darah yang mengalir dan dijadikan bahan makanan. Dengan demikian, darah-darah sisa yang masih menempal pada daging maupun tulang hewan yang disembelih tidak haram.

 

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi (batas darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang

(Q.S. al-An’am [6]: 145)

 

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah pernah mengatatakan bahwa “Pendapat yang benar ialah bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama yang mengharamkannya.” (dinukil dari al-Mulakhas al-Fiqh).

Di samping itu, Islam juga memberikan beberapa perkecualian tentang keharaman bangkai dan darah, bahwa bangkai ikan dan belalang halal dimakan, serta hati dan limpa juga halal dimakan, sebagaimana Hadits Nabi: “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa” (HR. Ibnu Majah).

 

Babi

Babi juga termasuk ke dalam salah satu bahan makanan yang diharamkan. Tidak hanya dagingnya saja yang diharamkan, tetapi juga seluruh bagian dari tubuh babi yang diolah, baik dalam bentuk makanan maupun produk lainnya, diharamkan untuk dikonsumsi atau dipergunakan.

 

Al-Jallah (Hewan yang Memakan Kotoran)

Semua jenis hewan yang memakan kotoran, baik kotoran manusia maupun kotoran hewan lainnya, diharamkan, sebagaimana Hadits Nabi: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakan jallalah dan susunya” (Hadits Riwayat. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Adapun alasan mengapa Al- jallah diharamkan adalah karena adanya pengaruh dari kotoran yang dimakan hewan-hewan tersebut pada perubahan bau dan rasa dari daging dan susu yang dihasilkan dari hewan-hewan tersebut. Akan tetapi jika pengaruh dari kotoran tersebut telah hilang, maka hukum memakan hewan-hewan tersebut menjadi halal.

Baca Juga:   Khairu Ummah (Ummat Terbaik)

 

Minuman Keras atau Khamar

Minuman keras atau khamar juga termasuk dalam minuman diharamkan. Minuman keras yang dimaksudkan di sini ialah segala jenis minuman yang memabukkan, sebagaimana Hadits Nabi: “Semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” (HR. Muslim).

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung

(Q.S. al-Ma’idah [5]: 90)

 

Minuman keras hanya memberikan mudlarat yang besar, membahayakan kesehatan jasmani, merusak akal, moral, dan aqidah. Oleh karena itu, sikap orang yang beriman ialah menjauhi minuman keras.

 

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

(Q.S. al-Baqarah [2]: 195)

 

Hewan yang Bertaring

Hewan yang bertaring juga diharamkan untuk dimakan, sebagaimana Hadits Nabi: “Rasulullah SAW telah melarang memakan setiap binatang bertaring dari jenis binatang buas dan setiap jenis burung yang berkuku tajam (untuk mencengkram)” (HR. Muslim)

Hadis di atas telah menjelaskan bahwa hukum memakan binatang bertaring dari jenis binatang buas, seperti beruang, anjing, kucing, serigala, harimau, dan lain sebagainya adalah haram hukumnya.

 

Burung yang Berkuku Tajam

Selain hewan yang bertaring, sebagaimana Hadits Nabi di atas, juga diharamkan mengkonsumsi daging dari burung yang memiliki kuku yang tajam seperti burung elang, burung garuda, dan lain sebagainya. Burung-burung tersebut biasanya memanfaatkan kuku-kuku mereka yang tajam untuk keperluan berburu mangsa, yaitu untuk mencengkeram mangsanya.

 

Hewan yang Diperintahkan Agama untuk Dibunuh

Nabi menyebutkan beberapa hewan yang dianjurkan dibunuh, yaitu ular, tikus, anjing hitam, tokek, dan cicak. Hal ini sebagaimana Hadits Nabi sebagai berikut: “Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram, ialah ular, tikus, anjing hitam” (HR. Muslim dan Bukhari); “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya membunuh tokek dan cicak” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karenanya, semuanya diharamkan untuk dimakan.

 

Hewan yang Dilarang Agama untuk Dibunuh

Ada beberapa hewan yang dilarang untuk dibunuh, yaitu semut, tawon, burung hud-hud, burung surad, dan katak, sebagaimana Hadits Nabi: “Rasulullah melarang membunuh 4 hewan: semut, tawon, burung hud-hud, dan burung surad” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban); “Seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuhnya” [HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Al-Hakim, dan Baihaqi). Oleh karenanya, semuanya diharamkan untuk dimakan.

 


 

Perhatian serius terhadap kehalalan makanan ini sangat penting bagi keselamatan manusia dalam kehidupan akhirat kelak, sebagaimana Hadits Nabi: “Tidak akan masuk surga siapa saja yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram. Neraka lebih utama untuknya” (HR. Ahmad). Meskipun demikian, aturan ini pun masih meniscayakan perkecualian dalam kondisi terpaksa, sebagaimana ayat al-Quran:

 

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang

(Q.S. al-Baqarah [2]: 173)

 

Saat ini, pertumbuhan kemakmuran dalam masyarakat Muslim telah menjadikan mereka menjadi masyarakat konsumsi, yaitu masyarakat yang memiliki daya beli yang tinggi dan bisa memilih barang-barang konsumsi yang mereka inginkan. Oleh karena itu, masyarakat Muslim harus bisa memilih dan memilah makanan yang sesuai dengan prinsip halal dan thayyib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kirim Pesan
Assalamu'alaikum. Ada ikan di balik batu, apa yang bisa dibantu?